Thoughts, Terrorism, and Social Media

“Tidak semua teroris bertugas di lapangan, ada juga yang bertugas di media sosial.” – @krishnamurti_91

Ketika pagi ini membaca kutipan di atas, langsung terpikir, iya juga sih. Banyak akun-akun yang menebar kebencian dan penyimpangan pola pikir mereka di media sosial. Bukan berupa nasehat ya, tapi hate speech tanpa dasar ilmu yang jelas.

Contohnya, dulu pernah temenan sama seseakun di FB. Tiap hari yang diomongin cuma khilafah, jihad, mencaci penguasa, pemerintah thoghut dan mengagungkan bom bunuh diri sebagai bentuk jihad.

Pertama masih saya pantau aja nih (gak kok gak bakalan disleding wkwk). Lama-lama kok jengah juga ya.. Dulu belum ada fitur unfollow/hide. Pilihannya cuma unfriend atau block.

Mau ngobrol via inbox, lihat cara bicaranya di sosmed aja udah males duluan. Tipe yang senggol bacok. Nanti malah saya jadi esmosi jiwa, atau justru ketularan syubhatnya. Makin lama, makin terasa gengges aja nih akun. Akhirnya dengan mantap saya unfriend.

Pernah juga berteman dengan seseakun yang isi timelinenya kebencian terhadap Islam. Dia ini dulunya teman satu kelas waktu sekolah. Setahu saya dia dulu beragama Islam, lalu berpindah keyakinan karena menikah dengan pasangannya yang sekarang.

Nggak tanggung-tanggung kalau menghina Islam, lebih parah dari mereka yang tidak pernah mengenal Islam sejak lahir. Saya punya beberapa teman yang berbeda agama, tapi sejauh ini mereka bersikap santun dan sangat menghormati keyakinan saya. Begitupun saya terhadap mereka.

Hinaan itu, makin lama kok makin menjadi-jadi. Tiap ada kesempatan, terus hate speech terhadap Islam tanpa dasar yang jelas. Emang tiap posting marah-marah melulu sih. Apa aja dijadiin samsak. Bukan Islam aja. Emosian banget orangnya.

Akhirnya saya unfriend dan block tanpa sedikitpun rasa nggak enak. Padahal kami saling kenal di dunia nyata. Terserah dia mau berkomentar apa. That’s none of my business.

Nyesel? Nggak sama sekali. Justru merasa sangat lega. Sebelum memutuskan untuk unfriend, pasti telah saya pertimbangkan lebih dulu efek dan konsekuensinya. Lebih baik berteman dengan mereka yang baik adabnya dan lurus pemahamannya. Berhati-hati lebih baik daripada menyesal kemudian.

I believe that thoughts and ideas are contagious. Yang tadinya pemahaman kita lempeng dan biasa-biasa aja, bisa terpengaruh jika setiap saat disuguhi doktrin yang sama. Apalagi jika iman kita kurang kuat dan karakter kita mudah untuk dihasut.

Jika pemikiran radikal itu sudah tertanam kuat di bawah alam sadar kita, akan mudah bagi mereka untuk mengendalikan kita. Kita tidak sadar bahwa pemahaman ini salah, karena begitu kuat doktrin yang melekat.

Banyak yang bingung ketika pelaku terorisme membawa serta anak-anak mereka ketika melakukan aksinya, termasuk saya. Kita semua nggak habis pikir. Kok bisa…???

Di mana rasa kemanusiaannya, di mana rasa welas asihnya sebagai orang tua? Kok tega-teganya berbuat demikian terhadap darah dagingnya sendiri?

Sedangkan ketika melihat anak sakit, kita (baca: saya) turut merasakan penderitaan yang mereka alami. Sedihnya luar biasa. Kalau bisa, kita saja yang merasakan sakit, bukan mereka.

Jawabannya adalah karena dalam pikiran mereka telah ditanamkan sebuah gagasan bahwa jihad dengan melakukan bom bunuh diri adalah jalan pintas menuju surga.

