Usia Ideal Menikah dan Stempel ‘Pilah-Pilih Jodoh’

“And when you choose a life partner, you’re choosing a lot of things, including your parenting partner and someone who will deeply influence your children, your eating companion for about 20,000 meals, your travel companion for about 100 vacations, your primary leisure time and retirement friend, your career therapist, and someone whose day you’ll hear about 18,000 times.”

—Tim Urban, Wait But Why – How to Pick Your Life Partner (via thelovejournals)

Beranda Facebook sedang ramai dengan survey kecil-kecilan tentang tahun berapa dan di usia berapa teman-teman menikah dulu. Ngomong-ngomong soal usia menikah.. Jadi pengen cerita sedikit soal fenomena usia ideal untuk menikah dan stempel “pilah-pilih jodoh”.

Back to some moments years ago, stempel pilah pilih tsb sangat lekat dengan pribadi saya. Ketika saya berkali-kali melewati proses ta’aruf dan qadarullah belum ada yang cocok. Baik ketidakcocokan dari pihak saya maupun sebaliknya.

Ada yang sinis nyeletuk, “Kalo kebanyakan milih malah susah dapet jodoh loh…”

Bahkan ada yang blak-blakan nanya (with nyinyir voice), “Emang mau nyari yang kayak gimana sih? Kok tiap ada yang dateng gak cocok terus..”

Dan sedihnya stempel itu diberikan oleh orang dekat yang seharusnya memberi saya masukan positif. Tapi karena saya tipe orang yang cuek dan gampang move on, jadi semua tudingan itu bagai masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Gak ngefek.

Sempet ngerasa “deg…” pas denger. Kaget sih. Tapi habis itu ya ilang aja, blas tak berbekas. Sayapun kembali melanjutkan hidup seperti biasa. Melalui proses demi proses sampai akhirnya pencarian itu berujung pada seseorang yang saat ini menjadi partner, sahabat, suami dan ayah dari anak-anak saya selama 10 tahun lebih. Alhamdulillah.

Kembali ke edisi throwback.. Waktu itu saya berada di usia 20-an sedang adik saya sudah menikah lebih dulu di usia yang sangat muda, 18 tahun, bahkan sudah memiliki dua anak. Tentu pressure yang saya terima jauh lebih besar dibanding teman dengan usia sebaya yang adiknya belum menikah.

Tapi apa saya cemas? Sedih? Nelongso? Meratapi hari-hari karena merasa dibalap and ditikung?

Sama sekali tidak. Alih-alih merasa down dan tertekan, saya malah sangat menikmati kesendirian saya saat itu. Saya bisa hadir ke kajian manapun yang saya inginkan, jalan bareng teman sepuasnya, menghasilkan uang dari keahlian yang dimiliki, menikmati ritual “me time” menjelang tengah malam sebelum tidur, maskeran, baca Qur’an, baca buku dan menulis jurnal harian.

Saya merasa nikah itu ibadah yang sangat panjang, mungkin boleh dibilang ibadah terlama, dan insya Allah sampai akhir hayat. Maka untuk memutuskan menikah, seperti ibadah lainnya, saya perlu ilmu. Ilmu agama, ilmu kerumahtanggaan, ilmu mengasuh anak, ilmu mengelola emosi, ilmu berkomunikasi dengan anak dan pasangan, dsb.

Teorinya, sambil nikah kita bisa nyambi nuntut ilmu. Tapi pada prakteknya, tidak semudah itu. Setelah menikah, apalagi punya anak, ruang gerak kita lebih terbatas karena telah memiliki tanggung jawab sebagai istri dan ibu. Tentu menuntut ilmu pun tidak bisa seleluasa saat masih single. Bagaimanapun, tidak akan pernah bisa sama.

Ada beberapa bidang ilmu dan keahlian yang agak sulit dipelajari setelah menikah. Tentu ilmu dan keahlian yang menyita banyak waktu dan energi dan susah untuk disambi karena akan memecah konsentrasi. Seperti ilmu menjahit, misalnya.

