“Karya Kita Dicuri? Harusnya Senang, Dong!”

Waktu kemarin ikut pelatihan digital marketing di daerah Depok yang membahas soal tips website efektif.. Di sesi pertama, speaker (pembicaranya) berpesan..

Ketika kita bikin website, yang perlu diperhatikan adalah soal gambar/foto yang dipakai dalam website kita. Ini penting sekali.

Usahakan menggunakan foto asli, pun jika kita mengambil gambar dari Google atau dari mana saja, cantumkan sumbernya. Misalnya: sumber gambar dari Google, dsb. Always giving credit.

Beliau juga cerita, bahwa foto-fotonya sering dipakai oleh orang lain tanpa izin. Bahkan foto dirinya pernah dimuat di sebuah buku pelajaran SMA. Lagi-lagi tanpa izin.

Ada salah satu peserta yang nyeletuk, kurang lebih seperti ini redaksinya, “Harusnya seneng dong fotonya dipakai (kan artinya fotonya bagus)..”

Kesan yang saya tangkap, sang pembicara tak menyangka ada respon seperti itu. Setelah jeda beberapa detik, beliau menjawab..

“Ya seneng sih.. Tapi kan nggak ada kulonuwunnya (permisi) itu, lho…”

Bahkan pernah salah satu foto beliau (hobinya memang jeprat jepret kayak saya, tapi bedanya beliau ini pro, saya mah cuma remahan nastar yang kelindes buldoser), dipakai oleh seseorang di IG. Di-DM-lah orang tsb. Dan ujung-ujungnya beliau diblock

In the end, beliau berpesan lagi.. “Itulah kenapa watermark sangat penting”. Ya walau watermark bisa dihapus, setidaknya bikin mikir yang mau comot foto-foto kita, mesti ada effort lebih nih buat menghapus watermark.

Saya langsung berbisik pada partner di sebelah, “Ya emang ada aja sih orang yang punya pikiran kayak gini…”. Sambil nyengir kuda (bukan kerja lembur, ya).

Entah maksudnya si peserta cuma ngetes apa gimana, yang pasti, ada, bahkan banyak orang di luar sana yang memiliki mindset:

“Dijiplak? Diplagiat? Dicuri karyanya? Harusnya seneng, dong. Artinya karya kamu bagus. Kan nggak mungkin orang njiplak atau nyuri sesuatu yang jelek..”

Mau ketawa tapi kok miris ya

Saya jadi ingat, foto buku Sandiwara Langit yang pernah saya post di blog, digunakan oleh seseolshop di IG untuk display jualannya, tanpa menyertakan credit sama sekali ke blog saya.

Tanpa pikir panjang, langsung saya DM owner OS yang bersangkutan. Saya mengklaim bahwa foto tsb adalah milik saya,

“Afwan, ini foto milik saya. Pernah saya muat di blog saya: aisyafra.wordpress.com. Ada watermark atas nama saya pula. Mengapa digunakan untuk tujuan komersil tanpa izin?”

Tak lama, DM saya dibalas. Alhamdulillah ia mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan bersedia menghapus foto tersebut. Ketika saya buka DM, postingan yang saya attach sudah unavailable. Artinya postingan tsb sudah dihapus.

Alhamdulillaah..

Saya ucapkan terima kasih atas itikad baik dan kerjasamanya. Tak lupa saya ingatkan untuk lebih memperhatikan adab dalam menggunakan milik orang lain, terutama untuk tujuan komersil.

Case closed.

Ini yang saya harapkan ketika menegur mereka yang menggunakan hasil karya saya tanpa izin. Mengakui kesalahan, meminta maaf dan bersedia untuk menghapus/mengedit dengan menyertakan sumber aslinya.

Selesai. Nggak pake acara ngeles, drama berjilid-jilid, bolak balik ganti kulit (akun), sampai playing victim segala.

Adab (etika) dan amanah ilmiyah. Sesuatu yang seringkali luput dari dunia maya. Seakan-akan apa yang tersaji di internet adalah milik bersama, bebas digunakan sesuka hatinya. Di-edit, dihapus watermarknya, ditimpa watermark namanya sendiri, dikomersilkan, dsb.

Apalagi jika digunakan untuk tujuan komersil.. Apa iya rupiah yang dihasilkan dengan cara mencuri dan melanggar hak orang lain akan berkah? Banyak mungkin iya, tapi berkah sudah pasti tidak.

Semoga Allah menjaga kita dari memakan harta haram yang didapat dengan jalan menzhalimi orang lain. Sedikit, namun halal dan berkah, jauh lebih berarti dibanding banyak tapi mengundang murka Allah.

~ Jakarta, di sebuah Senin pagi yang cerah, penghujung Juli 2018…

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM
Advertisements

5 thoughts on ““Karya Kita Dicuri? Harusnya Senang, Dong!”

  1. betul, pencurian tetap pencurian. harusnya ada izin, or at least giving credit. tapi memang perlu kita sadari, website, socmed, atau apa pun yang menjadi media kita mengunggah sesuatu bagaimanapun ibarat sebuah galeri yang pintunya gak dikunci. orang baik bisa masuk, maling pun sama 🙂

  2. Setuju, kita memang harus selalu peka dengan hal-hal yang berbau kepemilikan asli. Memberi kredit artinya memberikan penghargaan dan sikap rendah hati mengakui bahwa ada karya orang lain yang luar .
    Terima kasih postingannya 🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.