Choose Your Circle Wisely….

“Jangan suka ngumpul sama mereka yang suka ngomongin orang, karena sekalinya kita nggak ikut ngumpul, kita yang bakal di omongin…”

Ceritanya, beberapa saat lalu saya bertemu seorang ummahat ketika mengantar anak-anak belajar tahsin. Waktu itu saya dan adik saya yang juga hadir di sana berkenalan dengan beliau. Kami cerita dan sharing tentang banyak hal, mulai dari tempat tinggal, biasa ngaji di mana, sekolah anak, dan printilan lainnya.

Sampailah topik pembicaraan kami di satu titik, tentang sebuah komunitas ibu-ibu di daerah kami. Yang notabene kami mengenal komunitas tsb dengan sangat baik, karena pernah berada di dalamnya. Dan ummahat tersebut harus rutin berinteraksi dengan mereka karena suatu keadaan.

Lalu mengalirlah curhat darinya…

“Yang saya heran, mereka kalo lagi ngumpul-ngumpul, sukanya ngomongin orang. Memang kerjaannya tiap ngumpul ya begitu. Saya sendiri nggak suka (ngomongin orang) sebenernya. Tapi gimana ya, kalo saya nggak ikutan ngumpul, nanti malah saya yang diomongin. Serba salah jadinya. Padahal mereka udah pada ngaji kan ya..”

Jleb. But that is the truth. Ternyata bukan saya dan beberapa teman saja yang mengalami dan merasakan hal yang serupa 🙂

Terpaksa ‘nyemplung’ di komunitas seperti itu memang serba salah. Buat yang suka dan hobi ngomongin orang tentu tempat tersebut akan terasa seperti surga, di mana mereka bisa menyalurkan hobi dan bakat yang selama ini terpendam.

Tapi bagi yang nggak suka kepo dan hobi ngomongin orang, tentu akan terasa berbeda. Perasaan tidak betah, tidak nyaman, ingin mengingatkan, ingin lari dan menjauh, campur aduk jadi satu.

“Mau ikutan ngumpul, nanti ujung-ujungnya ikut ngomongin orang..

Mau ngga ikutan ngumpul, nanti gue yang diomongin…”

Dilema.

Tapi bagi saya, lebih baik diomongin daripada ngomongin orang. Lebih baik dapet transfer pahala daripada transfer pahala ke orang lain. No matter what they say, I’ll do what is right.

Itulah kerugian berkumpul dengan ahlul ghibah, biang gosip atau generasi “admin lambe turah”. Apa aja bisa jadi bahan gosip. Dari yang fakta sampai cuma rumor semata yang belum jelas kebenarannya, sikat habisss.

Tabayyun?

Oh, tentu tidak akan. Karena mereka sangat menikmati juicy gossip. Kalau kebenarannya terungkap apalagi sampai diklarifikasi habis-habisan, nggak asyik lagi dong ngegosipnya. Nggak greget, cuy.

Itulah mengapa kita perlu mengevaluasi kembali siapa saja teman-teman dan menyeleksi lingkaran pergaulan kita. Karena pertemanan, sedikit banyak akan mewarnai sifat dan kebiasaan kita.

“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Mereka yang benar-benar baik, akan tetap baik di depan atau di belakang kita. Pantang bermuka dua. Mereka akan mengingatkan langsung ketika kita khilaf, bukan malah menggunakan kekhilafan kita sebagai bahan gunjingan.

Tidak ada kekhawatiran bahwa mereka akan mengkhianati kita. Tidak ada rasa curiga bahwa mereka sengaja mendekati kita hanya untuk mencari kelemahan dan kesalahan kita, lalu setelah rasa keponya terpuaskan, menyebarkannya ke sesama member jama’ah pemakan bangkai saudaranya.

Be thankful…

Jika kita dikaruniai teman-teman yang baik hati lagi tulus mencintai kita karena Allah..

Jika kita memiliki circle pertemanan yang lebih sibuk dengan aib sendiri daripada mengurusi aib orang lain…

Jika kita dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang dengan mereka kita kita bisa jujur dan bebas jadi diri sendiri, tanpa perlu jaim, memakai topeng dan polesan…

Maka, bersyukurlah…

Karena manusia-manusia seperti mereka sangat sulit ditemukan di zaman sekarang.

Dan jika qaddarullah kita terjebak di suatu komunitas yang buruk dan tidak sehat seperti di atas, segeralah menarik diri. Tegaslah menetapkan batas. Jauhi dan ingatkan kalau bisa. Jadilah manusia yang memiliki prinsip dan teguh di atasnya.

Always remember these beautiful phrases:

“If everyone is pleased with you but اَللّهُ  is not, what have you gained? And if اَللّهُ  is pleased with you but no one else is, what have you lost?” (Anonymous)

Jangan salah memilih teman. Pilihlah teman yang akan menarik kita ke surga, bukan justru menjerumuskan kita ke neraka. Pilihlah teman yang banyak menularkan kebaikan dan energi positif, bukan justru sebaliknya. Pilihlah pertemanan yang tidak menimbulkan penyesalan di hari kiamat.

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang dzalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al Furqan: 27-29).

~ Jakarta, end of July..  cause in the end, you are whom you befriend with..

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

4 thoughts on “Choose Your Circle Wisely….

  1. Selalu suka tulisannya Mbak Meutia. Kira-kira alternatif obrolan yang tidak menjurus pada gosip apa saja ya Mbak? Karena kadang kalau lagi ngumpul sama orang yang klop banget sama kita suka mengarah ke gosip.

    • Alhamdulillah…

      Mungkin lebih ke bahasan yang lebih “aman” saja ya mbak. Misalnya parenting, sekolah anak, resep masakan, harga barang yang lagi diskon, hahahaha…

      Sebenarnya tabiat manusia, khususnya wanita, suka sekali bergosip, ngerumpi dsb. Tapi mungkin ketika sudah paham ilmunya jadi lebih bisa menahan diri dari membicarakan aib orang lain dan kepo yang tidak pada tempatnya. Walau mungkin terkadang suka kelepasan, tapi ketika ingat langsung bertaubat dan meninggalkan. Dan bukan menjadi kebiasan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s