Jaman masih single aja, belajar jahit itu nguras waktu, energi dan pikiran banget. Belum kalo bikin pola dan pecah model. Pas lagi males ya bener-bener males. Moody banget deh. Sampai sering ‘dijewer’ guru gegara nggak ngerjain PR. Hahahaha. Apalagi setelah jadi emak-emak dengan kesibukan segudang plus punya anak pula. Nyerahhh 🙌

Ditambah lagi, sejak remaja saya memang tidak pernah bercita-cita menikah muda, dan termasuk tipe orang yang nggak peduli dengan omongan orang. Jadi ketika banyak yang kasak kusuk kenapa saya belum menikah padahal udah twenty-something, mau aja disalip adik bahkan sampai yang nyalip udah punya anak, ya selow bae alias santai aja.

Dalem hati, “Lah gue yang ngejalanin aja santai benerrr, kenapa mereka yang ribut yak?” 😅

Deep down inside.. Saya sama sekali nggak merasa keberatan ketika adik mengutarakan keinginannya untuk menikah lebih dulu. Karena jujur aja saat itu kata nikah dan komitmen sama sekali belum terlintas di benak saya. Saya masih ingin menikmati masa muda (baca: kesendirian) saya saat itu.

Dan yang namanya kakak, akan ikut bahagia kalo adiknya bahagia, kan? Ya kalo memang udah datang jodohnya, kenapa harus ditunda karena jodoh kita belum datang? Kasihan dong harus nungguin kita yang belum tentu kapan nikahnya. Dan buat saya, yang demikian malah jadi beban, disuruh cepet-cepet nikah supaya adek bisa nyusul nikah. Oh, nooo way. I hate that kind of pressure 😄

Tentu harapan, target usia, dan kadar kesiapan tiap orang berbeda-beda. Ada yang sejak belia sudah bercita-cita menikah muda, ada yang malah nggak pernah punya keinginan menikah muda (contohnya saya). Ada yang di usia awal 20-an udah siap, ada yang di atas usia 25 baru siap. Everyone has their own timing.

Percayalah, nggak ada istilah telat nikah atau pernikahan dini. Yang namanya nikah ya karena memang sudah saatnya nikah. Seperti halnya rezeki, jodoh juga sudah diatur, pasti akan datang jika sudah waktunya.

Kalau seseorang itu nikahnya di usia muda belia, ya karena jodohnya datang di usia segitu. Begitu juga dengan ia yang menikah di usia awal 30-an, jodohnya ya memang baru datang saat itu.

Manusia tidak bisa memilih takdirnya, tapi ia bisa berikhtiar sejauh yang ia mampu. Manusia bisa berencana, tapi Allah jua lah yang menentukan hasil akhirnya.

Biarlah orang menganggap kita picky  dan selektif dalam memilih jodoh. Lha memang kita harus dan punya hak untuk memilih kan? Masa main terima aja siapa yang dateng cuma gara-gara pengen cepet menanggalkan status jomblo atau karena nggak tahan sama omongan orang. Duh, jangan sampai lah. 

Toh yang akan menjalani kehidupan setelah pernikahan itu hanya kita seorang, bukan? Ketika ternyata kita telah memilih orang yang salah, siapa yang nyesel and the nyesek? Kita juga kan? Emangnya tetanggaaa :p

Jadi stop memusingkan apa kata orang. Berhenti deh hidup hanya demi menyenangkan orang lain, atau menuruti semua keinginan mereka supaya mereka tidak lagi berkomentar negatif tentang kita.

Negative people always find a way to speak ill about us, our life, our choice, no matter how hard we’ve tried to please them. From today on, start living the life you love. Not the way they want you to be. Sure they will keep talking. So let them talk anyway.

Nikah itu bukan ajang balapan, siapa yang paling duluan merupakan prestasi tersendiri. Kesuksesan pernikahan tidak diukur dari usia berapa pernikahan itu dimulai, namun pernikahan yang sukses adalah yang long-lasting, bahagia dan mampu mengubah kita jadi manusia yang lebih baik.

Nikah itu bagian dari rezeki, maka Allahlah yang mengatur kapan kita menikah dan memiliki anak. Bukan kita, bukan orangtua kita, bukan tetangga, bukan keluarga besar, bukan pula calon pasangan kita.

Bagi saya nikah itu 100% tentang masa depan. Nikah itu bukan akhir perjalanan, tapi sebuah awal. Awal kehidupan baru untuk kehidupan lain yang lebih kekal. Jadi nggak bisa gambling, main-main, coba-coba. Apalagi kalo udah menyangkut anak. Kalo ada apa-apa di tengah jalan, masa depan anak jadi taruhan.