Maka tak heran mereka tega membawa serta anak-anak mereka dalam aksinya, karena bagi mereka, inilah jalan untuk menuju surga. Dan mereka ingin berkumpul dengan keluarga yang mereka cintai di sana (menurut versi mereka).

Now you see how dangerous ideas and thoughts could be. Ide dan buah pikiran itu seperti virus, terus menggerogoti sampai hilang akal sehat, hingga mampu melakukan hal-hal keji di luar nalar manusia.

This remind me of a very famous quote from Inception:

“What is the most resilient parasite? Bacteria? A virus? An intestinal worm? An idea. Resilient… highly contagious.

Once an idea has taken hold of the brain it’s almost impossible to eradicate. The smallest seed of an idea can grow. It can grow to define or destroy you”.

Jika pemikiran radikal itu sudah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, akan sulit bagi orang-orang di sekitarnya untuk menyadarkannya dari kesalahan pemikiran tsb.

Pentingnya menjaga kelurusan pemahaman diri, keluarga, dan orang-orang terdekat kita. Jangan biarkan setitikpun paham yang menyimpang untuk tumbuh subur dan mengubah mereka menjadi sosok lain yang sama sekali tidak kita kenal.

Salah satu caranya yaitu dengan mengkaji Islam, mengetahui definisi jihad yang sebenarnya, mempersenjatai diri dengan ilmu syar’i. Lawan kesesatan pemikiran itu dengan ilmu. Jadi ketika gelombang fitnah datang, kita dapat menangkisnya dengan ilmu dan iman yang kuat.

Kita juga bisa membentengi diri dengan memilih teman-teman yang lurus pemahamannya dalam beragama. Mereka yang mendalami agamanya di atas pemahaman para nabi, sahabat, dan para pengikutnya.

Jika ada dalam lingkaran pertemanan yang sepertinya terindikasi virus takfiri ala Khawarij yang menghalalkan pengeboman, cepat selamatkan. Ajak diskusi dan ingatkan bahayanya pemahaman yang bercokol di kepalanya saat ini.

Jika tetap keukeuh di atas penyimpangannya, bahkan ia mencoba menularkan pemikirannya itu pada kita, maka do’akan, lalu tinggalkan. Jangan mencoba berdebat dengannya, karena alih-alih kita bisa mengajaknya kembali ke jalan yang lurus, boleh jadi kita yang akan terbawa. Mengenai bahaya debat ini pernah saya tulis di sini.

Pentingnya memilih teman akrab yang baik aqidah dan akhlaknya, agar tidak mudah terbawa arus. Kaidah “boleh berteman dekat dengan siapa saja asal bisa jaga diri” itu salah kaprah. Bathil.

Bukankah kita diperintahkan untuk cermat dan berhati-hati dalam memilih teman dekat?

Hati ini lemah, sedang gelombang fitnah begitu dahsyat menghanyutkan. Siapalah diri ini, bisa menjamin pasti mampu membawa mereka kepada jalan kebenaran. Siapalah diri ini, begitu yakin bahwa bukan kita yang nanti akan terbawa?

“So it doesn’t matter if someone says Allahu Akbar and then blows himself up knowing he’s killing innocents, the act is strictly forbidden and accounted as murder, which is a major sin in Islam.” ~Unknown

Bom bunuh diri bukan jihad, apapun alasannya. Membunuh diri sendiri saja diharamkan, apalagi membunuh orang lain. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin. Agama penuh kasih sayang. Agama yang sangat welas asih terhadap semua makhluk. Bahkan terhadap binatang sekalipun.

Jika dalam peperangan saja, wanita, anak-anak dan lansia tidak boleh dibunuh, tempat ibadah dan pemuka agama lain tidak boleh dihancurkan .. Apalagi dalam kondisi tenang dan damai seperti sekarang ini?

