I Stand Against Bullying

Beberapa hari ini jagad sosmed digemparkan dengan beredarnya dua buah video yang merekam aksi bullying. Tadinya sempat nggak mau nonton, nggak tegaaa. Huhu. Lama-lama penasaran juga. Dan geram sekali rasanya. Subhanallah.

Video pertama tentang mahasiswa berkebutuhan khusus yang dibully teman sekampusnya. Saking tidak tahannya, sang korban melemparkan tong sampah ke arah para pembully. Dan di antara sekian banyak yang menonton peristiwa tersebut, tidak ada satupun yang melerai atau mencegah. Cmiiw ya.

Dan yang paling bikin melongo adalah video kedua, yang merekam aksi bullying anak kelas 1 SMP terhadap kawannya. Kelas 1 SMP loh.. Udah pro banget bully orang macem preman. Sempet nahan nafas nontonnya. Kaget sekaget-kagetnya.

Speechless.. Baru umur segitu udah maen gaplok-jambak-tendang ya Allah… Nggak ada belas kasihnya blas sesama manusia. Itu hati dan perikemanusiaannya di mana? Ortunya dulu ndidiknya gimana? 😦

Itu juga yang (ngaku) laki-laki kok bisa sih ngebully cewek? Nganiaya cewek sampek segitunya. Masih piyik juga. Ntar kalo punya istri bisa-bisa dijadiin samsak kali ya? Pengen saya pakein daster + lipensetip rasanyaaa 💄

I am standing against bullying.

Banyak korban bullying yang survive dan bullying yang mereka alami secara tidak langsung bikin mereka jauh lebih kuat. Tapi banyak juga korban yang terluka baik secara fisik dan emosional. Dan bukannya pulih, justru melahirkan dendam yang berujung dengan lahirnya bullying lainnya.

Saya pernah jadi korban bullying waktu SD. Alhamdulilah cuma dinyinyirin dan dibully dengan kata-kata kasar aja, nggak sampai main fisik. Itupun masih membekas banget rasanya. Sejak itu saya jadi cenderung menutup diri dari orang lain. Tidak mudah percaya pada orang lain, apalagi menganggap orang yang baru dikenal sebagai sahabat.

Saya juga pernah salah memilih teman ketika itu. Karena dibully, saya memilih berteman dengan anak yang juga dijauhi, tapi dijauhi karena akhlaknya yang kurang baik. Saya jadi suka kongkow nggak jelas, berani melanggar aturan, berani terhadap orangtua dan tidak takut akan dosa. Bandel, tapi di satu sisi tetap berprestasi, alhamdulillah.

Memasuki masa remaja, pengaruh dari teman lama masih terbawa. Saya masih tetap tertutup dan penakut. Masih sedikit bandel juga. Lagi masa-masanya krisis percaya diri. Alhamdulillah ada beberapa teman yang baik dan menerima saya dengan hangat. Dari mereka saya belajar banyak hal. Terima kasih banyak, teman-teman

Rasa percaya diri dan keberanian untuk menjadi diri sendiri, baru pulih setelah SMA. Saya yang dulu penakut dan tertutup, mulai berani tampil dan menetapkan batas. Alhamdulillah saat itu saya banyak kenal teman yang baik, termasuk orang-orang dewasa yang membantu memulihkan rasa percaya diri saya.

Beruntung sekali kawan sebangku saya adalah seorang extrovert yang pemberani, malah cenderung obnoxious, haha. Gayanya yang santai dan cuek bikin saya jadi lebih berani untuk tampil. Saya juga lebih berani melawan ketika diganggu teman lelaki.

Jika ada teman yang mengganggu saya, kawan saya tadi tak segan pasang badan. Pernah sekali dia menggebrak meja teman laki-laki yang mengganggu kami berdua. Sejak saat itu, semua anak laki-laki di kelas jadi lebih respect (lebih tepatnya: takut) terhadap saya, terutama terhadap dia

“Lo mau digangguin mulu sama dia, Mut? Kalo lo mau ya silakan, enjoy ya. Tapi kalo lo nggak mau, ya lawan!” #jleb

Darinya saya belajar, jadi wanita itu harus kuat dan tangguh. Nggak boleh cengeng. Dan nggak boleh tergantung sama orang lain. She taught me to be a strong and independent woman.

