Niqab dan Rasa Malu

Dear sisters.. There are many things to be considered before you decide to wear niqab. Pakai niqab atau cadar itu nggak cuma asal pakai. Nggak cuma asal tutup. Ada ilmunya, ada ketentuan syar’iat yang mengatur tatacaranya.

Pakai cadar jangan sampai karena ikut-ikutan, karena lagi trend, atau supaya bikin orang makin penasaran aja dengan sosok di baliknya. Bukan juga alasan bagi kita untuk lebih sering menampilkan diri.

Contoh pakai cadar tapi kurang memahami ilmunya…

Pakai cadar tapi masih tabarruj, pakai cadar tapi masih suka selfie lalu diupload ke sosmed, pakai cadar tapi masih suka berhias dengan aksesoris yang aneh-aneh, pakai cadar tapi masih genit, dsb.

“Apa nggak malu sama cadarnya?”

Cadar itu menambah rasa malu lagi menjaga pemiliknya agar lebih memperhatikan gerak geriknya.

Mau pakai baju model yang aneh-aneh dan mencolok perhatian, langsung mikir.. Saya pakai cadar, apa pantes saya pake baju beginian..

Mau pose selfie jungkir balik dari berbagai angle, langsung mikir.. Apa pantes wanita bercadar pecicilan kayak gini…

Mau genit dan menggoda lawan jenis, langsung mikir.. Apa pantes wanita bercadar kelakuannya memalukan begini…

Mau pakai aksesoris bling-bling yang sama sekali nggak ada faedahnya, langsung mikir… Fungsi cadar ini buat apa kalau malah bikin penampilan saya makin dilirik orang?

“Saya kan masih berproses, wajar dong kalo bikin kesalahan…”

Betul bahwa setiap orang itu berproses, tapi berproses adalah berpindah dari yang tadinya tidak tahu lalu menjadi tahu, dengan banyak mencari ilmu.

Berproses juga bukan alasan untuk terus menerus tenggelam dalam kesalahan dan dosa. Bukan juga alasan untuk menolak nasehat dan kebenaran yang datang.

Jangan sampai kita merasa sibuk dalam proses, namun kenyataannya hanya jalan di tempat. Or for worse.. malah berjalan mundur jauh ke belakang.

Harus ada progress ke arah yang lebih baik setelah kita memutuskan menutup wajah dengan cadar. Terus berprogress, sekecil apapun perubahan itu, selambat apapun kemajuan itu, as long as you don’t stop.

Jangan sampai setelah pakai cadar, bukannya disibukkan menuntut ilmu tapi malah makin narsis dan eksis dengan cadarnya.. Malah makin ajaib dan berkerlap-kerlip pakaiannya.. Malah makin menggoda dan mengundang untuk digoda.

Cadar itu identik dengan rasa malu. Idealnya, setelah bercadar, rasa malu itu menghalangi kita untuk berbuat sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah.

Rasa malu itu menghalangi kita untuk berbuat sesuatu yang dapat merusak citra “cadar” itu sendiri. Karena disadari atau tidak, ketika kita menjalankan sunnah ini, perilaku kita adalah cerminan dari keimanan di dada kita.

I believe when we wear niqab, we unofficially represent one of millions niqabis out there. Kita, membawa sebuah misi.. Memperkenalkan cadar dan sunnah yang mulia ini kepada masyarakat yang masih sangat awam dan asing tentang syari’at ini.

Maka janganlah kita rusak image wanita bercadar dengan perilaku kita yang kurang santun, kurang adab, kurang ilmu, dan kurang akan rasa malu.

Namun mengutip perkataan sebagian salaf.. Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah semaumu.

~ Jakarta, on a sunny Monday morning of April 2018.. because the best jewelry a woman can wear is her shyness…

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

 

14 thoughts on “Niqab dan Rasa Malu

    • Sepakat. Namun kadang ada yang niat awalnya lurus, kemudian tergoda untuk melakukan hal demikian karena naik turunnya iman serta pengaruh teman dan pergaulan. Allahul musta’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.