Jealousy: A Form of Hatred Built Upon Insecurity

“Envy and jealousy are symptoms of lack of appreciation of our own uniqueness and self worth. Each of us has something to give that no one else has.” ~ Unknown

Pernah nggak sih ngerasa heran ketika ada orang yang mati-matian merasa bersaing dengan kita dalam segala hal? Pokoknya nggak mau dan nggak boleh kalah, harus lebih hebat. Suka kepo and want to knooow aja semua urusan kita. Di matanya, kita adalah saingan beratnya.

Ketika kita dapat nikmat, dia sengsara. Ketika kita dapat musibah, dia bahagia. Senang liat orang lain susah, susah liat orang lain senang. Life for them is merely a competition. A toxic rivalry.

Padahal kita justru merasa bahwa life is so simple and yes, we just let it flow.. Boro-boro menganggap orang lain sebagai saingan, wong dia begini begitu aja kita nggak tahu, dan nggak pengen tahu juga. Nggak penting 😛

Mereka yang percaya dengan kemampuan dirinya, nggak perlu bersaing di sana sini hanya untuk merasa hebat. Nggak perlu merendahkan bahkan menjatuhkan orang lain hanya untuk merasa dirinya lebih tinggi. Those are only for the insecure ones.

Dan ketika ada orang-orang yang merasa tersaingi dan bahkan terintimidasi dengan keberadaan kita, we just can’t stop wondering why.

“What? Dia ngerasa bersaing dengan saya? Kenapa saya? Dalam hal apa? Apa yang di-iri-in dari saya? Nggak ngerti, euy..” 😅

Karena bagi kita, kedamaian dan rasa syukur terhadap apa yang ada adalah prioritas utama dalam hidup. Kita tetap bisa menjadi manusia hebat versi kita sendiri tanpa terus membandingkan diri kita dengan orang lain.

Comparison is the thief of joy. Terus menerus membandingkan perjalanan dan pencapaian diri kita dengan orang lain itu melelahkan. We are all special and unique, in our own way. Everybody is different and has something awesome to offer the world, including you.

Perasaan insecure, the-oh-i-am-not-good-enough-feeling itu, sejujurnya amat menyiksa. Ia menjauhkan pemiliknya dari ketenangan hidup. It steals the joy in life.

Don’t let insecure thoughts ruin something amazing.What you have in life, is truly a gift. Be thankful of what you have, you will end up having more. Fokus pada piring sendiri membuat hidup ini jauh lebih indah dan hati lebih tenang.

Jika terbersit sedikit saja rasa iri dan hasad atas kenikmatan yang ada pada orang lain, segeralah beristighfar dan menghitung-hitung kembali apa saja nikmat yang telah Allah berikan hingga saat ini, yang tak bisa diukur oleh materi.

Mendengar berita kelahiran, kesembuhan, saudara kita mendapat rezeki atau naik jabatan, prestasi teman anak di sekolah yang mengagumkan..

Melihat binar mata bahagia saudari kita yang hendak melangsungkan pernikahan tak lama lagi setelah penantian panjang..

Semua itu secara tidak sadar, seharusnya membuat kita ikut berbahagia. Kecuali jika memang di hati kita sudah ada penyakit: senang lihat orang lain susah, susah lihat orang lain senang.

Kalau di hati sudah bercokol penyakit tersebut, maka serapat apapun saudaranya menyembunyikan kebahagiaan atau kesedihan yang dimilikinya, selalu ada celah yang dapat ia cari-cari untuk menjatuhkan saudaranya.

Sesungguhnya, tidak ada manusia yang selamat dari penyakit hasad. Seperti ucapan Ibnu Taimiyah Rahimahullah..

“Jasad tidak pernah kosong dari hasad, yang buruk adalah yang menampakkannya dan yang mulia adalah yang menyembunyikannya.”

Seseorang yang memiliki penyakit hasad dan memilih untuk merawatnya bukan menyembuhkannya, maka sesungguhnya ia tak pernah bersyukur dan ridha pada pembagian Allah. Tidak pernah lapang hatinya pada apa yang Allah telah berikan kepada orang lain serta kepada dirinya sendiri.

“Sesungguhnya hakikat hasad adalah bagian dari sikap menentang Allah Azza wa Jalla, karena ia (membuat si penderita) benci kepada nikmat Allah Azza wa Jalla atas hamba-Nya; padahal Allah Azza wa Jalla menginginkan nikmat tersebut untuknya. Hasad juga membuatnya senang dengan hilangnya nikmat tersebut dari saudaranya, padahal Allah benci jika nikmat itu hilang dari saudaranya. Jadi, hasad itu hakikatnya menentang qadha’ dan qadar Allah Azza wa Jalla.” [Ibnu Qayyim al Jauziyyah]

Jika hati sudah dihinggapi penyakit hasad.. Segala cara ia lakukan, agar bisa mengungguli atau minimal menyamai kelebihan yang dimiliki saudaranya. Bahkan jika ia tidak berhasil mendapatkannya, ia akan berusaha agar kenikmatan itu hilang dari saudaranya.

Jika hati sudah dihinggapi penyakit hasad… Jiwanya selalu sibuk dan lelah untuk berlomba dalam persaingan yang tak ada habisnya. Waktunya habis untuk hal-hal yang justru menjerumuskannya dalam kebinasaan.

