My Niqab, My Pride, My Dignity

“You call me radical, extremist, terrorist, fundamentalist, but Allah names me as a Muslim, and that is enough for me.” -Anonymous

Bagi saya.. Bercadar itu nggak butuh pengakuan. Nggak butuh harus disenyumin semua orang. Nggak butuh harus diterima oleh semua kalangan. Nggak butuh harus dipandang baik dan jauh dari kesan membahayakan.

Dari awal bercadar delapan tahun yang lalu, berbagai reaksi terhadap kehadiran sepotong kain bernama cadar ini sudah sering saya alami. Dari mulai dilihatin bagai alien lewat di jalan, dipandang dengan tatapan sinis, bahkan sampai dikatain ninja..

Semua itu bagi saya sudah biasa. Sudah lumrah. I’m so used to it. Call me what you want, that won’t bother me anyway 😉

Itulah ujian melaksanakan syari’at Allah, terlebih ketika kita berbaur di masyarakat. Ada yang no problemo dengan cadar kita, ada yang netral, ada juga yang judgmental dengan stempel islam radikal, lebay, istri teroris, dsb.

Sering saya berpesan kepada teman-teman yang mengungkapkan niatnya untuk memakai cadar.. Bahwa cadar bukan hanya sepotong kain sederhana tanpa makna, bukan pula aksesoris yang diharapkan menambah kadar kecantikan, atau mengundang rasa penasaran kaum Adam terhadap mereka.

Cadar bukan trend muslimah kekinian yang keren dan instagrammable. Biar keliatan udah hijrah. Biar bisa pose selfie dengan leluasa, “Toh wajahnya tertutup ini, gak papa donk selfie..”

Cadar adalah syari’at Allah yang mulia. Sesuatu yang butuh ilmu dalam penerapannya. Bukan hanya karena “lagi pengen” atau “lagi ngetrend”, tapi karena “Allah suka saya menutup celah fitnah” dan “dengan cadar insya Allah saya lebih terjaga”.

Ilmu tentang cadar bukan hanya soal model cadar, teknik makan dengan cadar, naik motor dengan menggunakan cadar, trik agar cadar tidak mudah tersingkap ketika tertiup angin..

Tapi ilmu tentang hakikat cadar, tata cara bercadar yang syar’i, hingga bagaimana menghadapi gangguan yang mungkin timbul ketika kita memutuskan untuk menggunakan cadar.

Saat pertama kali saya memutuskan bercadar, satu hal yang menjadi pertimbangan serius saat itu adalah masalah persiapan mental. Fase ini memakan waktu berbulan-bulan.

Bagaimana saya bercadar hanya mengharapkan ridha Allah, dan bukan selainNya…

Bagaimana saya tetap istiqamah dengan cadar ini, jangan sampai setelah pakai lalu dilepas lagi..

Bagaimana saya menghadapi reaksi orang lain atas kehadiran cadar ini.. Keluarga, teman-teman, tetangga…

Ya, sudah siapkah saya dipandang dengan tatapan aneh ketika berjalan di tengah keramaian? Sudah siapkah saya dicemooh karena menegakkan sunnah yang mulia ini? Apalagi kalau ke mall, wuihh berasa artis deh, hehehe.

Pernah waktu belum menikah dulu.. Jilbab sebatas perut, bergamis, belum bercadar, saya masuk ke suatu mall. Di depan pintu lobby ada satpam yang sedang berjaga, dengan alat detektornya. Semua yang lewat lolos saja langsung masuk, sedang waktu saya mau masuk langsung dihentikan.

“Sebentar diperiksa dulu ya mbak..”

“Oh silakan, pak!” ((menyerahkan tas))

Setelah selesai diperiksa, tas kembali diserahkan ke saya.

“Sudah, silakan masuk mbak..”

Sambil menutup tas saya iseng nyeletuk,

“Gimana pak, gak ada bomnya kan?” ((smirk intendedly))

“Eh, nggak ada mbak..” ((langsung senyam-senyum salah tingkah nggak karuan))

Saya melangkah masuk ke dalam mall sambil tergelak. Segitu curiganya si bapak terhadap saya yang berjilbab lebar ini, padahal jilbab saya ya lebar tapi nggak lebar-lebar banget. Jauh lha sama jilbab yang saya pakai sekarang.

