Budaya Selfie dan Terkikisnya Rasa Malu

Hobi selfie itu menular. That’s a fact. And that statement has been proved for so many times.

Tersebutlah seorang teman yang sosoknya sangat tertutup. Jarang posting foto pribadi. Boro-boro foto diri, foto anak aja juarang banget. Foto suami? Nah, never.

Akhir-akhir ini saya (dan beberapa teman) perhatikan, jadi lebih sering posting foto diri dan keluarga. Pertama, dari jauh, kedua, lebih dekat, ketiga, close up meski tersamar.

Awalnya cuma foto separuh badan. Lalu dari bahu sampai ke bawah. Sekarang dalam bentuk video full dari atas sampai bawah. Uncensored.

Dulu kalo posting foto anak, pasti wajahnya ditutup stiker atau disamarkan. Sekarang sengaja diperlihatkan tanpa sensor.

Dulu nggak pernah posting foto suami. Sekarang posting foto suami yang bagian wajahnya jelas kelihatan banget nget.

No wonder sih, sahabatnya memang doyan banget selfie. Dikit-dikit selfie. Alay. Centil. Ratu eksis. Banyak nasehat berdatangan tapi sepertinya susah sekali meninggalkan.

So….

Masih ada yang beranggapan bahwa kita nggak perlu pilih pilih teman?

Masih ada yang beranggapan bahwa pengaruh buruk itu tidak akan menular?

Masih ada yang beranggapan bahwa kita akan kuat dan istiqamah melawan semua godaan untuk eksis di tengah circle pertemanan yang addicted to this selfie thingy?

Teman saya tadi contohnya. Slowly changes. She has transformed into somebody I never know. Sedikit demi sedikit berubah menyerupai sahabat dekatnya.

Mulai menikmati kecanduan selfie.

Mulai menikmati panggung popularitas.

Mulai menikmati jadi the center of attention.

Mulai ketagihan untuk eksis dan tampil dengan media foto.

Mulai menikmati pujian yang mampir ketika foto-fotonya dikagumi dan dikomentari orang.

Hobi selfie gitu emang nagih ya? Banget. Coba aja tanya sama yang kecanduan selfie.

Semakin banyak likes, comments, compliments, makin ketagihan untuk terus jeprat jepret tanpa rasa malu.

Yang tadinya di tempat sepi, kini mulai berani di keramaian. Meski banyak mata tertuju padanya (bukan karena kagum, tapi karena merasa aneh) ia tak ambil pusing. Yang penting gue happy..

Maka menjamurlah akhwat-akhwat berhijab panjang bahkan bercadar yang ajojing dan jumpalitan nggak karuan di taman hiburan, pusat perbelanjaan, bahkan sengaja malang melintang di tengah rel kereta api demi mendapatkan spot yang keren dan anti mainstream.

Mau di jalan raya, toko buku, mall, angkot bahkan di atas jembatan penyebrangan, teteuup eksis ber-selfie ria dengan tongsisnya. Muter-muter geje, dadah-dadah entah ke siapa, lirak lirik dengan tatapan menggoda, swing-swing abaya dan khimarnya ala-ala princess sambil direkam oleh temannya.

Kadang kalo pas jalan ketemu gerombolan akhwat yang asyik narsis di keramaian, cekrak cekrek dengan pose-pose centil sambil cekikikan..  Justru saya yang merasa malu sendiri. Nggak kuat liatnya. Asli, malu bangettt.

Malu, karena aksi mereka sedikit banyak mencitrakan muslimah bercadar itu ya yang pecicilan, heboh dan hobi eksis bin narsis. Padahal kan tidak semua muslimah bercadar gayanya seperti itu, hanya sebagian saja.

Budaya selfie itu memangkas habis rasa malu kita sebagai muslimah. Yang tadinya malu pose-pose sendiri di hape dengan front camera.. Kini tak lagi malu berpose ekstrim dari berbagai angle di tempat ramai lalu dipublish ke sosial media.

Hijab includes the way a person walks, talks, looks, and thinks. All of it should be done modestly. Hijab bukan hanya penutup aurat. Niqab bukan hanya sekadar penutup wajah. It reflects in our attitude, manner and lifestyle.

Don’t live for others ‘likes’, ‘comments’ and stares. Maintain your modesty, humbleness and privacy. Live for Allah only. Then you’ll find what you’re looking for.

That’s why I put a big concern upon this issue. Karena korbannya bukan hanya satu dua.. Bukan hanya terjadi sesekali. Tidak sedikit mereka yang saya kenal baik sebagai akhwat yang pemalu, teguh dalam prinsipnya, berubah menjadi seperti ini.

Sad, but true.

Mereka yang tadinya sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya, dengan sosok diri dan keluarganya. Mereka yang tidak pernah sekalipun saya membayangkan akan doyan eksis dan selfie, kini berubah 180 derajat.

Qaddarullaah wa maasya’a fa’al…

Jangan pernah sekalipun merasa aman dari fitnah. Merasa percaya diri akan tetap istiqamah sepanjang hayat. Karena sungguh Allah adalah Maha Pembolak-balik Hati..

Itulah pengaruh teman. Teman yang baik akan membawa pengaruh baik. Begitu juga dengan teman yang buruk. Ingin tahu tentang seseorang? Jangan tanya dirinya, tapi lihatlah siapa teman dekatnya.

~ Jakarta, end of October 2017… the best jewelry a woman can wear is her shyness..

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Google & Pinterest ]

2 thoughts on “Budaya Selfie dan Terkikisnya Rasa Malu

  1. Sad but true 😓 entah knapa tulisan tulisan antum selalu bisa mewakili apa yg sya rasakan, ketika akhwat berniqab sudh bertebaran di dunia maya, sdh tidak lagi malu unggah foto selfie dg gaya yg terlalu ciamik, terlalu miris memang. Semangat menulis kk, saya suka tulisan2 antum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.