It Takes Two to Tango

Beberapa hari ini berseliweran SS percakapan seorang laki-laki dengan wanita nakal penggoda suami orang di beranda FB saya.

Terlepas percakapan itu benar terjadi atau tidak, entah memang benar tergoda atau cuma acting, kesan pertama setelah baca postingan itu:

“Ini kenapa lakiknya mau digoda juga sampai ngasih pin BB dan nomor WA? *smh

Laki-laki yang lurus lagi setia, digoda sedemikian rupa, alih-alih tergoda dan merasa tersanjung, harusnya justru malah merasa ilfeel, eneg, ngeri, (maaf) jijik, whatever it is.

Nggak usah pakai dalih bahwa sudah tabiat lelaki mudah tergoda rayuan wanita, kucing mana yang dikasih ikan asin bakal nolak, dan seabrek pembenaran lainnya.

Have you ever wondered.. Kenapa jika terjadi perselingkuhan, rata-rata yang sering disalahkan adalah wanitanya?

Stempel bagi si wanita penggoda: “Dasar gatel, udah tau suami orang main embat aja. Nggak punya malu ya. Dasar valakor!”

Istri sah juga nggak ketinggalan dikasih stempel: “Harusnya kamu introspeksi dong, kok suami bisa berpaling ke perempuan lain? Pasti ada yang kurang dari dirimu. Udah, kalian berdua sama-sama salah.”

Stempel yang umum diberikan buat si laki-laki : “Ya namanya juga kucing dikasih ikan asin.. Wajarlah siapa yang bakal nolak. Ibaratnya ya, bosen di rumah makan ayam terus. Buat selingan, sekali-kali pengen kalik yaa icip-icip ikan asin di luar..”

Wth…?

Apa kabar janji suci dalam akad yang pernah terucap beberapa waktu silam? A sacred vow in marriage is not for boys, who still wanna play here and there. It is for gentle and mature men only, who will keep the promise til the end of time.

Some say “it takes two to tango”. Ibarat kata, tangan nggak akan bunyi jika hanya satu tangan yang bertepuk. Harus dua-duanya.

Itulah yang terjadi dalam sebuah perselingkuhan. Dua-duanya salah. Dua-duanya berdosa. Dua-duanya tidak setia, genit, gatel, ganjen, etc etc. Period.

Boleh jadi si istri memiliki andil salah, sering menyebut-nyebut kebaikan suami di hadapan perempuan lain. That’s wrong and improper. Tapi itu bukan pembenaran atas perselingkuhan yang terjadi di belakangnya.

Cheating is wrong. Serong, selingkuh, berkhianat itu tetap salah apapun alasannya. Selingkuh itu dosa dalam pernikahan yang sulit untuk dimaafkan, apalagi dilupakan. Terlebih jika dilakukan berulang kali setelah berulang kali pula berjanji untuk berubah.

Jadi ketika sudah tertangkap basah atas perselingkuhan yang dilakukan, akui dengan jiwa besar dan stop cari pembenaran. Apalagi sampai play as a victim aka memposisikan diri sebagai korban. Only cowards and losers who blame their faults to others.

Kadang seorang istri yang kalem dan penurut, tidak banyak bicara dan menuntut, setia dan teguh menjaga kehormatannya, tidak suka mengumbar kebaikan suami di depan perempuan lain..

Masih juga dikhianati. Masih juga dibohongi. Masih juga dilukai oleh orang yang paling dicintainya, yang seharusnya justru melindungi dan memuliakannya.

I know some of them in real life. I testify how they suffer through times to times. And I feel sorry for them. A lot.

Dan kepedihan yang mereka rasakan bukan karena mereka suka menceritakan perihal suaminya di hadapan wanita lain, atau karena abainya mereka terhadap suami-suami mereka..

Tapi karena seorang suami yang tidak setia lagi miskin akan rasa syukur, dan wanita yang miskin akan rasa malu lagi tidak memiliki empati sebagai sesama perempuan. Menghalalkan segala cara demi memuaskan hawa nafsu yang sejatinya jika terus dituruti tak akan pernah puas.

Catatan bagi saya pribadi sebagai seorang istri: stay low key, stay humble, stay selective and picky about whom you share your pieces of life with.

Not everyone needs to know everything about you. Only a few, who deserve to know your private matters. Keep your private life, private.

Stay awake, stay aware. Buka lebar-lebar kran komunikasi. Terbuka dalam hampir segala hal terhadap pasangan, adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Anytime you feel uneasy or annoyed, don’t hesitate, say it straightforward. There is nothing to hide between you two. You both are a life partner, not a rival.

And after all, leave it all in Allah’s hand…

Sekuat apapun kita berusaha menjaga perkawinan agar tetap utuh, menyelamatkan pernikahan yang hampir berada di ujung tanduk, atau mungkin, membangunnya kembali setelah runtuh menjadi puing-puing…

Semua kembali kepada kehendak dan takdirNya. Kita hanyalah hamba yang berjalan dari satu takdir ke takdir lainnya.

Maka mintalah kepada Dzat yang Maha Meneguhkan Hati.. Ketuklah pintu-pintu langit itu.. Agar Allah mengekalkan cinta kasih antara kalian berdua sampai di JannahNya.

Atau mungkin memisahkan kalian berdua demi kebaikan bersama, karena satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara kalian.

~ Jakarta, April 2017.. inspired by a late night conversation with my best friend.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

 

Advertisements

2 thoughts on “It Takes Two to Tango

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s