Milih minyak kayu putih buat anak aja nggak boleh coba-coba, apalagi milih calon ayah buat mereka. Becareful choosing your soulmate, your children’s father, and your lifelong partner in striving your ultimate goal: Jannah ❤

Topik serupa pernah saya tulis di sini dan di sini.

~ Jakarta, November 2017… choose your love, without a doubt, without hesitation. Then, love your choice 🙂 

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

10 thoughts on “Usia Ideal Menikah dan Stempel ‘Pilah-Pilih Jodoh’

  1. Setuju banget mbak. Saya juga ga ada keinginan nikah muda, nah ketika sekarang umur udah cukup banyak dan adik adik senior pada nikah, malah yang komen orang lain. Padahal saya ini tipe cuek, namanya menikah itu ibadah paling lama masa mau sembarangan pilih partner.
    Kalau saya sih bakalan selektif kaya HRD perusahaan kali ya, hehee

    • HRD aja kalo mau seleksi karyawan ketat banget ya proses perekrutannya. Padahal kalo gak cocok bisa diberhentikan. Lha kalo suami atau istri? Emangnya gampang mau dipecat? Apalagi kalo udah ada anak 😊

      Semoga anti diberikan jodoh terbaik di saat yang tepat ya. Dan waktu Allah pasti tepat, never early, never late ^^

  2. Reblogged this on A Precious Life Footprint and commented:
    Totally agree 🙂
    And the closing statement concluded this article perfectly:
    “Becareful choosing your soulmate, your children’s father, and your lifelong partner in striving your ultimate goal: Jannah ❤ “

  3. MasyaAllah bener banget mba. Trus, gimana sih caranya mba ngatasin omongan orang-orang yang pada iseng terus nanyain?. Pernah ga mba ngerasa,,, misalnya kita udah menolak lamaran seorang lelaki, apakah pernah merasa menyesal,”jangan-jangan memang dia jodoh kita”, trus ntar kalo ada yang dateng trus fditolak karena tidak cocok, gimana cara ngatasin kekhawatiran dihati biar ga takut ntar jodohnya susah datang atau gimana. Makasih mba, maaf banyak pertanyaannyaa.hehe

    • Salam kenal Fita, semua kekhawatiran yang Fita rasakan di atas, pernah saya rasakan juga 🙂

      Tips dari saya, minta petunjuk Allah dengan istikharah. Lalu dengarkan kata hati sendiri. When it comes to the right one, our heart will tell, “this the one”. Jika kita sudah membuat keputusan, maka kita sudah harus siap dengan segala konsekwensinya. Termasuk masa depan yang belum pasti, dan.. omongan orang 😁

      Intinya yang namanya jodoh, pasti akan dimudahkan, dan hati kita setelah istikharah akan condong padanya. Just listen to your heart and ignore what people say.

      Remember, it’s your life, not theirs 😉

  4. Terima Kasih banyak mba :). Sebenernya saya percaya dan yakin akan ketetapan Allah. Namun memang, karena manusia imannya naik turun, kadang2 kekhawatiran itu muncul, dan dibarengin pertanyaan, kapan sih sebenernya ujung dr penantian ini? dan apakah penantian panjang ini bener berkahir indah? (tergantung kita nya sebenernya). Kalau boleh tau, mba mutia menikah saat umur berapa ?. Tus menurut mba, apa wajar kita menolak seseorang karna tidak srek (tdk ada chemistry) dg org tsb? maaf bertanya lagi ya mbaa hehe

    • Maaf banget ya Fita komennya baru dibalas, semoga belum kadaluwarsa 😁

      Saya dulu nikah di awal usia 24 tahun.. Buat saya pribadi (feel free to disagree), boleh2 aja kok kita nolak laki2 yg nggak sreg di hati kita padahal agamanya bagus.. Karena ketertarikan secara batin itu nggak bisa dipaksakan.

      Rasulullah juga pernah menolak wanita yg menawarkan diri kepada beliau, karena beliau tidak tertarik dengan wanita tsb secara lahiriah (fisik). Dan yang demikian (afaik) dibolehkan dalam Islam.

      Wallahu a’lam 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.