A few years later, I just felt like I was reborn. 

Saya berhasil mengobati luka lama yang membuat saya seperti hidup dalam bayang-bayang gelap. Dari yang tadinya super introvert, menjadi lebih ekstrovert dan terbuka. Dari yang tadinya penakut, jadi lebih pemberani. Dari tadinya pernah bandel, jadi lebih takut dosa.

Saya yang dulu, tidak sama dengan saya yang sekarang. Apalagi sejak saya merasakan indahnya hidayah sunnah. Menggali Islam lebih dalam, lebih mendekat pula kepada Allah. Sungguh hidayah ini adalah salah satu nikmat paling besar dalam perjalanan hidup saya.

Banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan dari peristiwa di masa lalu. Perjalanan hidup itu, tidak selalu lurus dan sesuai rencana. Kadang berkelok dan menikung tajam. Unpredictable, but always teach us a lesson.

And here I am. Everything I’ve been through in the past makes me who I am today. A brand new me, a brand new life. Thank you, Allah ❤

Namun, tidak semua korban bullying itu mampu dan diberi kekuatan untuk survive. Mampu mengobati lukanya untuk kemudian bangkit demi mengubah takdirnya sendiri. Banyak di antara mereka yang harus kehilangan kesempatan untuk tumbuh dengan baik, kehilangan kewarasan, bahkan kehilangan nyawa.

Saya sering marah ketika melihat sekelompok anak menganiaya anak kucing, for example. Kucingnya dimasukkan kantong plastik. Tidak hanya satu dua, tapi banyak. Lalu dipukuli ramai-ramai. Saya hampiri mereka, saya nasehati, lalu saya suruh mereka melepaskan kucing-kucing itu.

Ish, beraninya ngebully anak kucing yang lebih lemah!

Selagi ada waktu, apapun bentuk perilaku bullying yang ada di sekitar kita, jangan didiamkan, jangan dibiarkan. Entah itu anak kita yang jadi korban, anak tetangga, teman sekelas anak di sekolah. Jangan diam saja. Speak up!

We should encourage our children to be brave enough to stand up for themselves. Kita nggak selamanya bisa menemani mereka, melindungi mereka, ada di samping mereka. Oleh karenanya, kita harus tanamkan pada anak-anak kita bahwa yang dapat menyelamatkan mereka adalah diri mereka sendiri.

Fight! Jangan mau ditindas dan diintimidasi. What you allow is what will continue. Jika sudah di luar batas toleransi, menyerang fisik dan membahayakan keselamatan, laporkan pada pihak yang berwenang. Jangan takut jika kita berada di pihak yang benar.

Kitapun sebagai orangtua dituntut untuk lebih peka mengenali anak. Kita harus tahu apa yang ia alami di sekolah, di tempat lesnya, atau di lingkungan dekat rumah. Bangun kedekatan dengan anak. Agar ketika ada yang mengganggu pikirannya, kitalah orang pertama yang menjadi tempatnya bercerita.

Apapun bentuknya, bullying is a crime. Jangan pernah menganggapnya hal yang sepele. Jangan pula dianggap hal yang biasa. Biasakan hal yang benar, bukan membenarkan hal yang biasa.

Bullying is a sign of insecurity and weakness. Only for jerks and losers. Para pembully itu, beraninya hanya sama yang mereka anggap lemah, bukan? Perasaan superior, menganggap diri mereka lebih hebat dan kuat, sehingga merasa berhak menindas yang lebih lemah.

Karena mereka yang benar-benar kuat, tidak perlu show off kekuatannya dengan menindas kaum yang mereka anggap lebih lemah. Strong people don’t put others down, they lift them up.

~ Jakarta, on a cloudy day of July 2017.. always fight and stand up for yourself!

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s