Hidup Tenang Tanpa Hutang

A long time ago.. Seorang teman pernah bercerita pada saya…

“Mbak, aku punya temen yang gampang banget ngutang, tapi susaaah banget bayarnya. Kalo ditagih ada aja alasannya. Ya lupa lah, nggak bisa transfer sekarang lah, uangnya dipinjem lah.. Pokoknya selalu cari-cari alasan untuk nggak bayar.

Dan akhirnya aku tahu ternyata korbannya bukan hanya aku, tapi ada beberapa orang yang masih satu circle dengan aku juga. Jadi sepertinya berhutang ini bagi dia seperti habit, kebiasaan yang sudah mendarah daging.

Padahal temenku itu bukan orang susah, mbak. Dibandingkan aku ya jauh lah.. Kebanting aku mah. Tapi memang gaya hidupnya serba mewah. Entah apa yang membuatnya menggampangkan masalah hutang dan sengaja mempersulit diri untuk melunasinya.

Kadang kalo aku scroll sosmed dan muncul postingannya lagi show off barang-barang branded, lagi traveling ke sana sini.. Aku suka ketawa sendiri. Kok bisa-bisanya ya dia pamerin itu semua, sedang hutangnya tersebar dimana-mana dan belum dibayar sampai saat ini.

Cara nasehatinnya gimana ya mbak? Aku sebetulnya kasihan sama dia. Karena kalo dia menyepelekan masalah hutang, kan nanti dia sendiri yang rugi di akhirat kelak. Wong orang yang mati syahid aja ruhnya terpenjara karena masih punya hutang…”

At first, I was speechless. Hard to believe. Ada orang yang secara materi berkelimpahan, tapi membayar hutangnya yang tidak seberapa (namun tersebar di mana-mana), sangat susah.

Saya paham ketika ada orang yang susah melunasi hutangnya karena kemampuannya terbatas, benar-benar sulit karena memang tidak ada untuk membayar. Tapi ini, orang yang sangat berkemampuan untuk membayar namun sengaja menunda-nunda karena alasan yang dibuat-buat.

Sengaja menunda hak orang lain sedang kita mampu untuk membayarnya adalah sebuah bentuk kezhaliman. Kita bisa bayar saat ini juga, tapi sengaja mengulur waktu.

“Kali-kali yang ngutangin lupa, atau sungkan nagih, syukur-syukur nanti ujung-ujungnya diikhlasin..”

Saya pernah ketemu sama orang model begini. Hutangnya ada dimana-mana, tanpa niat membayar. Kalo ditagih jawabannya entar sok entar sok aka nanti besok. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya ada beberapa yang mengikhlaskan hutang-hutangnya karena sudah capek dan putus asa untuk menagih.

Padahal saya tahu banget, dia mampu loh buat bayar. Handphonenya aja selalu keluaran terbaru. Gaya hidupnya boleh dibilang di atas rata-rata. Makan enak, jalan jalan terus, kendaraan mentereng. Ternyata semua itu didapat dari hasil N-G-U-T-A-N-G.

Cobalah sedikit berempati, sudah kita meminta tolong padanya, ia berbaik hati meminjamkan hartanya kepada kita, namun kita malah memanfaatkan kebaikan hatinya untuk memenuhi nafsu dan ego demi dicap keren dan bergengsi.

Catet yaa…

Bukan berhutang untuk sesuatu yang urgent atau darurat. Bukan berhutang karena memang butuh. Bukan berhutang karena tidak punya duit. Tapi berhutang karena sengaja bermudah-mudahan dan membiasakan diri untuk berhutang.

Padahal Rasulullaah shalallaahu alaihi wa sallam, manusia maksum yang telah dijamin surga atasnya, sangat takut akan fitnah hutang…

Dari Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam shalatnya,

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al Masih Ad Dajjal, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan fitnah mati. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang.” Kemudian ada seorang yang bertanya, “Alangkah seringnya engkau berlindung dari hutang.” Maka Beliau bersabda, “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka apabila berbicara berdusta, dan apabila berjanji mengingkari.” (HR. Bukhari)

Berhutang tidaklah terlarang. Asalkan memang dalam kondisi darurat, berniat untuk membayar, yakin memiliki kemampuan untuk membayar, dan tidak berniat menunda pembayaran tanpa udzur syar’i, maka tidak mengapa.

Yang jadi masalah adalah ketika berhutang sudah begitu lekat pada diri kita, sampai menjadi kebiasaan. Mau beli apa-apa, minta tolong teman talangin dulu. Bayarnya pas ditagih. Itupun setelah berkali-kali ditagih, sampai yang nagihnya capek dan males.

