Love… is To Compromise

Sore ini ketika membuka beranda Facebook, pandangan saya tertuju pada tulisan Pak Cahyadi Takariawan yang penuh makna berikut ini…

MENERIMA PENGARUH PASANGAN

Kondisi 1

Kamu ga suka durian, bahkan pusing kalau mencium bau durian. Tapi pasangan kamu sangat suka durian.

Kondisi 2

Kamu suka banget durian, bahkan pusing kalau lama ga makan durian. Tapi pasangan kamu sangat benci durian, dan tidak mau mencium baunya.

Pertanyaan : bagaimana seharusnya sikap anda berdua?

Ini ulasan saya.

Setelah menikah, kamu harus membuka diri seluas-luasnya untuk berubah bersama pasangan. Kamu harus merelakan adanya intervensi dalam kehidupan baru bersama pasangan.

Tidak bisa lagi kamu bersikukuh mempertahankan ‘orisinalitas’ diri kamu, tanpa mau berubah bersama pasangan. Inilah konsekuensi hidup berumah tangga.

Pada saat resepsi pernikahan dulu, kamu banyak mendapatkan hadiah serta ucapan selamat.

Banyak orang mengucapkan kalimat “Selamat Menempuh Hidup Baru” kepada pengantin berdua. Kamu pasti masih ingat ucapan dan harapan seperti itu dari keluarga, sanak saudara, serta sahabat-sahabat kamu saat melaksanakan upacara resepsi pernikahan.

Ucapan itu memiliki pesan yang mendalam, bahwa usai akad nikah, kamu dan pasangan benar-benar menempuh sebuah kehidupan yang baru sama sekali. Sebuah dunia yang bertanggung jawab dan unik.

Di antara yang baru dalam kehidupan setelah pernikahan adalah kejiwaan yang baru, hasil bentukan dari jiwa suami serta jiwa istri yang terikat dengan rumus tertentu yang tepat. Jiwa baru ini tidak terbentuk dengan sendirinya hanya karena ada akad nikah, namun ia terbentuk dengan sebuah proses.

Suami dan istri berinteraksi setiap hari dan menyusun puzle jiwa dalam satu bidang kehidupan. Suami membawa keping puzle jiwanya, istri membawa keping puzle jiwanya, lalu mereka berdua bekerja sama menyusun keping-keping puzle jiwa mereka untuk memenuhi bidang kehidupan rumah tangga mereka berdua.

Kenyataannya keping puzle yang mereka bawa berbentuk tidak beraturan, maka ketika disusun untuk memenuhi bidang kehidupan, selalu ada rongga sisa. Ada ruang kosong yang tidak terisi.

Satu-satunya cara untuk memenuhi ruang-ruang kosong tersebut adalah dengan mengubah bentuk keping puzle bersama-sama.

Suami bersedia mengubah bentuk keping puzle-nya, istri bersedia mengubah bentuk keping puzle-ya. Dengan cara ini, semua bidang akan terisi dan terpenuhi oleh keping puzle mereka berdua.

Berapa lama waktu yang mereka perlukan untuk memenuhi bidang tersebut, tergantung dari berapa lama waktu yang mereka sediakan untuk berubah, menerima pengaruh dari pasangan.

Dalam contoh kasus durian, yang suka durian harus bersedia menurunkan kadar kesukaannya. Yang benci durian harus bersedia menurunkan kadar kebenciannya. Pasti akan ketemu di satu titik.

This post suddenly reminds me of that silly story about durian and pare… 😄

Dulu, sebelum menikah, saya nggak doyan banget sama yang namanya durian. Waktu kecil pernah punya trauma makan durian. Habis diajak makan durian di rumah temen, entah kenapa langsung jackpot. Setelah itu total gak mau lagi nyentuh durian, nyium baunya aja ogah. Masih kebayang momen dan aroma pas si durian keluar lagi dalam bentuk lain 😂

Setelah nikah, baru tahu ternyata suami adalah penggemar durian. Nggak sampe yang addict banget sih, ya cukup suka aja. Nah, waktu hamil anak pertama dulu, pas musim durian. Beliau pulang kerja bawa durian. Pertama-tama sebel. Baunya bikin eneg. Sama suami disuruh nyoba secolek aja.

“Enak kok, cobain deh..” katanya.

Meski sambil nutup hidung, coba beraniin nyolek dikit. Kunyahan pertama.. Lha kok enak ya… Dulu kayaknya rasanya nggak begini deh. Pas mau nyolek lagi, diingetin kalo lagi hamil nggak boleh banyak-banyak makan durian. Yanasibbb… Padahal enak bangettt. Mesti nunggu sampai habis lahiran dulu dong 😆

Jadi nyesel kenapa nggak dari dulu aja coba nyolek si buah beraroma tajam ini. Secara keluarga emang nggak terlalu suka durian juga, walhasil belum pernah makan lagi sejak insiden jackpot tersebut. Lah, taunya endeus pisan euyy 😜

Sekarang giliran cerita soal si pahit “Pare”…

Dari kecil, saya udah doyan banget sama yang namanya pare. Bukan karena udah biasa merasakan kepahitan hidup ya, bukaaan… Wkwkwkwk. Tapi karena orang tua memang penggemar olahan pare dan di rumah sering masak menu yang anti mainstream, seperti tumis daun pepaya dan osenk-osenk pare.

