Dengar, Tunduk, Taat

lovely-fleurs

Islam bukan agama prasmanan…

Yang bisa kita ambil mana yang kita suka.

Yang bisa kita pilih mana yang sesuai dengan hawa nafsu kita.

Yang bisa kita tinggalkan kala mengusik ego dan perasaan kita.

Tidak ada tapi-tapian dalam masalah syari’at.

Tidak ada hujjah yang lebih kuat dari hadits dan ayat.

Dengar, tunduk, ta’at.

Semampu kita. Sejauh apa yang kita bisa.

Setidaknya jika belum mampu, jangan diingkari. Jangan didustakan.

Karena mendustakan satu ayat saja berat konsekuensinya.

Jika memang belum mampu, akuilah.

Tapi bukan terus menerus memberi excuse “still in process”.

Mampukan diri, lawan hawa nafsu dan bisikan syaithan itu.

Jangan mau tertinggal jauh di belakang.

Persiapkan diri untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Jangan banyak minta dimaklumi atau diberi udzur.

Jangan banyak minta dukungan sana sini untuk membenarkan suatu kesalahan.

Sifat seorang mu’min ketika dibacakan ayat dan hadits itu,

“Sami’na wa atha’na”…

Kami dengar dan kami taat.

Bukan kami dengar dan kami pikir-pikir dulu…

Kalau sesuai dengan hawa nafsu, kami terima.

Kalau tidak, ya maaf saja..

I’m sorry goodbye 🙂

 

~ Jakarta, on a rainy morning of January 2017.. #IWriteToRemindMyself ~

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Feedly.com ]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s