Belenggu Itu Bernama Popularitas

“Karena malaikat Munkar dan Nakir tidak akan bertanya seberapa hits Anda di dunia…”

Jleb. Satu kutipan yang tak sengaja saya temukan di Pinterest tempo hari di atas, seolah menghunjam sampai ke relung hati terdalam. Merasa tertohok? Tertampar?  Tersinggung? Pastinya. Sangat.

Menjadi hits atau populer, sepertinya adalah satu hal penting dalam skala prioritas hidup manusia saat ini. Makin terkenal, makin banyak follower, makin naik pula status sosialnya. 

Beragam trik untuk menjadi populer pun bertebaran di mesin pencari. Berbagai cara dilakukan manusia agar tenar dan dikenal banyak orang. Baik tenar karena prestasi atau hanya karena sensasi.

Mau caranya baik atau buruk, yang penting viral dulu. Soal benar atau salah,  urusan belakangan. Jika ternyata banyak yang protes, gampang.. Tinggal bikin video permohonan maaf, selesai sudah.

Netijen dewasa ini kan sangat pemaaf, dan kadang juga sangat pelupa. Berbuat salah dengan bikin konten yang mengundang kontroversi, going viral, dikritik habis-habisan, minta maaf, beres sudah.

Yang penting tujuan utama sudah tercapai: tenar dan jadi buah bibir netijen. Just like people say, bad publicity is still publicity.. 

Sejenak saya merenung.. Apa popularitas juga menjadi tujuan utama saya selama ini?

“Being popular isn’t everything; being true to yourself is!” – Paul Butcher

Jika memang populer dan terkenal jadi tujuan utama bersosial media, maka semua akun sosmed sengaja saya buka lebar-lebar.

IG tidak akan saya kunci, atau bila dikunci pun, setiap permintaan follow akan saya terima. Tak peduli siapa mereka, yang penting follower bertambah.

Begitu juga dengan akun Facebook. Opsi follow tidak akan saya tutup, semua friend requests akan saya accept dan semua post saya setting public.

Tak perlu lagi saya filter siapa mereka, benar-benar kenal kah, ada mutual friends kah.. Tak jadi soal jika mereka memang tulus ingin berteman atau hanya stalking karena kepo belaka. Yang penting banyak teman, banyak likes, dan segala yang saya posting menjadi viral.

“Viral, populer, banyak likes dan followers.. Itukah tujuan saya bersosial media?”  tanya saya pada diri sendiri di suatu hari.

Dulu saat awal-awal bikin akun sosmed, waktu lagi aktif-aktifnya di Twitter, saya sangat menikmati ketika twit-twit saya dishare dan diritwit orang lain, apalagi diritwit oleh akun-akun yang followernya banyak.

Senang karena nama saya dikenal. Banyak yang ikutan ritwit dan follow, sehingga twit saya pun ikutan viral. Dan jika hal itu terjadi, ada kebanggaan tersendiri ketika notifikasi tab mention saya tak berhenti berbunyi.

Lalu berbondong-bondonglah penduduk Twitterland mengikuti akun saya, bahkan menyapa saya via DM untuk berkenalan lebih lanjut. And boom! I became ‘famous’ in the blink of eye.

Begitu juga dengan akun Facebook, pernah saya menulis tentang suatu tema, yang dengan cepat menyebar dan direpost oleh ribuan akun lain. 

Karena banyak yang request ingin share, akhirnya saya ubah settingannya ke public. Sebelumnya tidak dapat dishare ke public karena audiensnya dibatasi hanya seputar friendlist saja.

Senang dan bangga pastinya. Nama saya mendadak terkenal dan akun saya dikunjungi oleh banyak orang. Banyak yang tiba-tiba add friend dan mengirim inbox sampai ratusan jumlahnya.

And so it goes…

Entah sejak kapan persisnya, saya mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Saya sama sekali tidak menikmati hidup dalam sorotan meski dalam lingkup kecil dan sangat sederhana (baca: tenar versi ecek-ecek).

Saya yang tadinya menikmati tiap pandangan mata yang tertuju pada timeline saya, merasa tidak nyaman ketika banyak orang yang tidak berkepentingan, tahu siapa saya, detail kehidupan pribadi saya, dan bagaimana interaksi saya dengan teman-teman di sosmed.

As a both extrovert and introvert person (they called it ‘Ambivert’), I think this is going too far. The introvert side in me makes me realize, this is not the life I’ve always wanted. This is not what I came for.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengunci semua akun sosial media. Kecuali blog, karena blog sifatnya kurang personal dibandingkan sosial media seperti IG, Twitter dan FB. Apa yang saya bagikan di blog tidak seperti apa yang saya bagikan di sosial media lainnya. 

Saya juga mengubah semua settingan privacy from public to friends only, dan menggunakan fitur “limit old posts” untuk Facebook. Jadi semua postingan yang sifatnya public, otomatis berubah menjadi friends only. 