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Seorang non muslim yang dijamin darahnya (dijanjikan tidak diperangi), lalu (seorang muslim) membunuhnya, maka aku berlepas diri dari si pembunuh. Walaupun yang ia bunuh adalah seorang non muslim.” (HR. al-Bukhari 3/322).

Beliau ﷺ berwasiat kepada pasukan yang hendak diberangkatkan menuju Mu’tah,

“Berperanglah dengan menyebut nama Allah dan di jalan Allah. Perangilah mereka yang kufur kepada Allah. Berperanglah, jangan kalian berlebihan (dalam membunuh). Jangan kalian lari dari medan perang, jangan kalian memutilasi, jangan membunuh anak-anak, perempuan, orang tua yang sepuh, dan rahib di tempat ibadahnya.” (HR. Muslim 1731, Abu Dawud 2613, at-Tirmidzi 1408, dan al-Baihaqi 17935)

Perintah Abu Bakar ash-Shiddiq sangat jelas kepada pasukan yang ia berangkatkan menuju Syam, ia berkata, “Jangan membuat kerusakan di muka bumi…”.

Wasiatnya yang lain kepada pasukannya:

“Jangan sekali-kali menebang pohon kurma, jangan pula membakarnya, jangan membunuh hewan-hewan ternak, jangan tebang pohon yang berbuah, janganlah kalian merobohkan bangunan,…” (Riwayat al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra 17904, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 2/75, dan ath-Thahawi dalam Syarah Musykilul Atsar 3/144).

(via kisahmuslim.com)

Terrorism has no religion. Islam tidak pernah mengajarkan pemeluknya untuk menghilangkan nyawa orang lain, kecuali karena sebab khusus seperti dalam peperangan. Itupun diatur tatacaranya. Adapun jika ada yang mengatasnamakan Islam untuk aksi teror yang mereka lakukan, maka jelas mereka bukan bagian dari Islam.

Be careful using social media. It can make you a better person, or otherwise. Sungguh internet adalah ladang fitnah, ia bagaikan pisau bermata dua, jika tidak cermat dan bijak menggunakannya, niscaya kita akan binasa.

Di belantara internet, fitnah pemikiran tersebar luas tanpa bisa dibendung. Lewat tulisan, video dan obrolan di kolom komentar. Jika tidak memiliki pegangan yang kokoh, kita akan mudah untuk terbawa arus.

“How can Islam be a religion of terror, when our greeting is the greeting of peace ‘May peace be upon you – As-salamu ‘alaykum’?”

Saatnya kembali memurnikan aqidah dari syubhat dan fitnah, tashfiyah wa tarbiyah. Karena fitnah dan talbis iblis itu sangatlah halussss.. Terkadang tanpa sadar kita terjatuh dalam perangkapnya.

Saatnya kembali belajar tentang tauhid, aqidah dan manhaj yang shahih. Karena tauhid yang lurus dan manhaj yang shahih, adalah landasan utama bagi seorang Muslim dalam beragama. Tauhid first!

Buahnya ilmu dan aqidah yang shahih adalah amal. Aqidah yang lurus akan tercermin dari lisan dan perbuatan badan. Serapi apapun kesesatan itu disembunyikan, pasti akan terbuka suatu saat nanti.

Hati-hati, tidak semua yang terlihat benar itu benar. Tidak semua yang terlihat nyunnah itu nyunnah. Tidak semua yang berjenggot, bercelana cingkrang dan bercadar itu mengamalkan Islam dengan benar. Telitilah dalam mencari teman dan sumber ilmu. Banyak yang serupa, tapi nyatanya tak sama.

Maka benarlah perkataan para salaf berikut…

“Kenalilah kebenaran, maka kita akan mengenali orang-orang yang berada di atasnya..”

~ Jakarta, a moment after suhoor, Ramadhan 1439.. because terrorism has no nationality, race or religion.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source : Pinterest ]

Advertisement

3 thoughts on “Thoughts, Terrorism, and Social Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.