Keep Your Private Life Private

“In a world where everyone is overexposed, the coolest thing you can do is maintain your mystery…” ~ Anonymous

Ceritanya semalam saya buka IG dan nggak sengaja nemu sebuah akun di kolom explore. Pas buka akunnya, ternyata baru update IG story. Saya buka dong, penasaran tumben nih ada akun bikin story segini panjang sampe kayak jahitan, titik-titik banyaaak. Padahal seleb juga bukan.

Eladalah ternyata “jahitan” sepanjang itu isinya cuma snapgram diana lagi kunjungan ke dokter. Dari mulai dateng, diperiksa, sampe konsul dan dikasih tindakan (entah kenapa, soalnya suaranya saya mute, haha). Sepertinya, yang ngambil video orang lain deh. Mungkin teman atau pacarnya.

Spontan yang terlintas di benak saya saat itu…

“Please deh.. Nggak SEMUA yang kita alamin SETIAP SAAT harus banget diupload atau dijadiin IG story.. Privacy pleaseee..” #sigh

Kadang saya nggak ngerti aja sama mereka yang dikit-dikit cekrek buat snapgram, snapchat, nge-live. Faedahnya apa ya?

Saya kalo lagi ke dokter gitu boro-boro kepikiran buat nge-live atau snapgram-an, yang ada juga fokus ke penjelasan dokter. Saya sakit apa nih, dok… Penyebabnya apa.. Treatmentnya gimana.. Pantangannya apa..

Bahkan kadang buka hape aja nggak sempet. Apalagi kalo anak yang sakit. Seringnya hape dibajak anak buat nonton video. Pernah ada panggilan masuk berkali-kali dan saya nggak tahu karena hape sengaja saya silent.

Fenomena sosial media masa kini seolah mengaburkan batas antara ruang pribadi dan ruang publik. Banyak yang kurang bisa dan bijak memilah mana yang perlu disimpan sendiri, mana yang boleh dibagikan ke publik.

Sedikit demi sedikit, kita menjadi lebih terbuka. Lebih terbiasa membagikan detil keseharian dan urusan pribadi kita, dengan orang lain. Bahkan dengan mereka yang sama sekali tidak kita kenal.

Hidup hanya soal konten, bahagia hanya sebatas caption, apa yang ditampilkan hanya sebatas pencitraan belaka. Generasi milenial yang rela melakukan apa aja demi jutaan viewers, comments dan likers. Popularitas jadi tujuan utama.

Seleb dadakan mulai bermunculan. Dari yang berprofesi sebagai seleb asli di dunia nyata, sampai para climber aka selebgram wannabe yang rela mengemis endorse ke sana sini dan rela merogoh kocek lebih dalam buat beli follower palsu supaya diakui eksistensinya oleh jagad dunia maya.

Pernah juga lihat akun IG akhwat yang sama sekali nggak pernah pajang foto diri. Pernah bikin postingan tentang bahayanya wanita mengupload foto diri, baik itu selfie, wefie maupun candid ala-ala. Pernah juga posting tentang larangan bermesraan dengan pasangan lalu diupload di sosial media. Fyi, akhwat ini bercadar ya.

Selang beberapa saat, saya mendapati video dirinya beserta suami manteng di IG story. Bukan candid lagi tapi sengaja ber-wefie ria. Jelas banget, gak pake diblur atau sticker. Suaranya juga yang centil-centil manjah gitu deh. Alamak…

Saya jadi bertanya-tanya dalam hati.. Apa karena Snapchat, IG story, WA story, FB story yang dalam 24 jam akan hilang, banyak orang jadi bermudah-mudahan mengunggah sesuatu yang tadinya nggak perlu atau bahkan nggak boleh diunggah?

“Ah, dalam 24 jam juga bakal ilang sendiri..”

Hmmm.. Mungkin mereka lupa ya ada fitur screenshoot atau storysaver. Jadi ya bebas-bebas aja gitu mau posting apa aja. Termasuk yang malu-maluin dan nggak banget buat dipost.

Apalagi fitur live streaming IG. Buat saya itu lebih berbahaya karena kita tidak bisa mengontrol apa saja yang dilihat oleh audiens. Namanya juga live alias siaran langsung, anything could happen tanpa bisa diprediksi.

Kadang nggak sengaja aurat kita kelihatan karena angle kamera yang terus bergerak. Kadang isi rumah jadi kelihatan karena nge-livenya di kamar atau sambil muter-muter di rumah. Kecuali emang tujuannya buat mamer ya, nah lain lagi itu, hehehe.

Saya pernah merasakan langsung ketidaknyamanan fitur live ini. Waktu itu saya sedang ikut baking class bersama teman-teman. Iseng pengen nyoba fitur live Facebook, nah saya nge-live mulai dari ngaduk bahan, mencetak, menghias topping sampai masuk oven. Lumayan buat arsip resep.

Beberapa jam setelah video live itu diposting di Facebook, ada satu pesan Whatsapp masuk dari seorang teman..

