Fenomena Grup Chat, Sosial Media, dan Hilangnya Rasa Malu

“Hayaa (modesty) is a trait which most people lose because of social media.” ~Unknown

Pagi ini tiba-tiba teringat cerita unik dengan seorang customer. Unik sekaligus miris sih sebenernya…

Ketika open order beberapa waktu lalu, ada satu customer yang tiba-tiba kirim foto mbak-mbak pakai kemben dan bawahnya nggak pakai apa-apa alias ‘semi naked’. Sempat kaget, tapi positive thinking aja, paling salah kirim.

Selang beberapa menit, ada WA masuk lagi dari customer ini. Isinya, beliau minta maaf banget banget karena telah salah kirim pic. Begini ceritanya..

Jadi beliau ini order pakai hape suaminya. Nah suaminya gabung di grup WA kantor, sering posting foto-foto begitu, sampe ngobrol yang nyerempet-nyerempet dan menjurus. You know what I mean, lah yaa…

Pagi ini setelah customer tsb order jilbab, hapenya dimainin anaknya. Dan entah gimana ceritanya tiba-tiba pic dari grup tsb diforward ke saya. Mungkin yang forward anaknya.

“Padahal suami udah saya suruh left grup nggak jelas itu, lho mbak.. Tapi katanya susah karena grup kantor jadi sering ada hubungannya sama kerjaan. Maaf banget ya mbak… Duh, jadi malu saya.. Sekali lagi maaf ya.. “

“Iya, nggak apa mbak.. Saya paham banget kok, hehe…”

Jadi teringat kemarin sempat beredar postingan soal anak yang melakukan adegan dewasa karena menonton video dari hape ayahnya, yang mana dikirim dari grup WA juga.

Ngeri ya, subhanallaah.. Perlunya kita menyeleksi kembali grup-grup yang kita ikuti, dan menonaktifkan fitur unduh otomatis di WA agar semua foto dan video tidak langsung terunduh tanpa persetujuan kita.

Saya sendiri dengan tegas melarang anak-anak membuka gadget saya tanpa izin dan pengawasan saya. Mana tahu mereka baca postingan atau obrolan yang sifatnya pribadi dan rahasia? Atau memotret saya atau anggota keluarga lain dalam keadaan tanpa hijab dan tak sengaja mengirimkannya ke kontak dan grup chat.

Yang suka kirim-kiriman gambar porno dan chat mesum, pernah nggak sekali aja mikir.. Gimana kalo apa yang diposting itu dilihat oleh anak-anak, apa nggak bahaya? Kalopun anak kita nggak lihat atau mungkin belum punya anak, apa nggak ngeri akan bahaya paparan pornografi pada otak? Nggak ngeri sama dosa? Nggak takut sama Allah?

Grup-grup geje yang cuma bikin pikiran ngeres dan hati bermaksiat, lebih baik ditinggalkan. Sebelum keluar kita bisa kontak admin untuk menjelaskan alasan kita memilih keluar dan memberi masukan untuk semua member grup. Atau kalo berani tegur langsung di grup biar semua bisa baca. Perkara tersinggung atau marah itu urusan nanti.

Kelak kita akan ditanya kenapa saat itu kita diam saja nggak amar ma’ruf nahi munkar. Padahal kita tahu itu kemungkaran, kemaksiatan, tapi rasa nggak enak mencegah kita untuk menyampaikan kebenaran. Bahkan tanpa disadari malah ikut larut menikmatinya.

Kalo udah berusaha mencegah kemungkaran tapi masih gitu-gitu aja, malah kita dicibir dengan stempel sok suci, sok alim, at least our duty is done. Leave group lebih baik. Selamatkan diri sendiri, make yourself a priority.

Pernah pula saya mendapati sebuah grup di Facebook yang khusus membahas tentang topik poligami. Membernya ribuan. Karena open group yang disetting public, maka siapa saja dengan mudah bisa mengaksesnya. Termasuk saya.

Setelah scroll-scroll dan menyimak beberapa postingan dan komentar, hanya satu kesimpulan saya: ini ikhtilat dunia maya yang berkedok syari’at. Lebih mirip ke dating site tidak resmi versi syar’i dalam tanda kutip. Seketika itu juga langsung merasa mual, nggak kuat baca sampai bawah.

Mau tahu isinya? Obrolan antara laki-laki dan perempuan dengan tema mesum dan tidak pantas. Dari mulai flirting antara sesama member, promosi obat kuat, percakapan yang mengundang syahwat, sampai buka-bukaan urusan ranjang. Sangat jauh dari kesan poligami yang indah dan terhormat. Justru malah menimbulkan kesan buruk terhadap syari’at tsb.

