Love Yourself First

“Love doesn’t stop a man from cheating. What stops a man from cheating is fear of Allaah. A strong Iman will result in a faithful man,” ~ @realdawah

Hey dear, yang namanya affair alias perselingkuhan itu, dua-duanya salah. Jangan cuma nyalahin si wanita penggoda aka valakor. Tapi sang laki-laki juga salah. Perselingkuhan itu nggak mungkin terjadi kalau tidak ada andil keduanya. It takes two to tango, right?

Lelaki baik, hanya untuk perempuan baik. Jika ada laki-laki yang bolak balik tergoda wanita lain, bahkan ia duluan yang menggoda, bisa dipastikan bahwa laki-laki tsb yang bermasalah. Jadi jika perselingkuhan itu sangat sering terjadi, you know who is the problem, right?

Cheating is wrong. Serong, selingkuh, berkhianat itu tetap salah apapun alasannya. Selingkuh itu dosa dalam pernikahan yang sulit untuk dimaafkan, apalagi dilupakan. Terlebih jika dilakukan berulang kali setelah berulang kali pula berjanji untuk berubah.

Some people deserve a second chance, some people don’t. Karena selingkuh itu habit ya, sodara-sodara.. Susah sembuhnya. You-have-my-words. Kecuali memang yang hatinya betul-betul sudah disentuh oleh keimanan, dan bertekad kuat untuk bertaubat.

Wanita pezina hanya untuk laki-laki pezina. Demikian juga sebaliknya. Kejujuran dan kesetiaan dalam pernikahan adalah landasan utama sebuah hubungan yang baik dan sehat. Jika pasangan sudah mulai ringan berbohong secara terus menerus dan berani berselingkuh. Then it’s time to quit.

The Best Apology is Changed Behaviour

Betapa banyak wanita baik-baik yang hidupnya hancur gara-gara suami yang hobi menjalin affair dengan wanita lain. Betapa banyak anak-anak yang menderita karena rumah tangga orangtuanya berantakan. Tidak hanya satu dua affair tapi banyak. Berkali-kali.

Teringat nasehat seorang ustadz dalam sesi tanya jawab setelah kajian:

“Ustadz, suami saya sering sekali berselingkuh. Berzina dengan banyak wanita. Habis berzina, taubat, lalu diulangi lagi, taubat lagi, diulangi lagi. Selalu seperti itu. Lalu bagaimana dengan saya, Ustadz? Saya tidak tahan dengan kondisi seperti ini.. Apakah salah jika saya ingin berpisah?”

Jawaban ustadz…

“Ibu, laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Zina itu dosa besar dan kebiasaan yang sangat susah untuk diubah. Semakin sering ia melakukan zina, semakin susah untuk meninggalkannya. Kecuali ia bertekad kuat untuk bertaubat dan Allah mudahkan untuk benar-benar istiqamah. Jika seorang suami tidak kunjung bertaubat dari perbuatan zinanya, maka boleh bagi seorang istri untuk meminta cerai. Tentu setelah melewati berbagai pertimbangan. Karena wanita baik-baik yang menjaga kehormatannya tidak boleh menikahi laki-laki pezina.”

Imho, berpisah secara baik-baik jauh lebih baik ketimbang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Istilah broken home bukan hanya untuk rumah tangga yang kedua orangtuanya bercerai. Tapi rumah tangga yang tidak sehat, full of mental and physical abuse, meski masih terikat status pernikahan, is way more destructive and dangerous than a divorced relationship.

Perpisahan di tengah jalan, siapa yang menginginkan? Tidak ada. Tidak ada satupun pasangan yang ketika menikah, menginginkan untuk berpisah. Tapi perpisahan dapat menjadi solusi atas problematika dalam rumah tangga yang tidak kunjung terpecahkan. Solusi terakhir, meski bukan jalan yang diinginkan.

Itulah mengapa Allah menghalalkan perpisahan alias perceraian. Agar keduanya tidak terpenjara dalam sebuah hubungan yang tidak sehat. Agar mereka dapat melanjutkan hidup dan memperbaiki masa depan, meski awalnya pasti sangat berat dan sulit.

