Bukan Generasi “Anak Mall”

kokas

Meski lahir, besar dan gaul di Jakarta, jujur aja saya ini jarang banget ke mall. Kalau bisa dihitung, nggak sampai 10 mall Jakarta yang pernah saya jelajahi.

Kalau ke mall, pasti ada tujuannya. Ada yang butuh atau ingin dibeli. Mau beli hape misalnya. Pilihan jatuh pada mall terlengkap dan terdekat dari rumah. Nggak pernah menyengaja berkunjung ke mall yang jauh meski terbilang heitsss dan kekinian.

Mungkin sebagian orang ada yang mengira bahwa jadi anak Jakarta itu enak, banyak mall, banyak tempat-tempat strategis buat ngeceng dan nongkrong.

Tapi buat saya biasa aja. Meski makin banyak mall bermunculan, nggak lantas membuat saya latah jadi “anak mall”. Mungkin karena saya juga nggak terlalu suka keluar rumah kalau memang nggak penting banget ya.. Ehehehe.

For example, after more than 30 years of existence in this city, saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke PIM. Never.

“Whattt? PIM gitu loh? Gag G4UL beuddd dech qamoh..”

Padahal bagi warga Jakarta, PIM itu udah standar mall yang must have visit banget lah. Plus lokasi nggak gitu jauh juga dari rumah. 

“Kok bisa sih belum pernah ke sana?”

“Emang nggak penasaran?”

Penasaran? Alhamdulillah nggak tuh 😀
Padahal sering bolak balik lewat depan PIM, Citos, Gancit.. Tapi karena nggak ada yang mau dibeli di sana, ya ngapain juga mampir. Bingung juga di sana nanti mau ngapain.

Jadi, buat saya ngemol itu kudu ada tujuannya. Mau beli sesuatu atau ada janji ketemu sama teman, misalnya. Bukan cuma karena baru dibangun, karena penasaran,  nggak mau ketinggalan teman yang udah lebih dulu ke sana, atau karena parameter level ke-gahol-an generasi masa kini.

Sekalinya ke Pacific Place ya waktu ngajak anak-anak ke Kidzania tahun lalu. Itu juga habis turun dari Kidza langsung cabssss ke parkiran. Nggak ada acara pengen liat-liat atau sekadar window shopping.

Saya lebih suka jalan-jalan cari buku bekas ke Kwitang, cari kain ke Tanah Abang atau nongkrong di toko buku, daripada hangout dan makan-makan di mall yang lagi ngehits.

I think it’s all about taste. About priority and personality.

Saya, meski anak Jakarta tulen, tetaplah saya. Saya nggak mau terpengaruh budaya nge-mall yang menjangkiti generasi muda Jakarta, bahkan sejak saya remaja.

Selain karena saya anak rumahan yang nggak suka jajan dan jalan, saya juga nggak terlalu suka melakukan hal yang menurut saya bukan prioritas utama. Termasuk hunting tempat nongkrong dan hangout dari mall ke mall.

Seakan kalau belum ke mall anu artinya belum gaul, trus dibilang katrok bin ndeso. Ya, it’s up to them lah mau ngecap ndeso.. Lha memang saya nggak suka nongkrong di mall, trus harus memaksakan diri gitu hanya untuk dibilang kekinian? Hell no.

Dan saya ingin mendidik anak-anak saya kelak agar tidak terbawa arus anak muda kekinian yang tiap weekend mesti keluar hanya untuk gaul dan nongkrong nggak jelas tanpa tujuan. Yang sekali nongkrong bisa keluar uang ratusan ribu bahkan jutaan hanya untuk kesia-siaan.

Lebih baik mendatangi majelis-majelis ilmu, jalan-jalan naik kereta, bertualang ke alam bebas, mengunjungi toko buku, membaca di kamar atau stay di rumah bersama keluarga. I was raised this way, and this is how I want to raise my children today.

Yaasssss..

Saya memang anak Jakarta, tapi saya bukan anak emol, karena buat saya bergaul itu nggak mesti di emol ✌

Ps. Foto diambil di depan Kokas, on our way to Tenabang.

~ Jakarta, on a sunny-cloudy Sunday morning, January 2017

© aisyafra.wordpress.com
Advertisements

4 thoughts on “Bukan Generasi “Anak Mall”

  1. Assalamu’alaikum warahmatullah mbak ^^
    Sepakat banget dengan postingannya, kurang lebih aku pun sama seperti mbak. Gak akan pergi ke mall, kalau memang tidak ada kepentingan yg sangat penting hihi. Paling-paling kalau ke mall, tujuannya ke toko buku lagi 😀
    cita-cita kita sama mbak, ingin mendidik anak-anak kelak agar tidak terbawa arus anak muda kekinian.
    Senang menemukan blognya mbak, Salam ukhuwah ya mbak 🙂
    Tabarakallah ^^

    • ﻭَﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ

      Masya Allah.. Semoga kita tetap istiqamah ya, nggak mudah terbawa arus negatif. Salam kenal kembali, Shopiyanti… 😊

      Wa fiik barakallaah ^^

  2. MasyaAllah sama teh meut.. aku deket kokas pun baru dua kali kesana.. kalau ke mall gak ada tujan nya yg mau dibeli or yg diperlu males bgt buat ke mall. gak begitu suka dgn keramaian di mall.. tempat paling nyaman itu memang di dalam rumah.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s