Kita begitu rapat menjaga hijab di dunia nyata dengan lawan jenis, ketika di jalan berpapasan otomatis langsung menunduk karena malu. Namun kenapa di dunia maya kita begitu liar mengumbar pandangan dan lisan tanpa rasa malu? Seolah kita adalah dua pribadi yang berbeda di dua dunia.

Saya pribadi lebih cenderung menghindari grup-grup yang terdapat ikhtilat alias campur baur antara laki-laki dan perempuan di dalamnya. Baik itu grup alumni, grup teman-teman lama, grup dakwah, dsb. Apalagi jika grup tsb lebih banyak mengandung mudharat daripada manfaat.

It’s simply because this one thing: hayaa’.

Hayaa’ atau rasa malu akan mencegah kita dari perbuatan yang dapat menimbulkan fitnah dan melucuti kehormatan diri. Kita tidak akan bermudah-mudahan membuka pintu komunikasi dengan lawan jenis tanpa udzur syar’i. Kita akan menutup segala celah yang dapat mengantarkan kita pada kehancuran.

Kemajuan teknologi dan sosial media telah menggerus rasa malu sebagian dari kita. Hanya karena sesuatu itu penting (menurut kita), bukan berarti sesuatu itu boleh dilakukan tanpa menimbang dan menakarnya dari sisi syari’at. Niatnya dakwah, menyambung silaturrahmi, tapi berujung sia-sia bahkan menyebabkan dosa.

Sila simak nasehat Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal tentang hukum campur baur perempuan dan laki-laki di grup chat dan yang semisalnya dari kacamata syari’at di sini.

Dulu saya sempat bertanya-tanya.. Kok bisa sih mereka yang mengaku sudah ngaji, sudah paham sunnah, penampilannya pun sangat Islami, bisa terjerumus dalam fitnah lewat grup-grup WA, FB dan semisalnya?

Kan mereka sudah paham ilmunya?

Lantas, kemanakah hilangnya rasa malu?

Kemudian saya menginsyafi bahwa tidak semua yang tahu dan berilmu itu mengamalkan ilmunya (termasuk saya). Godaan syahwat, kurangnya rasa takut pada Allah, pengaruh teman dekat, juga banyaknya waktu luang, turut memperbesar peluang untuk terus tenggelam dalam maksiat.

Ketika kita disibukkan dengan hal-hal yang produktif dan bermanfaat, maka bayangan dan godaan untuk berbuat dosa itu akan memudar dengan sendirinya. Begitu juga ketika kita selalu dikelilingi orang-orang yang baik, yang selalu mengingatkan kita pada Allah, maka kita sedikit banyak akan menyerupai karakter dan kebiasaan mereka.

Pepatah Arab mengatakan, jika ingin tahu seseorang, jangan tanya dirinya, tetapi tanyalah temannya dan keadaan temannya.

Berkawan dengan orang yang berakhlak buruk, gemar berkata kasar, suka bermaksiat dan abai terhadap ajaran agama, lama-lama kita akan menjadi begitu permisif dengan budaya demikian. Begitu juga jika kita berteman dengan orang-orang shalih yang berakhlak baik lagi santun perangainya.. Tentu yang demikian akan sedikit banyak mewarnai kepribadian kita.

Jika memang belum sanggup untuk mewarnai sekitar kita, maka jangan sekali-kali mengambil resiko untuk terus berada dalam lingkungan yang buruk. Karena hati ini lemah. Rentan akan fitnah. Tidak ada yang bisa menjamin kita sanggup bertahan menghadapi dahsyatnya pengaruh negatif yang terus berusaha untuk memperdaya.

Salah satu bentuk perbaikan diri adalah hijrah dari lingkungan yang buruk. Lingkungan yang alih-alih mendukung kita untuk berubah ke arah yang lebih baik, malah menjerumuskan kita ke dalam jurang maksiat dan perbuatan dosa yang dulu kita pernah berkubang di dalamnya.

Karena siapa engkau dan bagaimana agamamu.. Tergantung kepada siapa temanmu.

“Watch your thoughts, they become words; watch your words, they become actions; watch your actions, they become habits; watch your habits, they become character; watch your character, for it becomes your destiny.” (Anonymous)

~ Jakarta, end of November 2017… I write to remind myself.

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

10 thoughts on “Fenomena Grup Chat, Sosial Media, dan Hilangnya Rasa Malu

  1. Setuju sekali mba, saya yg lebih muda seringkali risih sama bapak2 yang ngelucunya jorok, jadinya sangat ngga lucu. ngga habis pikir sama orang yang begitu bercandanya di grup, ngga punya malu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.