Antara Mengkafirkan dan Menjelaskan Penyimpangan Suatu Pemahaman atau Golongan

Bermudah-mudahan dalam mengkafirkan sesama Muslim itu bukan ajaran Islam. Ada syarat-syarat tertentu yang menjadikan seseorang batal syahadatnya atau keluar dari Islam.

Dan sama sekali bukan wilayah kita untuk mengatakan si alan dan si fulan kafir, keluar dari Islam. Bahkan terang-terangan menghujat pemerintah dan mengkafirkannya. Serta merencanakan pembangkangan atas mereka.

Mengkafirkan seseorang atau sebuah kelompok dengan menjelaskan kesesatan suatu tokoh atau kelompok adalah dua hal yang berbeda.

Menyebutkan penyimpangan suatu kelompok, bahkan menyuruh manusia berhati-hati dari kerancuan aqidahnya tidak sama dengan mencap mereka sudah kafir dan keluar dari Islam. Both are two different things.

Para asatidz, dalam menjelaskan kesesatan suatu firqoh dan memperingatkan umat akan bahayanya, tentu ada rujukannya. Ada dalilnya. Bukan berdasarkan ra’yu, hawa nafsu atau qiila wa qool. Dien ini berdiri atas dasar ilmu. Bukan atas dasar perasaan dan kebiasaan masyarakat setempat.

Bahkan Rasulullah shalalaahu alaihi wa sallam sendiri menyebutkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Jadi munculnya kesyirikan, kebid’ahan, firqoh yang sesat dan menyimpang itu sudah merupakan sunatullah. Pasti terjadi.

Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Abi Ahim dan Al-Lalikaa-i)

Rasulullaah shallalaahu alaihi wa sallam bersabda…

“Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh orang yang hidup diantara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” [HR Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no.4607), at-Tirmidzi (no.2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205), al Hakim (I/95)]

Sungguh sudah merupakan sunatullah pula bahwa dakwah tauhid yang sesuai dengan manhaj para salaf senantiasa dimusuhi dan didustakan. Dilabeli sebagai barisan pemecah belah dan anti kedamaian.

Menyampaikan kebenaran yang sudah jelas berdasar dalil yang shahih, dicap sebagai kelompok yang paling benar sendiri.

Menjelaskan kesesatan paham dan firqoh yang menyimpang, dibilang mengkafirkan sesama Muslim.

Mengajak manusia kepada cara beragamanya Rasulullaah shalallaahu alaihi wa sallam dibilang mengekslusifkan diri dan meresahkan masyarakat.

Jelas bahwa dakwah salaf adalah pemecah belah. Pemecah mana yang tauhid dan yang syirik, pemecah mana yang haq dan mana yang bathil, pemecah mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.

Let’s just think about this for a while…

Jika hati kita resah mendengar dalil dan peringatan yang bersumber dari Al Qur’an, gerah dengan ditegakkannya sunnah, benci ketika kajian-kajian sunnah marak tersebar dan dihadiri oleh banyak manusia di mana-mana…

Kira-kira yang bermasalah dan berpenyakit itu hati kita, atau Al Qur’an dan sunnah Nabinya?

Jangan hanya bangga mengaku Islam.. Mengaku bagian dari Islam.. Mengaku barisan penegak panji-panji Islam..

Tapi lebih bangga dan bersandar dengan ucapan dan perkataan mereka yang tanpa dalil, bahkan menyelisihi kebenaran.. Daripada firman Rabbmu dan sabda Rasul-Nya.

Jangan hanya mengaku cinta pada Allah dan Rasul-Nya.. Jangan hanya meradang ketika mereka dihina, dilecehkan, direndahkan oleh kaum kuffar..

Tapi ketika Allah dan Rasul-Nya menetapkan atasmu sesuatu dalam syari’at.. Hatimu berpaling, enggan menerima dan mengamalkannya..

Itukah bukti cinta yang sesungguhnya?

“Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila…

Namun Laila menolak pengakuan mereka itu…”

~ Jakarta, salin rekat dari postingan Facebook di penghujung 2017…

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Google & Pinterest ]

 

Advertisement

3 thoughts on “Antara Mengkafirkan dan Menjelaskan Penyimpangan Suatu Pemahaman atau Golongan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.