A Moment of Reflection

Satu hal penting yang saya sadari setelah membaca beberapa artikel tentang parenting dan tumbuh kembang anak beberapa pekan terakhir ini…

Saatnya mengubah mindset “tiap ibu pasti tahu apa yang terbaik untuk anaknya”, menjadi “tiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya”.

Jika tiap ibu “pasti tahu” apa yang terbaik untuk anaknya…

Mengapa ada ibu yang membuang anaknya, berperilaku abusive terhadap anaknya, menjual anaknya pada makelar prostitusi, menjerumuskan anaknya ke dalam jurang maksiat, hingga membunuh masa depan anaknya sendiri?

Jangan jadikan kalimat “tiap ibu pasti tahu apa yang terbaik untuk anaknya” sebagai tameng untuk bersikap neglect terhadap hak-hak anak dan seenaknya memperlakukan anak.

Atau sebagai excuse untuk menangkis kritik dan saran yang masuk terkait pola asuh kita yang kurang tepat selama ini. Bahkan jika kritik itu berasal dari anaknya sendiri.

Sebagai ibu, kita dibekali insting dan kepekaan khusus, sesuatu yang hanya dapat dirasakan oleh seorang ibu terhadap anaknya. Namun untuk membesarkan anak, insting saja tidaklah cukup. Kita butuh ilmu. Banyak sekali jenis ilmu untuk mencetak generasi yang cerdas, sukses, bertaqwa dan berakhlak mulia.

Ilmu tentang tahapan-tahapan dalam mendidik anak, ilmu mengenali emosi anak dan diri sendiri, ilmu bagaimana menciptakan komunikasi yang efektif dengan anak, ilmu mencari solusi atas permasalahan hidup, dan lain sebagainya.

Kita juga butuh membuka cakrawala berpikir kita terhadap hal-hal baru yang sudah terbukti dan teruji kebenarannya. Open minded terhadap masukan, tidak anti-kritik dan merasa paling benar sendiri.

It’s true that every mother has their own parenting style. Tapi bukan berarti tiap ibu bebas memperlakukan anaknya sesuka hatinya. Anak juga manusia, bukan benda mati yang tidak memiliki jiwa dan rasa.

Tiap ibu, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Meski mungkin yang ia anggap baik, belum tentu baik di mata sang anak, bahkan ternyata justru salah besar ketika dilihat dari kacamata para ahli.

Demikianlah mengapa kita sangat perlu untuk terus belajar. Belajar lagi, belajar terus, belajar tanpa henti, belajar seumur hidup. Tak pernah putus dari meminta petunjuk dan pertolongan Allah dalam setiap keadaan.

Menjadi seorang ibu artinya siap untuk menjalani a lifetime learning, a never ending process. Jangan pernah merasa bahwa dengan melahirkan dan punya anak kita otomatis “pasti tahu” apa yang terbaik untuk anak.

Menjadi seorang ibu, hendaknya tidak membuat kita mudah berpuas diri. Merasa paling pandai dalam mengasuh anak, merasa paling benar, merasa paling mengerti anaknya, tanpa pernah mau bercermin dan introspeksi..

Sudah benarkah style parenting saya selama ini?

Sudah nyamankah anak saya dengan cara saya mendidiknya?

Sudah sesuai dengan pakem dan anjuran para ahli kah pola asuh saya selama ini?

Kadangkala, kita merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anak. Tanpa kita sadari, bahwa kita hanya melakukannya untuk kepuasan diri sendiri. For our pride only.

Kadangkala, kita merasa telah menyayangi dan mengasihi anak sepenuhnya, tanpa kita sadari anak kita justru merasa tak nyaman dan terluka dengan perlakuan kita terhadapnya.

Banyak tipe orang tua yang egois, hanya memikirkan kepentingan sendiri, tanpa mau mempertimbangkan kejiwaan dan menghargai perasaan anak. Mungkin ia lupa bahwa anaknya juga manusia, seperti dirinya.

Orangtua tidak selalu benar. Juga tidak selamanya tak pernah salah. Seringkali, anak tak diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, karena orangtua selalu merasa bahwa ia yang paling tahu apa yang terbaik untuk anaknya.

Ia tidak pernah memberi kesempatan anaknya untuk tumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendiri. Karena sejak lahir, anaknya tak lebih dari sekadar properti konten dan trofi kebanggaan yang sering ia pamerkan demi kepuasan pribadinya sendiri.

Sungguh anak-anak kita, hanyalah makhluk yang Allah titipkan kepada kita. Mereka bukan milik kita, bahkan diri kita sendiri pun, bukan milik kita. Juga karena kita, sebagai orang tua, jauh dari kata sempurna, yang tentu tak lepas dari lalai dan alpa.

Sudah seharusnya kita berhati-hati dalam mengemban amanah ini, karena kelak kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Jika kita mendidiknya dengan baik, maka mereka akan tumbuh menjadi anak-anak shalih yang do’anya tak akan putus hingga kelak kita meninggalkan dunia. Demikian pula sebaliknya.

Somesay, everyone can be a parent, but not every parent can be a good one. Semoga Allah mudahkan langkah-langkah kita untuk mendidik dan membesarkan anak-anak kita, dengan sebaik-baik ikhtiar dan penjagaan.

~ Jakarta, October 2018… a self reminder, actually.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pixabay ]

Advertisements

2 thoughts on “A Moment of Reflection

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.