Merasa diperlakukan tidak adil? Of course. Kok cuma saya aja yang diperiksa sedang yang lain melenggang bebas dengan santainya. Apa karena sepotong kain yang saya pakai di kepala ini? So unfair.

Tapi apa saya menolak diperiksa? No. Justru saya akan buktikan bahwa saya bersih dari semua tuduhan. Buat apa marah, toh dia hanya menjalankan tugas. Perkara dia nggak adil dan diskriminatif, itu urusan dia sama Allah. Urusan saya adalah patuh pada aturan yang berlaku.

Setelah keperluan saya di toko buku yang berada di dalam mall itu selesai, saya keluar di pintu yang sama. Ketemu bapak satpam itu lagi.

“Misi, pak..” ((sambil senyum sopan))

“Eh, iya mbak.. Silakan..” ((nyengir tetap dengan gestur salah tingkah))

Imho, kalau memang kita nggak salah, nggak bawa hal-hal yang mencurigakan, dibawa santai aja. Para sekuriti atau petugas keamanan itu hanya menjalankan aturan yang berlaku. Kecuali kalau kita sampai dilecehkan baik secara verbal maupun non verbal, baru kita (harus) protes dan melawan. Jangan diam saja.

Inilah resiko menegakkan syari’at Allah. Pasti ada ujian di baliknya. Apalagi menegakkan sunnah di tengah-tengah masyarakat awam, lebih terasa perjuangannya. Lebih terasa beratnya.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabuut : 2)

Tinggal di lingkungan modern yang serba individualistis alias “lo lo gue gue”, tentu ujiannya tidak akan sama dengan tinggal di daerah yang penduduknya masih bermasyarakat dengan para tetangganya.

Tugas kita berdakwah dengan akhlak yang santun, lisan yang baik, kesabaran, kelemahlembutan, keramahan dan adab bermuamalah sesuai tuntunan Islam. Tidak perlu kita, wanita bercadar, demo turun ke jalan, membawa papan-papan bertuliskan kalimat-kalimat protes, menuntut hak-hak sebagai niqabi diakui dan dihormati.

Tidak, yang demikian bukan berasal dari Islam. Islam tidak pernah mengajarkan demo turun ke jalan. Terlebih dilakukan oleh perempuan. Memajang diri di jalan-jalan, minta pengakuan, minta diberi simpati, minta dianggap sebagai bagian dari masyarakat yang penuh cinta kasih.

Nope. Me, as a niqabi, will never beg for any attention, sympathy or pity from others. I feel proud of my identity as a muslimah. I feel secure in the way Allah made me. And I will not let anyone determine how I feel and act.

Like what i say before, “Call me what you want, it won’t bother me anyway.”

I believe, we only get what we give. If we give love, we will receive love. If we give hate, we will receive hate. And vice versa. Life is an echo, what you send out comes back to you. So give goodness.

Cukuplah membangun citra wanita bercadar yang baik, dengan lebih dulu membaguskan akhlak dan perilaku kita terhadap sesama. Saling mengajak dalam kebaikan, aktif bermasyarakat selama tidak melanggar syari’at. Respect is earned, not given.

Ramah terhadap sekitar, menjaga lisan, tidak pelit senyum (terhadap sesama perempuan), dan bersedia untuk membantu jika memang mampu untuk membantu. Jika sudah berbuat baik namun tetap dicap begini begitu, tetap disikapi sinis, ketahuilah itu sama sekali bukan urusan kita.

Toh kita berbuat baik bukan untuk membuat mereka terkesan, melainkan melaksanakan perintah Allah untuk berbuat baik terhadap sesama. So mau ditanggapi positif atau negatif, harusnya ya nggak masalah. Woles aja.

Berdakwah memasyarakatkan cadar, haruslah tetap berada di jalur yang benar, dengan mematuhi rambu-rambu syari’at. Niat baik aja nggak cukup.

Syarat diterimanya sebuah amal adalah ikhlas lillahi ta’ala dan ittiba’ rasulullaah. Jika salah satu saja luput, maka jelas tidak akan diterima amal tsb. Niatnya baik, tapi caranya tidak sesuai dengan syari’at. Mungkinkah diterima?