Setelah menikah, baru tahu ternyata suami nggak doyan pare. Seperti pendapat kebanyakan orang, pahit. Emang pahit sih, tapi buat saya pahitnya pare ini endeuss marendeusss. Pahit tapi nikmat. Apalagi kalo udah ditumis pedass pake ikan teri plus tempe, dimakan pake nasi anget-anget. Wuihhh sehari bisa nambah berkali-kali.

PR-nya adalah… Gimana supaya bisa rutin masak pare tapi nggak mesti masak dua kali buat suami (yang nggak doyan pare).. Akhirnya berusaha memutar otak, melancarkan propaganda supaya suami doyan pare tanpa harus dipaksa atau diteror. Hahahaha..

Akhirnya sering-seringlah saya masak pare tanpa masak menu yang lain. Coba ah.. Gimana reaksinya. Hihihi.

Pertama-tama sih makan dengan meringis-ringis nahan pahit. Sambil makan, terus saya promosiin 101 manfaat pare buat kesehatan ala-ala tukang obat. Berhubung suami pecinta masakan pedas, menunya sengaja saya bikin pedas dan gurih, pake cabe rawit merah. Biat semangat makannya.

Slowly but sure… Ada yang mulai jatuh cinta sama pare. Yang tadinya meringis pas makan, sekarang mulai doyan, bahkan ketagihan. Kadang kalo nanya mau dimasakin apa hari ini, jawabnya osenk-osenk pare. Bahkan waktu kemarin beliau pulang dari tanah suci, request dimasakin osenk pare sama tempe goreng bumbu.

Yay, mission accomplished! 😉

Demikianlah yang namanya suami istri, saling mengisi. Meski memiliki selera yang berbeda dengan pasangannya, tak berarti boleh mengejek selera yang berlainan, atau sengaja memperlebar jurang perbedaan. Always put some respect and tolerate.

Suka, dimakan, nggak suka, ya tinggalkan. Jangan dicela. Bukankah begitu teladan Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara makanan?

“In every disagreement between your spouse, remember there is not a winner and a loser. You are united in everything, so you will either win together or lose together. Work together to find a solution where you both win. Instead of looking at a disagreement in marriage as a fight to be won, approach it like a challenge to be won together in partnership with your spouse. You share the same outcome. At attitude of partnership will revolutionize your approach to disagreements.”

(via Half Our Deen)

Namanya suami istri, nggak mungkin punya selera yang 100% sama. Apalagi pas baru-baru nikah, pasti akan mengalami fase “kaget”. Fase dimana kita mulai menemukan perbedaan-perbedaan pada diri pasangan, sesuatu yang tadinya tidak pernah kita bayangkan. Yang jujur aja, pasti bikin agak kaget pada awalnya.

Misalnya, team tidur dengan lampu mati vs tidur dengan lampu menyala. Kalo mau sama-sama ngotot, salah satu akan tidur di kamar yang berbeda, atau memaksakan kehendaknya pada pasangannya. Namun, jalan keluarnya.. salah satu bisa mengalah. Atau bisa mencari jalan tengah, dengan membeli lampu tidur yang cahayanya redup sehingga keduanya bisa tidur berdampingan.

Dalam kehidupan setelah pernikahan, kita saling belajar. Belajar menyukai apa yang disukai oleh pasangan, namun tak lupa untuk jadi diri sendiri. Jika memang suka dan cocok dengan selera pasangan, alhamdulillah.. Namun jika tidak, tidak perlu memaksakan diri atau berpura-pura suka hanya demi menyenangkan pasangan.

Dalam suatu hubungan, baik dengan pasangan, sahabat atau kerabat, kita akan menemukan banyak hal yang berbeda, sekaligus menyadari banyak pula hal yang bisa dikompromikan bersama. Kita bisa mencari win-win solution dalam sebuah permasalahan, tanpa harus terus menerus bertengkar soal hal yang sama dan mementingkan ego pribadi.

Menikah adalah tentang seni mengalah. Suami yang baik adalah suami yang banyak ngalahnya. Istri yang baik adalah istri yang banyak pengertiannya. Menikah bukan soal menang dan kalah. Bukan pula soal uji kekuatan. Siapa yang pengaruhnya paling kuat dan paling dominan.

Menikah adalah seni menghargai dan menghormati perbedaan. Cinta, seutuhnya adalah tentang penerimaan. Menerima ketidaksempurnaan, menerima apa yang tidak bisa diubah. Menyadari bahwa kita tidak bisa menuntutnya untuk sepenuhnya menjadi seperti apa yang kita inginkan, karena kitapun tak bisa memenuhi kriteria pasangan sempurna persis seperti yang ia impikan.

Menikah adalah seni berkompromi, menyatukan dua kepala, sifat, kebiasaan dan latar belakang antara dua manusia yang berbeda. Gesekan-gesekan itu niscaya, pasti ada. Riak-riak yang tidak terhindarkan itu akan mendewasakan masing-masing pihak. Inilah tahapan pengenalan antara dua individu yang sesungguhnya, ketika keduanya diikat dalam sebuah pernikahan.

For me, love is to compromise, to sacrifice. Relationship is about accepting that no one is flawless. No one is exactly the way we want them to be. We may be different, but we are one.

Bukanlah pasangan itu yang selalu sama segala sesuatunya. Tapi pasangan itu seperti sepasang sepatu, saling melengkapi satu sama lain. Bila satunya hilang, ia tak lagi utuh adanya. Dan seseorang yang telah kita pilih itu.. adalah sepotong kepingan lain, yang membuat kita merasa lengkap dan utuh.

~ Jakarta, in a quiet and serene Thursday night of November 2017…

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Google & Pinterest]

Advertisement

5 thoughts on “Love… is To Compromise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.