Selanjutnya, saya mulai menyaring friendlist. Yang tidak saya kenal betul, kenal wajah tapi tak terlalu akrab/jarang interaksi, atau yang tidak berkenan pribadinya di hati saya, langsung remove/unfollow. Bersih-bersih dimulai.

Saya berusaha menciptakan atmosfir pertemanan yang nyaman dan minim konflik. I chose carefully who and what I wanna see on my timeline. Bahkan saya mempersilakan teman-teman yang ingin unfollow/unfriend saya agar melakukannya lebih dulu.

Ya barangkali ada yang pengen unfriend atau unfollow tapi nggak enak, kan sekarang saya udah resmi pamitan tuh.. Jadi jangan sungkan-sungkan lho mau nyuruh pulang, I’ll do it with my pleasure. Heheheu.

Meski kadang ada beberapa teman yang meminta agar postingan saya diset public agar bisa dishare, saya tetap pada pendirian semula. Not for public, kecuali jika memang urgent dan butuh untuk diviralkan.

Jika mau share silakan copas (tentunya dengan menyertakan sumber) atau langsung share dari blog, karena biasanya postingan-postingan blog adalah versi komplit dan extended dari postingan saya di sosmed. In a less personal way.

Dulu sekali, ketika saya posting sesuatu dan hanya sedikit orang yang ngelike atau komen, saya langsung bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan postingan saya.. Kok interaksinya cuma sedikit.. Nggak seperti biasanya.

Kini, mau posting ya posting aja. Selow. Ada yang ngelike atau nggak, ada yang share atau nggak,  nggak jadi soal. Wong saya posting karena saya suka kok, bukan supaya orang lain suka, atau supaya going viral dan terkenal.

Ada yang suka, bermanfaat bagi orang lain dan menghibur, ya alhamdulilah. Saya anggap itu bonus. Tidak pun, tak jadi masalah. Toh saya hanya posting apa yang saya suka, sama sekali bukan untuk menyenangkan orang lain dan membuat mereka terkesan ๐Ÿ˜‰

Somehow, I found this quote is so relatable:

“I just write what I wanted to write. I write what amuses me. It’s totally for myself. I never in my wildest dreams expected this popularity.” – J. K. Rowling 

I don’t know, but lately I found that being in the spotlight is totally exhausting. Capek, ribet, nggak nyaman. Going viral and being popular is just a little too scary for me. I can’t imagine living that kind of life. I just can’t.

Beda orang, tentu beda karakter dan isi kepala. Ada yang menikmati panggung popularitas dan senang dikenal oleh semua orang. I’ve been there, too. Ada juga yang memang menghindari ketenaran karena alasan-alasan tertentu.

Saya jadi paham mengapa sebagian publik figur menutup rapat kehidupan pribadinya dari masyarakat.

Mengapa mereka memilih untuk tidak punya akun sosmed..

Mengapa mereka menolak untuk diambil foto secara candid atau tersembunyi..

Mengapa sebagian mereka sampai menyamar ketika keluar rumah dengan memakai topi atau berpenampilan dan berdandan polos layaknya orang biasa agar sosoknya tak dikenali orang…

Now I know the answer: for the sake of privacy.

Privasi saat ini bagaikan barang langka lagi mahal harganya. Di era sosial media yang apa-apa serba terbuka bahkan sengaja dibuka lebar-lebar, hanya segelintir orang yang benar-benar menghargai dan mementingkan privasi.

Semakin saya menggunakan sosial media, dinding yang dibangun oleh sisi introvert saya tak terasa semakin tinggi adanya. Saya yang dulunya hobi share hal apapun, bahkan yang sifatnya pribadi sekalipun.. Kini jadi lebih berhati-hati lagi ketika mau posting sesuatu.

Dulu, tiap singgah di suatu tempat, saya pasti langsung check in location. Terkadang lengkap dengan foto dan info tentang aktivitas di tempat tersebut. Kini, intensitas check in itu sangat berkurang drastis. Jarang sekali, jika tidak bisa dikatakan tidak pernah. 

Kalaupun sesekali check in, saya pastikan bahwa keberadaan saya di tempat itu sulit untuk terlacak, karena saking luas tempatnya. Atau seringnya justru sudah pulang baru check in di keterangan lokasi foto. 

Entahlah, saya hanya merasa… 

Tidak setiap hal yang kita rasakan, alami dan lakukan, harus diketahui oleh semua orang. Ada batasan-batasan yang perlu dijaga. Ada hal-hal yang cukup kita sendiri, dan orang-orang terdekat kita saja yang tahu.

Keamanan dan kenyamanan menjadi pertimbangan utama saya. When it comes to privacy, that will be my first and utmost priority. Better safe than sorry. 

Betapa di zaman sekarang, ‘live in the moment’ adalah barang langka. Sama seperti privasi, banyak yang kurang mementingkan bahkan sengaja menyepelekan hal tsb hanya karena ingin capture the moment lewat lensa kamera dan banjir likes dari followersnya..

