Want Some Respect? Try Respecting Yourself First

Dear Ukhti…

Jualan itu bukan cuma soal laris atau mengejar omzet sekian dan sekian.. Bukan cuma soal terkenal, maju dan melesat jauh di depan. Ada hal lain yang perlu diperhatikan, misalnya, soal kehalalan dan keberkahannya.

Islam telah paripurna mengatur semua sendi dalam kehidupan kita, termasuk soal berdagang. Cara kita memasarkan produk, etika dan adab dalam berjual beli, sampai perintah untuk memudahkan transaksi antara penjual dan pembeli.

Kita dilarang untuk melakukan penipuan, baik dalam promosi maupun transaksi. Jika ada cacat, wajib memberitahukan kepada pembeli. Cara memasarkan produk pun telah diatur. Tidak boleh serampangan, main tabrak rambu-rambu syari’at, yang penting laku.

Contoh, tidak menjual pakaian yang mendukung para muslimah untuk bertabarruj. Bukan pakaian ketenaran, mengundang perhatian, dan memenuhi syarat pakaian muslimah. Syar’i dalam artian yang sebenarnya, bukan hanya label agar kekinian.

Contoh lain, ketika menjual pakaian muslimah, tidak menggunakan model manusia langsung. Bisa pakai manekin tanpa wajah, atau dilipat lalu digelar dan dipercantik dengan properti berupa bunga, pita, dsb baru dijepret, diedit lalu diupload.

Banyak jalan untuk mempromosikan jualan tanpa harus melanggar syari’at Allah. Jangan lantas menghalalkan segala cara supaya laris, bahkan tak peduli jika sampai mengundang fitnah.

Saya percaya bahwa nominal rezeki bukanlah segala-galanya. Meski nilainya sama, rasa berkahnya tentu berbeda. Jika harta diperoleh dari jalan haram dan caranya membuat Allah murka, maka jangan pernah berharap akan menuai barakah.

Salut dengan para produsen busana muslimah yang konsisten untuk tidak menggunakan model manusia dalam promosi bisnisnya. Meski bagian wajahnya ditutup atau diblur, tetap sosok tubuhnya tampak dan bebas dilihat oleh siapa saja.

Karena mereka paham, wanita itu aurat, meski ia telah berhijab. Maka tempat terbaik baginya adalah di rumah, tersembunyi dari mata-mata lelaki. Bukan di jalan-jalan, di katalog busana muslimah, atau di dunia maya aka internet.

Sosok mereka begitu eksklusif, tidak setiap mata bisa memperhatikannya. Mereka sangat selektif dalam pergaulannya. Mereka tidak sembarangan menunjukkan dirinya, terlebih kepada orang yang tidak dikenalnya.

Mereka sadar bahwa mereka sangat berharga, bukan barang murahan, bukan pula komoditi dagang. Mereka terlalu berharga untuk dihargai dengan takaran dunia. Mereka bukanlah benda, yang bisa diukur dengan kebendaan pula.

Jika berjualan dengan memajang foto wanita sebagai modelnya saja terlarang karena mengundang fitnah, apatah lagi sengaja mengeluarkan suara, melenggak-lenggokkan tubuh, dan mengerling genit dalam bentuk video hanya karena alasan promosi?

Dunia…

Hanya karena beberapa lembar rupiah yang tidak seberapa kaugadaikan rasa malu dan kehormatanmu.. Hanya demi likes dan comments dari mereka yang kaukenal saja tidak, kau rela merendahkan harga dirimu..

Padahal nilai kehormatan seorang muslimah itu teramat mahal. Dunia dan seisinya tidak akan mampu untuk membelinya.

Oleh sebab itulah Allah memerintahkan para wanita untuk menjaga dan menutup segala celah yang dapat menimbulkan fitnah karenanya. Bukan malah mengizinkan mereka berbuat sesuka hatinya dengan alasan, “my body, my rules”.

Jika seorang muslimah sadar akan betapa berharga dirinya, maka ia tidak akan sudi mengobral dirinya kepada siapa saja. Ia tidak akan merendahkan dirinya dengan mengeksploitasi kecantikannya, demi sedikit keuntungan duniawi.

Seperti yang saya alami kemarin saat buka IG explore, nggak sengaja lihat postingan seseakun yang sepertinya milik seorang ikhwan tentang bahaya muslimah memajang foto diri, tapi justru memposting foto muslimah selfie dengan caption di atas.

Scroll ke bawah lagi, ngasih nasehat tentang haramnya tabarruj, lha kok dalam postingan itu malah upload foto muslimah close up sampe detail wajah, bibir dan bedaknya keliatan jelas.

Kontradiktif nggak sih?

Dan yang bikin lebih bengoooong lagi, baca komentar akun tsb di postingan akhwat niqabi selfie.

“Ada yang mau ta’aruf? Ehemm… Ehemm..”

Lah. Ini ikhwan apa bakwan sih? :hammer:

Hati-hati yaa ukhti.. Banyak serigala berbulu domba di belantara dunia maya. Seolah ikhwan baik-baik, ternyata ikhwan kawe yang full modus. Dan mereka biasanya mencari mangsa di akun-akun akhwat yang (maaf) sama centilnya dengan mereka.

Sudah sunatullah burung itu akan berkumpul dengan yang sejenisnya. Laki-laki nggak beres, genit, alay, nggak akan berani komen genit di akun perempuan yang rapat menjaga hijabnya. Perempuan yang tegas dan nggak suka menye-menye.

Coba aja komen kayak gitu di akun saya, gak pake lama langsung blocked and reported as spam. Atas alasan itu pula semua sosmed saya lock. Ngeri.

Jadi, sebelum kalian misuh-misuh karena ada laki-laki genit yang berani menggoda kalian di sosial media, coba deh sedikit refleksi diri..

“Kok berani-beraninya dia menggoda saya? Apakah profil saya mengundang jenis manusia seperti mereka untuk menggoda?”

Want some respect? Try respecting yourself first.

~ Jakarta, penghujung Mei 2017… salin rekat dari postingan FB  beberapa waktu lalu.. a self reminder, actually.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

One thought on “Want Some Respect? Try Respecting Yourself First

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s