Social Media: Just Take It or Leave It

Mau posting hasil karya, takut dibilang show off keahlian..

Mau posting foto liburan, takut dibilang pamer kendaraan dan gaya hidup..

Mau posting nasehat, takut dibilang sok suci, sok paling bener…

Mau posting tips and trik berbisnis, takut dibilang sok pinter, sok sukses…

Mau posting foto makanan, takut dibilang nggak empati sama yang lagi laper..

Mau posting yang kocak-kocak, takut dibilang status receh dan kurang kerjaan…

Mau posting pengalaman seru dan konyol hari ini, takut dibilang apa-apa curhat…

Mau posting momen-momen penting seperti pernikahan, kehamilan dan kelahiran, takut menyinggung perasaan mereka yang belum dikaruniai nikmat serupa…

Jika tiap mau posting sesuatu selalu dihantui perasaan takut, takut menyinggung, takut nggak ada yang ngelike, takut dikomen negatif…

Ada baiknya jadi silent reader aja, atau tutup semua akun sosmed. Dijamin deh nggak bakal ada yang protes. Lha iya wong memang nggak pernah posting kok, apa yang mau diprotes? 😜

Yang namanya sosmed itu tempat untuk sharing, untuk berbagi. Berbagi ilmu, berbagi momen-momen tertentu, berbagi kebahagiaan, berbagi resep, dsb. Capek juga kalo kita SELALU mencemaskan penilaian orang lain tentang kita.

Selalu lho ya, bukan cuma sesekali. Kalo sesekali ya wajar, bahkan harus. Tapi kalo tiap mau posting sesuatu serba nggak enak, takut menyinggung, takut nggak disukai, takut nggak ada yang respon.. Naini yang repot.

Yang namanya sosmed, hakikatnya adalah tempat untuk tampil dan menonjolkan diri. Manusia itu karakternya beragam, nggak bisa disamain satu dengan yang lainnya. Coba aja kita tengok tetangga atau rekan sekerja kita, macem-macem kan karakternya?

Ada user yang cuma SR aka silent reader, ada yang aktif posting, ada yang jarang posting tapi rutin komentar atau ngelike, ada yang memanfaatkan sosmed untuk buka lapak dagangan, ada juga yang hobinya bikin rusuh di postingan orang.

Jadi harus dipahami bahwa itulah hakikat sosmed, memfasilitasi penggunanya untuk eksis dan menonjolkan diri. Kumpulan tipe-tipe manusia yang berbeda dengan berbagai latar belakang. Jenis hal yang diposting tentu berbeda pula.

Timeline saya contohnya, ada yang sukanya ngebodor abis, kalo posting, meski bahasannya serius, pasti bikin yang baca ketawa. Ada lagi yang postingannya serba serius dan sarat ilmu semua, jarang sekali bercanda.

Ada juga yang dikaruniai berbagai keahlian, multitalenta banget, apa aja serba bisa. Ada yang tipe high spirited, motivator sejati. Ada juga yang kerjannya cuma ngeluh dan ngeluh tiap hari. Ehehehe.

Anyway, buat saya fenomena seperti itu seru kok.. Timeline jadi berwarna-warni, nggak monoton. Kadang bikin saya ngikik dengan jokes dan meme-memenya yang kocak, kadang bikin saya nangis dan merasa tertohock dengan postingan nasehat yang makjleb abisss.

We must accept that this is what social media was created for. The option is: take it or leave it. Kalo suka ya pakai, nggak suka ya tinggalkan. Kalo nyaman ya follow, nggak nyaman ya unfollow.

Simple kan?

Kalo memang gampang baper lihat postingan orang lain, ya jangan dilihat. Kalo memang nggak suka sama tipe orang tertentu, ya jangan difollow. Kalo memang hati berpotensi besar untuk hasad, ya jangan punya akun sosmed.

Kita nggak bisa ngatur orang lain supaya posting ini dan jangan posting itu. Yang bisa kita lakukan adalah cerdas memilih dan memilah mana yang kita lihat di timeline sosial media kita.

Terus berusaha menata hati agar nggak gampang baper. Berusaha untuk cuek terhadap hal-hal yang sama sekali nggak penting. Berusaha untuk turut berbahagia dengan bahagianya orang lain.

Saya pernah sengaja off sosmed karena berbagai pertimbangan. Anak sakit, sibuk sama kerjaan, atau lagi males aja mau buka sosmed. Ingin lebih fokus ke kehidupan nyata aja. Dan setelah beberapa saat, balik lagi deh bersosmed ria.

Apapun yang kita lakukan, sehati-hati apapun kita dalam memposting sesuatu, pasti akan ada orang-orang yang nggak suka.

Kita berbuat baik, diomongin. Kita berbuat salah, dinyinyirin. Kita nggak pernah posting disangka jaim, kita aktif posting dibilang caper. Serba salah aku di matamu.

Nah, yang aneh itu kalo nggak suka, tapi dilihat terus bahkan sengaja dikepoin. Bolak balik ngecek, udah posting apa aja hari ini. Syukur-syukur pas lagi stalking nggak kepencet like atau love. Kalo kepencet kan jadi nggak seru.

O-ow kamu ketahuannn 😆

Selalu tergelitik dengan kata-kata Tere Liye berikut ini…

“Tidak ada yang menyuruh kita baca postingan orang lain, bukan?

Tidak ada.

Maka saat kita tersinggung, tidak terima, ngamuk saat membaca postingan orang lain, ingatlah baik-baik: tidak ada yang menyuruh kita baca. Kalau tidak suka, tinggal remove, block, unfriend, unfollow, unlike, dsbgnya.

Jangan jadi manusia rumit yang suka GR. Dikit2 tersinggung, dikit2 tidak terima. Ini sudah mau 2018, cerdaslah menggunakan media sosial.”

So, kalo emang ngerasa nggak cocok dengan plus minusnya sosmed, sederhana banget solusinya… Just leave it anyway. Sosmed bukan segala-galanya kok.

Hidup kita sebenarnya ya di luar sana. Jangan gegara sosmed kita jadi nggak punya kehidupan di dunia nyata. Dengan atau tanpa sosmed, kita tetap bisa berkreasi, bahagia dan menikmati hidup.

Hidup itu.. jangan dibikin ribet. Yang bikin nyaman pertahanin, yang bikin pusing bahkan darting, tinggalin. Udah tau nggak nyaman eh maksa tetep stay di situ. Kalo udah gitu salah siapa coba? Salah gue? Salah temen-temen gue? 😄

Life is wayyy so simple, but we insist of making it complicated. Slow down and take it easy darling, we don’t live to please others or make everyone happy. Kita hanya perlu merengkuh kedamaian dalam hati kita sendiri.

~ Jakarta, on a peaceful and rainy night, October 2017…

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

 

Advertisements

7 thoughts on “Social Media: Just Take It or Leave It

  1. make ma day 🙂
    Nb : silahkan main-main ke blog saya yaa.. isinya random thought saya berdasarkan kehidupan sehari-hari saya. mungkin ada yang ngerasa related durusang tinggalkan komentar, nggih 🙂
    https;//flawsometanoia.wordpress.com
    makasiii

  2. Hehe saya jenis yg leave it mbak, lagi malas bersosmed. Tengok-tengok aja jarang, apalagi nyetatus. Mungkin tipe yang gampang baper, jadi mending manteng wasap atau blog 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.