Hati-hati Memilih Guru Ngaji

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dianggap benar, sementara orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya, “Apa itu Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh (masalah agama) yang turut campur dalam urusan masyarakat.”

(HR. Ahmad 7912, Ibnu Majah 4036, Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya 3715, dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth via konsultasisyariah)

Menyimak linimasa sosmed beberapa hari terakhir… Emang bener ya.. Awal ngaji tuh harusnya banyak mengkaji soal aqidah, tauhid, manhaj. Jadi basicnya udah kuat dan kokoh, mau diterpa fitnah sehalus apapun kita tetap bisa membedakan.. Ini haq dan ini bathil.

Kalau awal-awal ngaji yang dibahas udah soal percintaan, rumah tangga, kiat-kiat jadi jomblo bahagia (well, why should we suffered and be ashamed of being single, huh?).. Tanpa menyentuh hal-hal mendasar seperti aqidah dan manhaj, maka bisa dipastikan pondasinya tidak akan kuat menahan guncangan syubhat dan fitnah.

Bersyukur sekali di awal hijrah dulu saya dipertemukan dengan asatidz yang “keras”. Salah ya salah, benar ya benar. Tidak ada abu-abu. Tidak pula membungkus kesalahan dan kesesatan dengan kata-kata kiasan, sehingga batas antara yang haq dan bathil menjadi bias.

Asatidz yang tegas mengatakan kebenaran tanpa takut kehilangan jama’ah. Karena mereka berdakwah bukan untuk menyenangkan semua golongan, namun menyampaikan mana yang haq, dan menyeru manusia atasnya. Dan menyampaikan mana yang bathil, serta memperingatkan mereka dari bahayanya.

Apa yang disampaikan, bersandar atas nash. Agama ini dibangun di atas dalil. Selalu berhujjah dengan ilmu dan dalil shahih, bukan atas dasar ra’yu atau perasaan semata. Tidak main-main soal halal haram.

Riba dibilang riba, ikhtilat dibilang ikhtilat, isbal mau disertai rasa sombong atau tidak, tetaplah terlarang. Ulang tahun tetaplah ulang tahun yang termasuk tasyabbuh bil kuffar, tidak lantas menjadi halal setelah berganti dengan kata “milad”.

Tiap kajian yang dibahas aqidah, manhaj, tauhid, adab, fiqih. Ngajinya buka kitab, bukan tematik. Syarah kitab tauhid, aqidah wasithiyah, riyadhusshalihin, bulughul maram, firqatun najiyah, dsb. Gitu-gitu aja terus.

Bosen? Alhamdulillah nggak pernah. Malah nagih banget kalau saya mah. Padahal kajiannya nggak pake bahasa gahol ala anak muda loh, tapi saya yang saat itu masih muda (ehem) selalu semangat untuk datang.

Jarang banget ngebahas ngenesnya jadi jomblo, topik yang lagi hot dan ngehits saat itu, kiat istri jadi bidadari di hati suami, apalagi bahas politik dan pemilu. Fokus ke pemurnian tauhid, perbaikan aqidah dan manhaj. Kalau aqidah dan tauhid udah dibenerin, manhaj udah lurus, insya Allah lainnya gampang ngikut.

Dulu jumlah asatidz yang sering saya ikuti kajiannya sangat sedikit, bisa dihitung dengan 5 jari. Meski sedikit, tapi ilmu yang saya dapatkan sangat berbobot, masya Allah. Pulang ngaji mesti bawa sesuatu yang baru. Semakin sering ngaji, semakin saya merasa bodoh, semakin haus akan ilmu baru.

Dulu belum kenal ustadz via Yutub, IG atau FB. Yang namanya ustadz ya jelas ustadz beneran, bukan ustadz yang nggak jelas basic pendidikannya. Bukan ustadz sosmed yang berlindung di balik username dan nama samaran untuk menyembunyikan identitas aslinya.

Bagi saya, lebih baik berguru pada sedikit ustadz yang sudah terbukti dan teruji kedalaman adabnya, keilmiahannya, kefaqihannya, kelurusannya.. Ketimbang berguru pada banyak ustadz namun tidak jelas darimana ia belajar, tidak jelas keilmuannya, tidak jelas pula mad’unya mau dibawa kemana..

Prinsip “ngaji sama siapa aja, ambil baiknya buang buruknya” itu totally bathil.

Let’s imagine this…

Kita baru ngaji, baru hijrah, baru menapakkan kaki menuju jalan kebaikan. Masih awam dan jahil soal agama. Kita belum tahu nih, mana yang bener mana yang salah, mana yang sunnah mana yang bid’ah, mana tauhid mana syirik..

Lalu dengan “kejahilan” kita tsb, kita sangat pede menentukan yang ini salah, yang ini benar, yang ini lurus, yang ini menyimpang, yang ini boleh diambil, yang ini dibuang aja.

Well, who are we to know what’s right and what’s wrong if we don’t have any knowledge about it?

Let’s think about this for a sec. Ketika kita sakit, kita berobat kemana? Dukun? Tukang sol sepatu? Akuntan? Mamang tahu gejrot? Tukang parkir? Tukang obat? Dokter umum? Dokter spesialis? Dokter hewan?

Tentu ketika sakit, kita lebih pilih dokter yang background pendidikannya sudah jelas, spesialis di bidangnya, kompeten, ilmunya nggak asal, ngasih resep pakai standar khusus medis.. Dibanding profesi lain yang diragukan kapabilitasnya dalam hal tsb.

Buat kesehatan jasmani aja kita berhati-hati sekali, nggak mau asal periksa dan percaya ke sembarang profesi, apalagi untuk kesehatan rohani. Terlebih jika kepercayaan itu menyangkut keselamatan di kehidupan selanjutnya.