Pas ngutang aja manis banget, pas ditagih galakan dia daripada kita. Yang lebih parah, udah ngutang, ditagih susah, setelah lama baru dibayar, eh pas ketemu kita dijutekin, disindir, nggak disapa. Bahkan ada yang sengaja menyebar kabar dusta tentang kita seolah-olah justru ia yang terzhalimi. Playing victim.

Apalagi sudah banyak hutang, belum dibayar (entah kapan bayarnya), ditagih susah, hobi pamer pulak di media sosial. Setidaknya, ketika kita masih ada sangkutan sama seseorang, kita (seharusnya) akan merasa malu untuk pamer ini itu. Gimana kalo nanti yang ngasih kita hutang itu baca?

“Bisa beli ini itu, plesir kesana kemari, posting barang-barang mahal, tapi hutang sama saya belum lunas, tiap ditagih susah. Kocak banget deh ah…”

Gaya hidup konsumtif itu merugikan pemiliknya. Apalagi gaya hidup konsumtif yang tidak dibarengi dengan kemampuan. Maka terbitlah generasi BPJS aka Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita. Mau keren tapi maksa. Mau nampang dan mentereng tapi nggak ada modal. Yang penting harus tampil classy dan kekinian. Kalau nggak punya duit ya gampang, bisa ngutang atau… nipu.

Wal’iyadzubillaah 😦

Kalau memang nggak mampu yowes hidup sederhana aja, apa adanya. Nggak perlu memaksakan harus tampil wah dan serba branded. Apalagi tampil wah dari hasil ngutang. Malu-maluin kuadrat itu namanya. Ish.

Kadang suka mikir, memaksakan diri untuk tampil wah dengan barang branded yang menempel dari ujung kaki sampai kepala itu apa ya manfaatnya? Supaya kelihatan keren? Supaya dipuji? Supaya bisa diterima dalam circle pergaulan high class?

Saking inginnya tampil keren, dapat pujian dan diterima dalam sebuah komunitas, sampai mengorbankan hati nurani dan rasa malu. Bahkan sampai tega berlaku zhalim terhadap orang lain: hobi berhutang tanpa niat membayar aka ngemplang.

Prinsip yang ditanamkan dalam keluarga saya sejak kecil, jika ingin sesuatu, berkorbanlah. Mengumpulkan rezeki yang didapat sedikit demi sedikit, bersabar, kemudian baru memetik hasilnya. Jangan maunya serba instan. Saat ini ingin, saat ini juga harus dipenuhi.

Beli sesuai dengan kebutuhan, sesuai dengan kemampuan. Jangan sampai, saking nggak bisanya ngerem keinginan, dikejar-kejar hutang, dikejar tukang kredit, dibikin pusing oleh tagihan kartu kredit. Bahkan meninggal dalam keadaan meninggalkan hutang. Kasihan kan ahli waris kita..

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :

“Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab hutangnya sampai hutang dilunasi.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Darimi dan Ibnu Majah)

Mari memperkaya diri dengan sifat qana’ah. Merasa cukup dengan apa yang ada. Bersyukur dengan nikmat-nikmatNya.. Jika Allah saja tidak membebani diri kita di luar kesanggupan, lalu mengapa kita justru sebaliknya?

Hidup sederhana dan apa adanya, jauh dari hiruk pikuk perlombaan duniawi itu menenangkan. Bayangkan betapa merdekanya hidup sederhana tanpa hutang. Lalu bayangkan pula hidup mewah tapi sengsara karena dikejar hutang.

Tak perlu merasa hina dan malu ketika hidup sederhana. Karena yang benar-benar kaya dan berkecukupan, biasanya justru makin membumi dan banyak berbagi. Bukan justru makin tamak dan show off sana sini. Sampai rela memakan harta orang lain demi prestise dan sanjungan manusia.

Bergayalah sesuai isi dompetmu. Karena sederhana bukan masalah mampu beli atau tidak, bukan juga tentang kadar kemampuan finansial. Sederhana, adalah gaya hidup. Gaya hidup yang kita pilih sendiri dari hati.

Pesan ibu sejak kami masih kecil-kecil dulu,

“Sederhana itu bukan masalah punya duit atau nggak punya duit. Sederhana itu gaya hidup. Kadang orang bayar mahal bukan karena makanan yang dia makan atau baju yang dia pakai, tapi karena gengsinya. Bukan hidup kita yang mahal, tapi gaya hidup kita yang mahal. Nggak papa makan sederhana, apa adanya, yang penting hidup tentram, hati tenang, jauh dari hutang..”

~ Jakarta, Oktober 2017.. karena biaya hidupmu tak pernah semahal rasa gengsimu..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.