Jika hati sudah dihinggapi penyakit hasad.. Tak pernah bersyukur dan ridha pada pembagian Allah. Tak pernah lapang hatinya pada apa yang Allah telah berikan kepada orang lain serta kepada dirinya sendiri.

Begitulah jika hati sudah dihinggapi penyakit hasad… Maka kebahagiaan saudaranya adalah kesedihannya, kesedihan saudaranya adalah kebahagiaannya.

Padahal sempurnanya iman seseorang adalah ketika ia mencintai untuk saudaranya, segala sesuatu yang ia cintai untuk dirinya sendiri.

“Ya Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10)

~ Jakarta,  October 2017… jealousy is disease, get well soon, dear 🙂

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

Advertisement

2 thoughts on “Jealousy: A Form of Hatred Built Upon Insecurity

  1. hal pertama yg sebaiknya dikedepankan saat kita menyadari bahwa ada yg hasad thd diri kita dlm hal apapun itu adalah:
    “adakah yg kita lakukan/tampilkan menjadi penyemai bibit dari hasadnya saudara kita?”.
    sungguh syaitan sangat lihai dalam menjerumuskan manusia dlm kamuflase perasaan mereka sendiri.
    seiring waktu, niat untuk berdakwah lewat media dan cara apapun itu terkadang bercampur dengan inginnya menampilkan saya.. saya dan saya..
    …saya bersyukur suami saya begini, keluarga saya begitu.. anak2 saya demikian dan demikian..
    tidak ukhti.. bahkan tidak perlu foto2 pribadi penghias sosmed untuk bisa menjadi sumber hasad saudara kita. terkadang apa yg kita tampilkan dlm tulisanpun tanpa sadar memberikan efek yg sama dengan cuplikan foto atau video yg biasa ditampilkan orang yg blm belajar sunnah..
    murnikan niat untuk dakwah tanpa harus ditumpangi keinginan untuk menonjolkan diri sendiri..
    i’ve been waiting for years to write you this. ukthi, semoga Alloh memberikan ganjaran yg sangat besar thd ukhti karena 5-6 tahun yg lalu, tulisan2 ukhti membuat saya mengenal sunnah.. saya yg dulunya blm berhijab bahkan bisa dengan mudah dan bahagianya saat itu menerima bahwa cadar itu adalah sunnah yg sangat indah..
    saya sangat sangat sering membagikan tulisan ukhti kepada teman2 yg jg pelan2 (alhamdulillah) menerima sunnah. begitu pula dgn suami saya..
    namun kemudian saya merasa bahwa semakin lama tulisan2 ukhti mulai dipenuhi dengan bagaimana ukhti menggambarkan diri sendiri.
    menuliskan hikmah dari keadaan sekitar dan berakhir pada frase indah bahwa ukhti bersyukur bahwa diri ukhti/keluarga ukhti/hidup ukhti tidaklah demikian.
    entahlah.. lalu saya sempat bbrp lama meninggalkan blog ini dan kemudian karena saya rindu nasehat, saya kembali lagi.. (tentu, saya rindu tulisan2 nasehat yg dulu membawa saya mengenal manhaj yg mulia ini).
    dan hari ini saya menemukan tulisan ini. mohon maaf ukhti kalau apa yg saya sampaikan tidak berkenan. saya juga sempat membaca bahwa ukhti mengaku bersifat cuek thd hal2 yg tidak/kurang penting.
    jika sekiranya tulisan ini adalah bentuk hasad saya thd ukhti, maka mohon dimaafkan. acuhkan saja pendapat saya. trust this won’t be a problem with you.
    jerat ujub itu begitu halus. dan saya juga sedang berada dititik itu – berusaha memurnikan niat saat berdakwah.
    jazaakillahu khairan
    wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokaatuh

    Like

    • Terima kasih banyak atas nasehat ukhti kepada saya, senang rasanya mendengar persepsi orang lain tentang saya. Insya Allah menjadi masukan bagi perbaikan diri untuk ke depannya.

      But first of all, let me state you the fact behind this story. This is NOT ABOUT ME 🙂

      Yang saya paparkan di sini adalah pengalaman orang lain. Seorang teman mengirimi saya pesan via inbox, apa yang ia alami sama persis seperti apa yang saya uraikan di sini. Jadi bukan saya yang mengalaminya ya. Please note that before you jump into conclusions 🙂

      I told my readers so many times, apa yang saya posting di blog dan sosmed, tidak selalu apa yang saya alami sendiri. You can read my previous post titled: Looking Through A Writer’s Eyes.

      You’ve been waiting for years for writing this for me? Srsly? What took you so long? Whenever you find my post are annoying, rude or offensive, you can ask for my email anytime. Or if you follow me on social media you can DM me anytime.

      Karena nasehat yang baik adalah nasehat yang disampaikan secara sembunyi-sembunyi, bukan terang-terangan. Terlebih jika apa yang kita rasakan boleh jadi hanya asumsi pribadi. Not based on facts.

      For my readers, especially you, Miss Anggun.. In this blog, I am who I am inside of me. I write what I want to write, what bugging my head so much, from my own perspective.

      Since the beginning, I never adjust myself to fulfill or satisfy my readers. I try not to change myself to be likable or accepted by people.

      Thank you for your advice, but this is my way to express myself. And one thing to be noted: ketika saya menulis sesuatu, tidak berarti saya mengalaminya sendiri 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.