Mungkinkah kita belajar Bahasa Arab pada sarjana lulusan Bahasa Inggris yang awam soal bahasa Arab? Atau belajar masak pada profesor Fisika yang tidak punya ilmu sama sekali soal masak memasak?

Muhammad Ibnu Sirin berkata,

“Ilmu adalah bagian dari agama, karena itu perhatikan, dari mana kalian mengambil agama kalian.’ (Siyar A’lam an-Nubala’, 4/606)

Knowledge is power. Power to build you, or power to destroy you. Maka berhati-hatilah memilih pada siapa kita menimba ilmu. Tidak semua orang layak untuk dijadikan sumber ilmu, terlebih ilmu syar’i. Berat konsekuensinya.

Tidak semua da’i menyeru pada jalan kebenaran. Ada di antara umat ini da’i-da’i yang justru menyeru manusia pada jalan-jalan menuju neraka, tanpa mereka menyadarinya..

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”

Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?”

Beliau berkata : “Ya”

Aku bertanya : “Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?”

Beliau menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.

Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”

Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”

Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?”

Beliau menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”

Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka kepada kami ?”

Beliau menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”

Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini”

Beliau menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”

Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak imam dan jama’ah kaum muslimin?”

Beliau menjawab :”Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu”

( via almanhaj.or.id )

Jangan tertipu pendakwah yang pandai bicara dan menguasai ilmu retorika. Penuh kata-kata indah nan membuai, penuh dengan humor dan candaan supaya ngajinya nggak ngantuk.. Namun tidak pernah menerangkan dengan jelas, mana jalan ke surga, dan mana jalan ke neraka. Berfatwa tanpa ilmu, berkata tanpa dalil.

Jangan silau dengan packaging dakwah yang santun demi merangkul semua golongan, tapi malah menjerumuskan. Tidak pernah tegas mengatakan salah itu salah, benar itu benar. Atau justru menuntun jama’ahnya pada paham sesat dan menyimpang.

Keberhasilan dakwah itu tidak dilihat dari puja puji atau banyaknya pengikut. Jika parameter kesukesan dakwah adalah jumlah pengikut, maka para nabi adalah golongan yang paling gagal dakwahnya, karena sangat sedikit pengikutnya. Bahkan ada nabi yang pengikutnya hanya satu orang saja.

Sebagai konsumen yang cerdas, sekadar milih gadget aja kita nggak mau asal, harus rajin cari review sana sini. Apalagi buat akhirat yang abadi dan nggak ada garansi 1 tahun. Harusnya lebih selektif lagi.

Milih pasangan hidup aja nggak boleh sembarangan, kalau salah pilih, nyeselnya seumur hidup. Apalagi milih guru ngaji, bukan hanya nyesel seumur hidup, tapi nyesel selamanya..

Tak berbatas waktu, tak ada kesempatan kedua untuk mengulangnya kembali. Hari di mana taubat tak lagi diterima, dan penyesalan tak lagi berarti…

نسأل الله السلامة والعافية

~ Jakarta, July 2018… when it comes to deen, I think it’s better safe than sorry.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pixabay ]

Advertisements

14 thoughts on “Hati-hati Memilih Guru Ngaji

  1. Umm, barakallahu fiik… ana suka tulisan-tulisan anti, Masya Allah… hmmm, soal yg ini umm…Jujur aja, emang begitulah adanya. Mungkin ana pun mengalami perjalanan Hijrah seperti itu, hehe… Honestly, ana ingin ketemu secara langsung… domisili di mana umm? rasanya baca beberapa tulisan anti membuat ana pun semangat menulis… semoga jika Allah mengizinkan, someday kita bisa dipertemukan yaa…

    • Masya Allah, haadza min fadhli Rabbi.. Semua berproses ya umm, semoga kita tidak hanya berproses tapi juga berprogress. Wafiyk barakallaah 😊

      Saya domisili di Jakarta, umm.. Semangat menulis ya.. Insya Allah kalau tepat waktunya, suatu saat nanti bisa ketemu. Aamiin ❤

  2. saya senang baca tulisan-tulisan mbak, hanya tulisan kali ini membuka mata saya tentang apa yang mbak maksud haq dan bathil. mencari ustadz/ustadzah yang kompeten jelas penting, saya pun melakukan hal yang sama. tapi saya rasa, belajar dari sekian banyak ustadz/ustadzah yang berbeda pandangan bukanlah kesalahan. itu justru memperkaya pemahaman kita tentang islam dan, pada akhirnya, mendewasakan. Allahu a’lam.

    • Terima kasih atas apresiasinya..

      Sure, saya pernah belajar pada banyak guru, pernah salah memilih tempat ngaji, pernah keliru memilih komunitas ngaji.. Yang demikian membuka mata saya, bahwasanya perlu jalan berliku untuk menemukan apa yang selama ini saya cari.

      Saya banyak belajar dari pengalaman. Saya jadi lebih berhati-hati dan selektif dalam menentukan pada siapa saya menimba ilmu agama. Karena menimba ilmu agama ini, tidak bisa dari sembarang orang.

      I fell and failed so many times. Dan ya, perjalanan penuh liku itu telah mendewasakan saya agar tetap pada pilihan terakhir ini. Karena saya yakin, inilah jalan yang benar. Jalan yang selama ini saya cari dalam hidup.

  3. akal kita dinamis, tapi pengalaman bisa menjadi pegangan dan tolok ukur. sometimes we think that our thought and belief are infallible, but somehow time will challenge it. to find the thruth often we fall and make mistakes. as long as we know that we are still human, which is fallible, we can start all over again. God is the only one infallibe.
    i love the way you share your thought, make me think and reflect 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.