Pro kontra itu niscaya, pasti selalu ada. Tapi orang-orang beriman, akan kembali kepada pegangan yang tetap relevan sepanjang zaman, yaitu Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para pendahulu mereka (kaum Salaf).

Mereka tidak akan berdalih dengan perasaan, logika, atau “katanya katanya”.

Bukan pula beralasan dengan, “Niatnya baik kok, dakwah mensosialisasikan syari’at cadar.. Masa salah?”.

Mereka menimbang dengan takaran syari’at, dan bukan selainnya. Dalil adalah rujukan mereka, bukan “menurut saya…”

Wanita shalihah itu.. mereka tidak memandang dan tidak dipandang. Mereka tersembunyi dalam balutan rapat hijabnya. Mereka menutup rapat celah yang dapat menjatuhkan mereka kepada fitnah. Mereka turut membantu lawan jenisnya untuk menundukkan pandangan mereka.

Wanita shalihah.. Mereka itu mahal harganya. Tidak sembarang mata dapat memandangnya dengan leluasa. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan perhatiannya. Tidak sembarang orang dapat menikmati sosoknya dalam balutan cadar di sembarang tempat.

They are untouchable for ajnabi or non mahram. Mereka tidak berpose centil dan menggoda. Mereka tegas dalam menetapkan batas. Hingga laki-laki yang sekadar iseng merasa segan terhadapnya, dan laki-laki shalih pun menaruh hormat kepadanya.

Know your self worth as muslimah. A real muslimah is always hidden away. Just like the most precious diamond in the world, she is too expensive to be on display.

Karena kita, wanita muslimah, bukan barang murahan, bukan barang pajangan, bukan pula pengemis kasih sayang. Kita tidak perlu merendahkan diri dengan mengobral kemuliaan kita demi mendapatkan simpati dari orang lain.

Kita adalah wanita terhormat, yang sangat diistimewakan dalam Al Qur’an. Hingga di dalamnya tersebutlah satu surat khusus yang diberi nama dengan An Nisaa’, yang artinya adalah perempuan..

And I can’t be more thankful for being a Muslimah.. Alhamdulillaah.

~ Jakarta, end of May 2018.. alhamdulillah for Islam that treats me like a queen ❤

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisement

8 thoughts on “My Niqab, My Pride, My Dignity

  1. Alhamdulillah, aku tersandar mampir di blog ini. Mau tanya, ga relevan banget sih sama tulisan curhat diatas hihihi. Hukum cadar apa ya? Masalahnya gini, kalau itu wajib ya harus sekeras sholat dong dakwahnya karena jika ndak dikerjakan maka dosa. Dan kalau dihitung berapa orang pake cadar, berapa yg cuma kerudung, berapa yang tidak pakai keduanya.
    Kalau sunnah bisa lebih longgar dalam toleransi antara memilih melaksanakan atau tidak. Terima kasih. Salam.

    Liked by 1 person

  2. Ka klo semisal cadar malah bikin ikhwan semakin penasaran bagaimana? Saya saja yang cuman memakai masker setiap hari di kampus, masih saja ada ikhwan yang bikin saya kzl karna dia jahil, penasaran dan dsb. Entah mengapa saya jadi kapok memakai masker… saya kira dengan memakai masker bisa mengurangi yang namanya fitnah 😥

    Liked by 1 person

    • Parameter kita dalam perkara syari’at haruslah dalil shahih, bukan “menurut kita” atau “menurut orang lain”. Ketika Allah menetapkan suatu syari’at, pasti ada kebaikan besar terkandung di dalamnya. Meski di mata manusia hal tsb mengundang mudharat.

      Fungsi cadar adalah menutup celah fitnah yang rata-rata berasal dari wajah seorang wanita. Cadar adalah bentuk penjagaan Islam terhadap wanita. Jika setelah bercadar dengan benar (memenuhi syarat-syarat cadar yang syar’i, tidak tabarruj, meminimalkan frekuensi keluar rumah, dll) ada lelaki yang terfitnah dengannya, hal tsb sama sekali bukan urusannya.

      Urusannya adalah memenuhi perintah Allah, sedang efek yang terjadi atas ketaatannya adalah di luar kendalinya sebagai manusia. Wallahu a’lam.

      Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.