Tabayyun

coffee2

  • A: Eh, kamu udah tau belum, katanya kan si Fulan begini dan begitu?
  • B: Enggak, kamu tau dari mana?
  • A: Dari si C. Malah katanya si Fulan ini bla-bla-bla.. Parah banget kan?
  • B: Kamu udah tabayyun langsung sama si Fulan?
  • A: Belum. Nggak usah lah. Masa sih si C bohong..
  • B: Lho kenapa? Bukannya kamu sama si Fulan deket ya? Apa nggak sebaiknya tanya langsung ke dia?
  • A: Males ah, nanti malah ribut. Ini antara kita-kita aja kok.
  • B: Loh kamu males tabayyun, tapi malah rajin nyebarin berita yang belum jelas kebenarannya. Gagal paham deh aku. Lagipula itu kan temanmu sendiri, kok kamu tega sih?
  • A: Aku kan cuma ngasihtau, mau percaya sukur, gak percaya ya udah. Gitu aja kok repot!
  • B: What the….???

In my opinion…

Ketika saya mendengar sesuatu yang menurut saya janggal, aneh, shocking, nggak beres, dll.. Langkah pertama yang saya lakukan adalah tabayyun langsung ke yang bersangkutan. Paling anti cuma berani kasak kusuk di belakang. Nggak banget deh.

Nanya, denger penjelasannya, done. Apalagi kalau sesuatu itu menimpa orang yang saya kenal baik. Tentu lebih enak lagi tabayyunnya.. Paling nggak suka nyimpen-nyimpen sesuatu yang ngganjel, apalagi sama teman sendiri.

Ketika kita mendengar suatu kabar yang belum jelas kebenarannya, biasakan untuk tidak langsung percaya sebelum cek dan ricek, mendengar langsung dari pihak yang bersangkutan.

Jika punya nyali dan keadaan memungkinkan, datangi dan tabayyun langsung. Tanya baik-baik duduk persoalannya. Tentu setelah menimbang maslahat dan mudharatnya lebih dulu.

Jika yang ditanya berkenan menjelaskan, alhamdulillaah. Semua jadi clear, jelas. Terima udzurnya. Jika tidak bersediapun, hargailah. It’s none of your bussiness, however.

Jika tidak punya cukup nyali untuk bertanya secara langsung atau justru malah menimbulkan mafsadat yang lebih besar, maka bersihkan hati, kedepankan prasangka baik dan keep silent.

Jangan menebar gosip yang belum jelas, apalagi membumbuinya dengan cerita-cerita dusta dari pihak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keshahihannya.

Masih ingat kasus plagiator merangkap pendusta kemarin? Begitu hasil dan bukti penyelidikan sudah di tangan, langsung saya tabayyun via inbox. Dengan janji privacy akan saya keep. Setelah ia ngeles sana sini, malah nambah-nambah bohongnya.. Baru saya ekspos semua kebohongannya.

Biar apa? Biar sadar dan orang lain dapat lebih berhati-hati dengannya. Ya walau in the end ia tetep ngeles dan play a victim role, at least my duty is done.

Setidaknya, saya sudah berani maju, melawan, mengingkari semua perbuatannya dan memperingatkan orang akan bahayanya. Setelah semuanya selesai, just remove, block, bye. I’m done.

Honestly, saya nggak paham sama orang yang merasa ada sesuatu yang sangat “ngganjel” dan sangat memungkinkan untuk tabayyun langsung, tapi malah kasak kusuk nggak jelas. Terlebih hal ini menyangkut orang yang mereka kenal baik. Terlebih menyangkut kehormatan Muslim lainnya.

Kalau tidak bersedia atau tidak berani langsung tabayyun, ya sebaiknya diam saja. Insya Allah lebih selamat. Jangan hanya berani kepo plus kasak kusuk di belakang dan menebar berita dusta kesana kemari.

So whenever you heard a news about your brother and sister in deen, the choice are:

  1. Tabayyun dan bertanya langsung ke yang bersangkutan.
  2. Diam, bersihkan hati dan hentikan kepo berlebihan terhadap urusan orang lain. Fokus kepada urusan diri sendiri jauh lebih penting.

Perilaku kita mencerminkan siapa kita. Jika kita tak segan untuk maju dan langsung bertanya lagi meminta udzur, maka orang akan mengenal kita sebagai pribadi yang pemberani dan suka bertabayyun, bukan yang suka membicarakan orang lain di belakang.

Jangan jadi muslim yang berjiwa pengecut. Tidak berani tabayyun dan meminta udzur tapi gemar kasak kusuk dan menyebar berita dusta kesana kemari. Hanya berbekal “qiila wa qoola..” alias “katanya katanya” tanpa tabayyun terlebih dahulu.

Ittaqillaaah.. Takutlah pada hari di mana semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Sesuatu yang kita anggap sepele, obrolan ringan tentang aib orang, baik yang sudah pasti benar atau hanya kabar burung dengan teman atau tetangga, bisa jadi besar pertanggungjawabannya kelak di sisi Allah.

Jika kita masih sering menzhalimi sesama Muslim dengan lisan dan perbuatan kita, maka bertaubatlah. Cukupkanlah sampai saat ini saja. Semoga Allah mengampuni dosa dan kelalaian kita di masa lampau, akibat kurang terjaganya hati, lisan dan anggota badan kita.

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. Apakah di antara kalian ada yang suka menyantap daging bangkai saudaranya sendiri? Sudah barang tentu kalian jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allaah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang.” (Al-Hujurat : 12)

~ Jakarta, dikutip dari status Facebook pertengahan November tahun lalu..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Tumblr ]

Advertisements

2 thoughts on “Tabayyun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s