Cantik, Putih, Langsing

“Cantik, putih, langsing.

Ntar udah nikah jg dibikin item karena kepanasan beli sayur antar anak sekolah, tangan kaki pecah2 kebanyakan nyuci, badan melar karena melahirkan, punggung bungkuk kebanyakan gendong. Rambut nipis gara2 mikirin uang belanja yang tipis..

Hahaha.

Udah gitu pengen poligami.”

Salah satu kutipan komen di status Ustadz Abduh Tuasikal yang rame pagi ini. Kocyak-kocyak komennya. Sungguh menghibur 😂

Memilih pasangan dengan menitikberatkan kriteria fisik? Yay or nay?

Buat saya, melihat calon pasangan dari faktor fisik itu penting, tapi bukan yang terpenting. Ada hal-hal lain yang jauhhh lebih penting ketimbang penampilan lahiriah. Once you get married, you’ll know why 😉

Kesamaan visi misi, kedalaman akhlak, kecocokan karakter dasar, keseragaman dalam hal-hal yang sangat prinsipil, faktor dien, wawasan beragama, adalah kriteria-kriteria utama yang menurut saya sangat penting.

I’ve been married for almost 11 years this month, and I truly realize that marriage, it’s not just about physical attraction. Ketertarikan secara fisik itu wajib, tapi bukan yang utama. Menurut saya.

Sebagian ikhwah mungkin berpendapat,

“Ah, soal akhlak, dien kan bisa dipoles.. Kalau fisik kan udah bawaan dari sananya. Susah molesnya.”

“Dibini dulu lah, baru ntar dibina.”

One question left on my mind, semudah itukah memoles akhlak, karakter, dien dalam diri seorang perempuan? Sedang sifat dasar perempuan itu bengkok karena ia tercipta dari tulang rusuk.

Jika diluruskan dengan kasar dan keras, maka ia akan patah. Jika tidak diluruskan, maka selamanya akan bengkok sebagaimana tabiatnya. Tricky, yet uneasy. But not impossible.

Nah, cukupkah hanya dengan melihat “kesempurnaan” fisik seseorang lalu dengan mudah kita memutuskan,

“Ya, saya akan menikahinya.. Soal yang lain itu masalah belakangan. Bisa diatur.”

Semudah itukah? Dan cukupkah ketertarikan tersebut jadi pilar utama dalam membangun rumah tangga? Soal ini, pernah saya tulis dalam postingan lama di sini.

Yang namanya manusia, dengan berjalannya waktu pasti akan menua. Tangan yang tadinya halus, setelah punya anak jadi pecah-pecah kebanyakan gantiin popok anak, masak, nyuci, nyetrika, dll..

Badan yang tadinya langsing, setelah melahirkan akan memuai (baca: melar) secara alamiah. Melarnya kenapa? Ya karena hamil dan melahirkan anak-anaknya. Anak si suami, juga tho?

Wong suami yang nggak pernah hamil dan melahirkan aja ikutan melar, kok. Upsss 🙊

Dan memang bener ya cantik itu nggak cuma dari ‘sananya’, tapi lebih dari dananya. Mau istri kinclong tapi ogah ngasih dana lebih buat perawatan. Boro-boro ngasih budget buat dandan sehari-hari di rumah.

Ya kalau memang nggak ada budget buat istri perawatan lebih, atau ngasih ART supaya wajah istri nggak penuaan dini.. Ya qana’ah tho, pak. Sadar diri, nggak bisa ngasih banyak yo ojok nuntut banyak.

Dimintain duit buat beli bedak murah meriah nggak sampe 50 ribu aja susahnya kayak ditodong beliin Mercy. Dimintain tolong jaga anak, emaknya mau luluran n maskeran di rumah bentaran aja ogah..

Itu namanya “pen menang banyak tapi gag mau keluar modal”.

Banyak tuntutan, tapi kewajiban dilalaikan. Pengen istri secantik harteis tapi budget maintenance disamain sama emak-emak rumahan. Ya mana bisaaa..

“Kalau kalian cari istri yang putih, mulus, ramping, dan tidak jual mahal… Menikahlah dengan Bihun.-Anonymous

Apa fair ngebandingin istri di rumah sama seleb yang budget perawatannya aja jut-jutan? Ya nyalon, spa, make up, treatment. Dari ujung rambut sampai ujung kepala.

Saya pernah punya kenalan mantan artis yang sekarang sudah mundur dari dunia hiburan. Beliau pernah cerita, budget maintenancenya aja dulu berkisar antara 3 – 5 juta perbulan. Dulu lho, ya.

Belum anggaran buat halan-halannya biar pikiran rileks. Gaji khusus buat ART dan personal assistant. Makannya dijaga, tapi tetep yang enak-enak. Nggak boleh capek atau stress. Traveling boleh dibilang rutin tiap minggu.

Lha emak-emak rumah tangga macem kita, yang merangkap beberapa profesi sekaligus macem tukang ojek, chef, tukang cuci setrika, tutor privat anak, babysitter, penopang nafkah tambahan, dll..