Sekuat apapun kita berusaha menjaga perkawinan agar tetap utuh, menyelamatkan pernikahan yang hampir berada di ujung tanduk, atau mungkin, membangunnya kembali setelah runtuh menjadi puing-puing…

Semua kembali kepada kehendak dan takdirNya. Kita hanyalah hamba yang berjalan dari satu takdir ke takdir lainnya.

Tiap pasangan, tiap pernikahan, tiap rumah tangga, memiliki visi misi dan batasannya masing-masing. Tidak bijak rasanya kita—yang hanya orang luar ini—menghakimi sebuah keputusan yang diambil oleh pasangan lainnya.

We never know what really happened behind the closed doors, so don’t judge.

Love, respect and forgive yourself

Dear women, have some dignity. Jika ia mencintaimu, ia tidak akan sanggup menyakiti hatimu. Bahkan melihatmu menangis saja ia tidak akan kuat. Jadi jika kekasihmu lebih sering membuatmu menangis daripada tersenyum, then it’s a sign of unhealthy relationship.

“Cinta bukan sekedar memaafkan. Cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna. Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga.” ~ Darwis Tere Liye

Mencintai adalah penerimaan. Mencintai adalah penghargaan terhadap yang dicintai, termasuk penghargaan pada diri sendiri. Mengapa banyak terjadi kasus abuse atau kekerasan dalam suatu hubungan? Di antaranya adalah karena low self esteem alias rendahnya harga diri salah satu pasangan.

Perasaan inferior, rendah diri, lebih tak berarti dibandingkan pasangannya. Mereka merasa pantas mendapat perlakuan yang sebenarnya tidak pantas mereka terima, hanya karena menganggap pasangannya jauh lebih segala-galanya dari dirinya. Dan karena merasa begitu tak berharga, ia rela pasangannya memperlakukannya seenak hatinya.

Bersangka baiklah pada takdir Allah. Allah memisahkanmu dengan laki-laki itu karena Allah tahu bahwa engkau berhak mendapatkan yang jauh lebih baik darinya. You deserve someone better.

Know your self worth. Cintailah seseorang itu. Tapi jangan lupa untuk mencintai diri sendiri. Loving yourself is the foundation of a stable, happy individual. You deserve unconditional love—both from yourself and from another.

Love and respect yourself first, and everything else falls into line. Don’t expect anyone to love or respect you if you don’t fully love yourself first.

~ Jakarta, July 2017.. stop expecting loyalty from people who can’t even give you honesty. You deserve someone better.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

5 thoughts on “Love Yourself First

  1. Masya Allah Mbak, tulisannya 🙂

    Terkadang juga jika seorang suami selingkuh, ada yang malah menyalahkan istrinya. Salah istri nggak dandan di rumah, salah istri kurang lemah lembut sama suami, salah istri nggak bisa masak, salah istri nggak bisa mengatur rumah. Padahal namanya suami selingkuh ya suami tetap salah. Harusnya kalau ada masalah diselesaikan bersama pasangan, bukannya malah mencari pelarian di luar.

    • Sepakat..

      Pemicu perselingkuhan memang bermacam-macam ya, mba.. Di antaranya mungkin faktor istri yang kurang dalam pelayanan dan baktinya kepada suami. Tapi apapun masalah dalam rumahtangga, hendaknya diselesaikan dengan baik. Mungkin suami bisa introspeksi, apakah ia ada andil dalam kekurangan istrinya.

      Misalnya suami yang menuntut istri harus tampil cantik dan menarik. Coba tengok kembali, apakah fasilitas untuk membuat istrinya tampil cantik sudah memadai? Apakah istri punya waktu luang untuk mempercantik diri? Jika suami untuk sekadar membelikan alat kosmetik/perawatan badan saja pelit, apa pantas menuntut hak tanpa memenuhi kewajibannya?

      What happens behind the door, stay behind the door. Selesaikan, bukan malah mencari pelarian ke wanita/pria lain. Jika tidak ada titik temu, akhiri dulu dengan baik-baik, baru mencari yang lain. How you respect your relationship is speaking about how you respect yourself.

      Have a good day 🙂

  2. Reblogged this on Writing For Remembering and commented:
    Semua kembali kepada kehendak dan takdirNya. Kita hanyalah hamba yang berjalan dari satu takdir ke takdir lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s