“Mbak Tia, afwan itu video yang aku lagi ngaduk adonan pake mixer tanganku sedikit kelihatan. Emang aku gak pake lengan panjang, karena aku pikir kan di rumah dan nggak ada laki-laki.. Jadi tanganku aku tutupin jilbab aja. Dan sepertinya waktu ngaduk tadi agak terbuka sedikit…”

“Oh iyakah mbak? Waduh maaf ya, aku nggak teliti. Tadi langsung live jadinya nggak liat dan nggak sempet diedit lagi. Maaf banget ya mbak atas ketidaknyamanannya, segera aku hapus videonya. Afwan yaa..”

Tanpa nunggu lama, langsung saya hapus video itu dari Facebook. Jadi pelajaran banget kejadian ini bagi saya. Supaya nggak bermudah-mudahan dalam merekam aktivitas secara live, baik sendiri maupun bersama orang lain. Apalagi orang tersebut tidak saya mintai persetujuan lebih dahulu. Lesson learned.

Padahal Facebook saya isinya perempuan semua, kecuali suami dan satu orang kerabat laki-laki. Privacy setting juga friends only, not public. Gimana yang followernya ratusan bahkan ribuan dan disetting publik siapa aja bisa lihat. Apa nggak lebih beresiko?

Ada lagi kisah dua wanita muda di luar nagrek sana yang lagi mabok sambil nyetir plus nge-live di Instagram. Cekikikan, meracau dan ketawa-tawa gak jelas, sambil terus minum dan berpose ke kamera.

Tak lama, suara cekikikan mereka berubah menjadi jeritan. Terdengar bunyi “braaaakk” seperti membentur sesuatu lalu silent. Layar mendadak gelap dan sepi. Ternyata mobil yang mereka kendarai menabrak tiang lampu dan mereka berdua tewas di tempat dalam kondisi yang mengenaskan.

Nyetir sambil texting or calling aja bahaya, saya sebel banget kalo ketemu rider model begini. Apalagi ini lagi tipsy karena nenggak miras sambil nge-live pula. Seluruh dunia jadi tahu detik-detik menjelang kematiannya sendiri. Na’udzubillah min dzalik 😦

Yang lagi kekinian, fenomena ngaji sambil live Instagram atau Facebook. Jadi ngaji sambil ngerekam ustadznya, ada yang gadgetnya dipegang langsung (biasanya yang kek gini suka kena tegor panitia, wkwk). Ada juga yang hapenya ditaruh di lantai dengan kamera menghadap ke ustadz. Ada juga yang sambil selfie centil dengan background jama’ah kajian.

Yassalam, thullab jaman now… πŸ˜“

Ngaji ya ngaji aja atuh, khusyuk menyimak, mencatat, masukin ke hati.. Ngapain pake nge-live segala? Apa iya konsen ngaji sambil nge-live? Apa nggak bikin tergoda untuk liat siapa aja yang join, ngasih love dan komen?

Kalo tujuannya buat ngajak orang ngaji, supaya tertarik kajian, tinggal share aja info kajiannya. Atau share catatan dan faidah materinya. Beres. Itu kalo tujuannya benar mau share kebaikan, bukan mau narsis terselubung.

Justru bagi saya, ada hal lain yang perlu diperhatikan ketika kita hobi nge-live kajian di sosial media: berkurangnya keikhlasan.

“Ini lho saya lagi ngaji, sama ustadz Anu, di masjid ini..”

Semoga Allah selalu menjaga niat dan keihlasan kita dalam beramal shalih. Cukup malaikat yang mencatat rapi amal-amal kita, tanpa harus kita posting di sosial media.

The older you get, you start to see how important privacy is. Not everyone needs to know what goes on you. Always love this quote by Emma Watson:

“The less you reveal, the more people can wonder..”

The full quote is talking about her definition of “sexy”. But I find these words quite relevant with this privacy on social media issue. An issue which social media user tend to neglect.

Semakin kita membatasi diri di sosial media, semakin misterius kita di mata orang lain. Semakin kita jor-joran dan buka-bukaan, apa aja dipublish, semakin orang lose interest sama kita. Apa yang spesial? Wong semua udah diumbar.

Pointnya bukan di lose interestnya orang ke kita, tapi lebih pada kenyamanan diri kita dan orang lain dalam bersosial media. Pernah dong nemu fenomena ajaib di sosmed, apa aja diumbar. Sampai hal yang sangat rahasia dan pribadi sekali, (plus malu-maluin) ikut dipublish. Dan kita (sebagai pembaca) sama sekali nggak nyaman dengan itu. Spontan merasa risih dan hasrat untuk unfollow datang seketika.

Dulu sempet ada joke begini…

“Jaman sekarang, apa-apa serba dipublish ke sosmed. Lagi makan, jalan jalan, belanja ke pasar, liburan, hang out, ngopi, sakit, sampai kejadian pasca kecelakaan.. Semua serba diupload. Tinggal lagi (maaf) BAB aja nih yang belum.. Ntar dikit lagi juga ada.”

