Maafkan Dia …

Dalam perjalanan kehidupan pernikahan, akan selalu muncul riak-riak berupa ujian. Terkadang riak tersebut berubah menjadi ombak besar yang mampu menghancurkan keharmonisan antara suami dan istri. Seperti yang sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini yaitu hadirnya orang ketiga (yang tidak halal) dalam perkawinan, istilah lainnya: perselingkuhan.

Pemicu timbulnya perselingkuhan memang bermacam-macam. Salah satunya mungkin faktor istri yang kurang dalam pelayanan dan baktinya kepada suami. Atau suami yang kurang mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya pada sang istri.

Bisa jadi juga karena kurang mensyukuri kelebihan pasangan masing-masing, dan hanya fokus pada kekurangannya saja. Maka larilah mereka mencari sosok lain yang “dianggapnya” lebih segala-galanya dari pasangan sahnya.

Apapun masalah yang terjadi dalam rumahtangga, hendaknya diselesaikan dengan baik dan dikomunikasikan dengan hati terbuka. Masing-masing saling berbenah. Mungkin suami juga harus bercermin dan introspeksi, apakah ia ada andil dalam kekurangan istrinya. Begitu juga sebaliknya.

Ada suami yang menuntut istrinya harus tampil cantik dan menarik tiap kali dipandang. Selalu membandingkan penampilan istrinya saat ini dengan penampilannya sebelum menikah dulu. Bahkan lebih parah lagi, selalu membandingkannya dengan wanita lain.

Sebelum banyak menuntut, coba tengok kembali, apakah fasilitas untuk membuat istrinya tampil cantik sudah memadai? Apakah istri punya waktu luang untuk mempercantik diri? Apakah dirinya sudah berhias untuk istrinya seperti ia suka istrinya berhias untuknya?

Jika untuk sekadar membelikan alat kosmetik atau perawatan sederhana saja terasa berat dan super pelit, apa pantas menuntut hak tanpa memenuhi kewajibannya?

Jika suami saja enggan membantu istri dengan pekerjaan rumah tangga, atau menyediakan ART, apa pantas menuntut istrinya selalu siap sedia 24 jam untuk melayani dan memberikan service terbaik untuknya?

Ada juga istri yang senantiasa menginginkan sosok suami yang mencurahkan perhatian untuknya 24 jam full, tanpa kecuali. Selalu ingin dimengerti dan dipahami setiap saat, tanpa mau mengungkapkan apa keinginannya.

Sadarilah bahwa suami tidak mungkin selalu memahami apa yang dirasakan oleh istri jika sang istri sendiri tidak mengatakannya. Suami hanyalah manusia biasa yang tidak mungkin mengetahui hal-hal yang tidak kasat oleh mata, seperti perasaan dan isi hati.

Apalagi hati dan perasaan wanita itu serba rumit, 3x salah masukin password bakal keblokir otomatis alias ngambek 😆

Sebagian suami memang ada yang sifat dasarnya kurang peka, kurang memahami tabiat wanita. Maka untuk tipe suami seperti ini, sang istri haruslah proaktif. Jangan kebanyakan kode. To the point aja. Kalau udah to the point tapi masih nggak peka (atau sengaja pura-pura nggak peka), nah itu baru (cari) masalah 😂

Bagi para suami, belajarlah membaca tanda. Jangan apa-apa serba harus dikasihtau. Namanya perempuan kadang ingin didengar tanpa harus bicara lebih dulu. Terlebih perempuan yang tipenya introvert dan pemalu. Pandai-pandailah mengenali karakter istri.

Whatever happens behind the door, stays behind the door. Selesaikan, bukan malah mencari pelarian ke wanita atau pria lain. Komunikasikan dengan hati terbuka, jangan sisakan satupun ganjalan hanya karena merasa tidak enak atau tidak tega. Open up, talk about everything you feel, and ready to learn from old mistakes.

Jika tidak ada titik temu, akhiri dulu dengan baik-baik, baru membuka bab baru bersama yang lain. Mengawalinya dengan cara yang baik, mengapa harus mengakhirinya dengan tidak baik?

Contohnya dengan selingkuh, main belakang, melanggar komitmen dan janji suci pernikahan? How you respect your relationship and your partner is speaking about how you respect yourself.

Melarikan diri ke pelukan orang ketiga bukanlah solusi masalah dalam rumah tangga. Ia hanya akan menambah masalah baru. Pernikahan adalah tentang komitmen untuk tetap bersama-sama menghadapi badai dalam bahtera kehidupan, bukan lari dan mementingkan diri sendiri tatkala bahtera itu mulai oleng.

Menikah itu saling berbenah. Saling mengeratkan ikatan ketika terasa mulai mengendur, dan menjaganya agar tetap utuh. Jika yang satu lemah, yang satunya lagi menguatkan, bukan ditinggalkan. Jika yang satu menjauh, yang satunya segera merangkul agar berdekatan, bukan malah dilepaskan. True love never let go of each other. They will try their best ’til the end of time.

Mengutip perkataan Ustadz Syafiq Reza Basalamah, “Istrimu bukan bidadari, dan engkaupun bukan malaikat..”

Menikah itu tentang penerimaan. Menerima kelebihan pasangan, sepaket dengan kekurangan dan masa lalunya. Jika menemukan satu-dua hal yang tidak disukai dalam dirinya, banyak-banyaklah memberi udzur.

Maklumilah ia. Ingatlah bahwa ia hanya manusia biasa yang tak luput dari cacat dan cela. Seperti halnya diri kita yang juga memiliki kekurangan. Apakah adil menuntut pasangan untuk menjadi sosok yang 100% sempurna di mata kita, sedang kita sama sekali tidak mendekati kriteria sempurna di matanya?

Menikah juga tentang bersabar dalam menasehati dan mengingatkan. Jika suatu saat ia lalai dan bersalah, ingatkanlah dengan kasih sayang dan penuh kelembutan. Luruskanlah dengan adab yang baik. Bersabarlah dalam mendidiknya. Terimalah kekurangannya. Lalu, maafkanlah dia…

~

“Tak ada gading yang tak retak

Istrimu bukan bidadari dan kau pun bukan malaikat.

Engkau memiliki kekurangan…

Sebagaimana istrimu memiliki kekurangan

Maka maklumilah dia..

Kalau ada perilaku-perilaku yang tidak disukai dari istri kita..

Yang namanya dia manusia, maka ingat..

Dia memiliki kebaikan-kebaikan..

Yang membuat kita sejuk hatinya..

Tenteram berada di rumahnya..

Lihatlah kepada isinya (kebaikannya)..

Jangan melihat kepada kesalahannya saja.

Dalam hadits riwayat Bukhari Rasulullaah mengatakan,

“Ditampakkan kepadaku neraka, ternyata kebanyakan penghuni neraka adalah wanita.. ”

Apakah karena mereka kufur kepada Allaah? Tidak !

Tapi karena kebanyakan wanita itu mengingkari atau tidak bersyukur kepada suaminya..

~

“Maafkan bila aku terus mencintaimu

Tapi bisakah kau menghentikan badai?

Aku tak bisa

Aku bahkan tak kuasa membendung gemuruh di hatiku sendiri

Aku ingin bersamamu selamanya….”


(Setengah Isi Setengah Kosong, Ustadz Syafiq Riza Basalamah)

 

~ Jakarta, February 2018.. have a good companionship with your partner 😉

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

 

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.