Sindrom “Malas Ngaji” Setelah Menikah

glasss

Seringkali mendapati fenomena ikhwan dan akhwat yang sebelum menikah tadinya rajin ta’lim dan aktif di kajian, mulai jarang terlihat di majelis-majelis ilmu. Sibuk dengan dunia barunya, dengan keluarganya, dengan anak-anaknya.

Di akhir pekan atau hari libur, lebih banyak plesir ke mall atau tempat-tempat wisata dibanding meramaikan majelis-majelis ilmu. Sekalinya hadir pun hanya di kajian tematik yang waktunya pun tidak tentu berapa bulan sekali. Sedang kajian rutin sudah lama ditinggalkan.

Padahal, ilmu syar’i adalah unsur penting dalam kehidupan berkeluarga. Tanpa panduan ilmu syar’i, rumah tangga bagaikan mobil tanpa bahan bakar. Karena pernikahan adalah ibadah. Dan tiap ibadah membutuhkan ilmu.

Akibatnya, sedikit banyak mulai tampak perubahan. Dari penampilan, pemikiran dan cara berbusana. Yang tadinya bersemangat untuk kaffah semampunya, kini mulai mengendur, bahkan mulai mundur teratur.

Sesuatu yang menurut kita penting tentu akan diutamakan dan menjadi prioritas. Bukan kalau ‘sempat’, tapi ‘disempatkan’.

Terkadang, menyisihkan sedikit waktu untuk hadir di majelis ilmu sepekan sekali saja rasanya sangat susah dan berat. Tapi bisa menyisihkan waktu tiap bulan untuk belanja dan makan-makan di food court atau mall dan bepergian ke tempat-tempat wisata untuk melepaskan kejenuhan.

Menikah, selayaknya tak menghalangi kita untuk menuntut ilmu syar’i. Justru setelah menikah, kita memiliki partner yang menguatkan untuk makin bersemangat hadir di majelis-majelis ilmu.

Yang dulunya hanya single fighter, kini menjadi satu tim. Yang dulu terkadang futur dan lalai tatkala sedang sendiri, kini ada yang mengingatkan jika mulai dilanda rasa malas dalam ibadah.

Idealnya, setelah menikah kita makin kuat dan bersemangat dalam menuntut ilmu, bukan semakin malas dan kendor.

Jika sewaktu muda dan single dulu kita rajin ngaji dan senantiasa haus akan ilmu, kenapa sekarang jadi ‘melempem’?

Sibuk karena anak, suami, side job, pekerjaan rumah.. Kesibukan-kesibukan yang seakan tak ada habisnya.

Sungguh benar bahwa di antara anak, pasangan dan harta ada yang menjadi fitnah (cobaan) bagi manusia.

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

(QS. Al Anfal: 28)

Dalam kehidupan berumah tangga, menimba ilmu yang dilakukan secara kontinyu adalah ‘suntikan bekal’ untuk membangun rumah tangga sekaligus mendidik dan membesarkan anak.

Dan jika kita tidak punya cukup ilmu, apa yang akan kita ajarkan pada anak-anak kita kelak?

Bagaimana bisa memberi, jika tak memiliki..?

Saya seringkali berpesan kepada adik saya yang masih single, jika nanti ia menikah, jangan sekali-kali disibukkan oleh urusan dunia sampai lalai dalam menuntut ilmu syar’i. Jadikan manuntut ilmu sebagai prioritas, bukan hanya sebagai selingan pengisi waktu luang.

Suami yang baik, tidak akan membiarkan keadaan iman istrinya stagnan atau mungkin futur. Karena istrinya adalah partner hidupnya, madrasah bagi anak-anaknya, maka ia harus cerdas dan shalihah. Begitu juga sebaliknya. Berdua, saling bersinergi untuk meraih kebaikan sebanyak-banyaknya.

Ngaji berdua bareng pasangan, apalagi pas baru nikah itu nikmatttt banget, masya Allah. Salah satu surga dari surga-surga dunia. Saya sendiri sudah merasakannya. Bahkan sampai kini, tujuan rihlah keluarga saya tiap pekan adalah majelis-majelis ilmu.

That’s why..

Carilah partner hidup yang senantiasa menguatkan kita di kala semangat mulai melemah…

Yang senantiasa mengingatkan ketika iman sedang mencapai titik terendah…

Yang senantiasa mencegah kita dari perbuatan dosa, bukan turut membenarkannya atas dasar “rasa sayang”..

Yang senantiasa menggenggam tangan kita saat mulai kehilangan arah, karena sibuk oleh hiruk pikuk kehidupan duniawi..

Yang mencintai kita dalam artian yang sebenarnya, tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Karena kebersamaan di dunia yang sebentar ini tidaklah cukup.

Karena menikah dan memiliki anak, tak selayaknya menghalangi kita dari menuntut ilmu. Justru keluarga kecil kita.. Merekalah penguat azzam untuk terus kokoh dan istiqamah di jalan yang diridhai-Nya.

thalabul-ilmi

~ Jakarta, on a sunny morning of January 2017.. #IWriteToRemindMyself

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest & Muslim.Or.Id ]

Advertisements

2 thoughts on “Sindrom “Malas Ngaji” Setelah Menikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s