And, voilaaaa! Belum lama ini ada video orang lagi nge-live langsung dari WC. Huahahaha. Yes, dari WC! Saya sih nggak nonton langsung (and I assure you that I won’t!) cuma baca beritanya doang. Geleuh pisan euyyy πŸ˜…

Di mata saya, mereka yang sangat menghargai privasinya, paham betul mana ranah pribadi dan ranah publik, bijak menetapkan batas mana saja yang perlu dipublish dan mana yang tidak itu.. Keren abis. Totally cool.

“Trus, nggak boleh gitu share kehidupan pribadi? Lalu apa gunanya sosmed? Buang tinta di diary aja kalo gitu mah..”

Well, sosmed memang diciptakan untuk sharing, untuk berbagi. It’s okay-okay aja kok sharing, asal nggak berlebihan dan tetap dengan prinsip bahwa privasi adalah satu hal penting yang wajib dijaga.

Paham bahwa apa yang kita share di sosmed, will stay there forever. Internet never forgets. Selalu ada jejak yang ditinggalkan meski kita telah berusaha menghilangkannya. We try to delete the traces, and then there’s screenshoot πŸ™‚

Paham bahwa TIDAK SEMUA yang kita alami HARUS diupload ke sosmed. Not every part of our private life needs to be public. Jika bukan kita sendiri yang menghargai privasi kita, lalu siapa lagi?

Ada hal-hal yang boleh bahkan perlu dimunculkan di ruang publik, ada hal-hal yang cukup kita dan orang-orang terdekat saja yang tahu. Tidak semua harus kita tunjukkan pada dunia. Let’s keep it for ourselves.

Mature people keep their private life private. They keep people curious. Stay low-key, leave people clueless, and let them assume what they want.

Sharing is okay, oversharing is not. If we continue to publish own our life to social media, then what’s left for privacy?

Have a blessed (rainy) day! 😊

~ Jakarta, end of September 2017…  because a private life, is a happy life ❀

Β© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

12 thoughts on “Keep Your Private Life Private

  1. I love your words mba.
    Salam kenal. My name is nita.
    Oh iya mba, saya pengguna sosial media yang terbilang sudah lama. Dan tak luput dari dunia perbloggeran. Saya kala itu sempat galau segalau-galau-nya. Saya takut dengan tulisan saya sendiri. Lantas saya berdikusi dengan guru saya. Dan dengan penjelasan beliau dan tulisan-tulisan mba, saya kini sudah berani menulis lagi. Menulis untuk selfnote yang terinspirasi dari orang lain dan semesta.
    Dankeshon mba.

    • Salam kenal kembali, Nita. Thank you for reading my posts ya.. Alhamdulillah..

      I see.. Namanya menulis pasti ada titik galaunya. Ada titik jenuhnya juga. Tapi dengan berlalunya masa, jika kita benar-benar mencintai aktivitas ini.. Kita akan kembali jatuh cinta dan memulainya lagi. Menulis untuk berekspresi, menginspirasi dan mengingatkan diri sendiri.
      Barakallaahu fiik 😊

  2. super nice post mbak πŸ‘
    sharing was fun at first, tp lama2 kok rasanya πŸ˜…
    saya jadi mikir, kita ini hidup buat siapa sih, kalo apa2 dipublish. do i/they live to please others? krn lama2 lelah juga bentar2 ambil hape, edit sana-sini, mikirin caption, aduh repot πŸ˜‚
    ujung2nya jadi ga menikmati apa yg lagi dilakuin krn sibuk sm hape.

    • Yes, absolutely agree! 😊

      Capek ya lama-lama. Kita jadi nggak bisa live in the moment dan menikmati apa yang sedang terjadi saat ini karena terlalu musingin angle, filter, caption dan reaksi orang2 terhadap postingan kita.

      Thank you for coming ^^

  3. Persis pemikiranku akhir2 ini. Tambah umur, Alhamdulillah tambah sadar “fungsi” sosial media. Maklum, jaman muda dulu termasuk yang apa2 semuanya di-share di sosmed. *sigh*
    Anyway, ku “tamu” baru di blog-nya teh. Ijin “keliling2” ya. Hehe.
    Cheers. ☺

    • Salam kenal, Uyu 😊

      Tiap orang pasti pernah oversharing di sosmed ya, tapi dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kita makin sadar bahwa privacy adalah hal penting yang harus dijaga. Dan nggak semua yang kita alami harus dishare ke sosmed ^^

  4. Hai mbak, senang sekali membaca tulisannya. Serasa ada yang mewakili untuk mengemukakan pendapat 😊.
    Hal ini yang setahun belakangan menjadi keresahan tersendiri bagi saya. Alhamdulillah akhirnya saya berhasil hapus semua foto dr ig (krn kebanyakan fotonya foto wefie dan bbrp selfie). Dan rasanya semakin tidak nyaman untuk share hal-hal yang agak private di story, kadang baru berapa menit atau hitungan jam langsung saya hapus lagi, khawatir orang lain terganggu dengan yang saya bagikan seperti saya yang tidak nyaman dengan beberapa postingan teman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.