Yang perawatannya aja mood-moodan, itu juga seringnya nggak sempet saking banyaknya kerjaan yang harus diselesaikan. Budgetnya pun mepet dipangkas uang belanja yang makin membengkak. Anter jemput anak sendiri, biar hemat ongkos.

Spa? Nyalon? Facial? Meni pedi? Massage? Setahun sekali aja udah terhitung mevvah. Sengaja nggak pakai ART agar pengeluaran dapat ditekan semaksimal mungkin. Ya walau resikonya uban dan encok datang sebelum waktunya.

Yang serba sederhana dan ala kadarnya gini, masa iya mau disamain sama seleb yang serba glamor? Ngimpi 😂

Pada akhirnya, rasa syukur yang membuat kita mampu menikmati apa yang kita punya.. Rasa syukur karena telah dikaruniai pendamping hidup, pelengkap separuh jiwa, partner dalam banyak hal. Sedang banyak mereka yang masih struggle dalam status kesendiriannya.

Jika kita selalu mencari yang lebih, maka pencarian itu tidak akan pernah berakhir. Karena selalu dan selalu ada yang lebih dari pasangan kita. Lebih rupawan, lebih enak dipandang, lebih pintar, lebih penurut, lebih berharta, lebih bertanggungjawab, lebih segala-galanya…

Tapi bukan itu kan tujuan kita menikah (dulu)? Remember the vow we made. Kita pernah bermimpi untuk mewujudkan sakinah dalam rumah kita, tertawa dalam derita, menggapai surga, bersama-sama. Dengan ia yang kini menjadi pasangan sah kita.

Kita tidak perlu pasangan yang selalu membuat jantung berdebar seperti saat awal jatuh cinta dulu. Kita juga tidak perlu memiliki pasangan yang dipuja puji oleh banyak orang. Trophy wife or husband. Pasangan sempurna. Atau pasangan yang “paling” dan “ter-” di circle pertemanan kita.

Kita hanya butuh pasangan yang bisa bikin kita nyaman, setia, menenangkan, dapat dipercaya, mampu meringankan beban hidup dari pundak kita, dan tidak menghujani dengan tuntutan-tuntutan di luar kesanggupan kita.

If you have found one, cherish and treasure him or her. Be grateful of having him or her in your life, always on your side. Through thick and thin, rain and summer, sharing the same laughters and tears, together.

You know, there are things in this life you can never ever replace, no matter how many times you’ve tried. And your soulmate, is probably one of them.

~ Jakarta, di sebuah sore yang damai dan sunyi.. awal Agustus 2018..

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pixabay ]

Advertisement

15 thoughts on “Cantik, Putih, Langsing

  1. saya pernah baca tulisan begini: banyak suami yang mendambakan istri cantik, tapi ketika ia tahu bahwa untuk cantik itu butuh make up dan perawatan, lalu dia tahu berapa biaya untuk itu semua, dia akan bilang ke calon atau istrinya itu, “aku sayang kamu apa adanya … ”
    saya baca tulisan mbak awalnya adem tapi lama-lama kok kayak ngajak berantem yes? 😛

    Like

  2. duh mbak, aku ngakak baca tulisan ini 😂 dan ikutan baca komen2 di statusnya.
    sadly, masih ada aja ya laki-laki yg seperti itu. saya suka sedih kalau denger cerita ada akhwat yg gagal taaruf gegara ikhwannya ga suka sama penampilan fisiknya, atau akhwat yg diceraikan gara-gara ga bisa menjaga penampilan 😢
    ikutan baper jadinya

    Like

    • Kocak yaa.. Seru baca komen-komennya 😂

      I feel them.. Saya sendiri pernah punya teman yang gagal ta’aruf sampai lebih dari 10x hanya karena terkendala masalah fisik. Padahal akhwat ini termasuk cerdas dan faqih, masya Allah..

      Tapi nggak usah lama-lama sedihnya.. Insya Allah akan datang laki2 yang melihatnya tidak hanya dari penampilan lahiriah. Yang siap menerimanya sepaket dengan segala kelebihan dan kekurangannya. True love does exist 😊

      Liked by 1 person

  3. Sangat menginspirasi saya sebagai laki-laki. Semoga saya kelak bukan hanya mencari yg terbaik, tapi juga bisa menjadi yang terbaik dan selalu berusaha menjadi lebih baik

    Like

  4. Bun tertarik soal ‘kecocokan sifat dasar’ nih, ini hanya bisa diketahui kalau udah nikah atau bisa dipersiakan sblm nikah? Jazakillah khair

    Like

    • Menurut hemat saya.. Ada yang bisa diketahui dari sebelum menikah, kita bisa tanya2 ke orang/kerabat yang kenal betul dengan calon. Karakter dasar, sifat2 baik dan buruknya. And last but not least, gimana sih dia kalau lagi marah? Ini puenting bangeett..

      Selain itu, kita bisa mengamati dari perilaku calon selama berproses dengan kita. Buka mata buka telinga. Kepo is a must! 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.