Bukan menikmatinya sepenuh hati tanpa terdistraksi oleh gadget dan interaksi dengan sosok-sosok maya lainnya,  hingga mengabaikan sosok-sosok nyata di sekelilingnya. Ah, sebuah sentilan keras untuk diri sendiri.

Bagi sebagian orang, popularitas adalah tujuan, sekaligus menjadi prestasi tersendiri. Tapi bagi saya, hal itu hanyalah bonus semata, or for worse.. Sebuah ujian. Popularitas itu ujian. Dan tak semua mampu melewatinya dengan hasil cemerlang.

Popularitas bagi saya bagaikan belenggu kebebasan. Kebebasan untuk tampil menjadi diri sendiri. Di bawah bayang-bayang popularitas kita dituntut untuk menampilkan sisi sempurna dari hidup kita. 

Kita seakan tidak diizinkan untuk sesekali berbuat salah layaknya manusia biasa. One wrong move and everyone judges you. Macam artis-artis dan selebritis itu. 

Ketenaran, sungguh telah merampas kemerdekaan. Betapa melelahkannya hidup di bawah pengawasan dan rasa ingin tahu orang lain tentang detil keseharian kita. Betapa sulitnya untuk tetap jujur jadi diri sendiri, di tengah tuntutan untuk menjadi sosok super yang orang lain inginkan.

Popularitas dan kedudukan mampu mengubah manusia. Never underestimate the power of fame and money. Yang tadinya rendah hati lagi bersahaja, dapat berubah menjadi sosok yang arogan dan congkak setelah terkenal dan dipuja-puji oleh banyak orang.

Sungguh, berubah karena harta, kedudukan dan ketenaran adalah hal yang paling saya takutkan. Saya tak ingin menjadi manusia yang mudah mengkotak-kotakkan manusia lainnya, karena merasa berderajat lebih tinggi dan terhormat. Hanya karena famous dan diikuti oleh banyak orang. 

I just wanna be like this. Staying low and enjoying life the way it is. Adapun hal-hal yang dengan sadar saya bagikan di sosmed, hanyalah sebagian kecil dari apa yang saya alami. Sisanya, biarlah untuk saya sendiri dan orang-orang yang saya cintai. Nobody needs to know.

โ€œYou don’t need everyone to love you, just a few good people.โ€ โ€“ Charity Barnum

I just want to stay the way I am. The weird, silly, and crazy me. No need to impress people with my perfect Instagram feeds or faking my plain-simple life into an amazing and enviable one. No need to put a mask, no need to seek attention from others. No more masquerade.

Banyak hal-hal yang tidak bisa dibeli oleh uang. Privasi, kemerdekaan untuk menjadi diri sendiri, dan kebebasan untuk melakukan apa yang kita suka, tanpa memusingkan pandangan manusia adalah harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah ketenaran.

Being famous and loved by many was once my goal. There was a smile of satisfaction everytime people give a compliment or just simply recognize me or my works. There was a glimpse of pride everytime people struck in amazement with the way I speak or write. 

But speaking of it today… 

How that idea has made me feel a bit terrified and uneasy. Nah, I choose peace and sanity over that crazy little thing called fame and popularity. Been there, done that. And this time, for good. I will never look back, insha Allah.

Kelak di hari akhir, kita tidak akan ditanya tentang seberapa tenar kita di dunia.  Kita tidak akan ditanya tentang jumlah likes, jumlah retweet atau jumlah follower yang dikumpulkan semasa kita hidup.  

Dan ketika kita meninggal dunia, pengagum kita yang paling setia pun tak akan mau menyertai kita di liang lahat. Yang tersisa hanyalah amal. Ialah yang tetap tinggal tatkala yang lain beranjak pergi meninggalkan kita sendiri dalam kegelapan. 

May Allah keep my intention pure, and my heart clean, away from all temptation to be seen or known. And to Allah only I seek guidance and protection. Without Him I’m nothing. Allaahul musta’an.

Ps. So sorry for this very long post. There’s so much going on in my head, and I can’t wait till tomorrow to finish this. Now, I’m relieved. Thank you for reading. 

~ Jakarta, when the minutes linger to midnite, April 2018… 

ยฉ AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

 

Advertisement

4 thoughts on “Belenggu Itu Bernama Popularitas

  1. terima kasih mbak sudah menulis postingan ini, saya suka banget. pas banget dengan apa yang selama ini sering mampir di kepala saya, sebenernya nge-blog buat apa sih? punya FB dan Instagram buat apa sih? Alhamdulillah, mendapat ‘jawaban’ dari postingan ini. terutama kutipan dari JK Rowling itu paaass banget. ๐Ÿ™‚

    Like

    • Maaf ya Ratih baru balas komennya sekarang, baru tengok-tengok sampai ke bawah ๐Ÿ˜Š

      Alhamdulillah.. Terima kasih kembali.. Berarti saya nggak sendirian ya yang mikir begini? Ahahaha…

      Mudah-mudahan kita bisa jadi pribadi yg selalu ikhlas dalam hal apapun ๐Ÿ˜Š

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.