Unfriend or Deactivate Your Profile?

Ketika merasa tidak nyaman dengan pribadi atau perilaku satu atau dua orang teman di media sosial, what would you do? Deactive/delete akun sementara/selamanya, atau unfriend/unfollow orang yang bersangkutan?

Saya memilih opsi yang kedua.

Ketika merasa tidak nyaman berada di sebuah circle pertemanan, jika mungkin saya akan memilih untuk menarik diri dan membangun circle baru dengan orang-orang yang membuat saya nyaman. In this case, creating new friendlist and delete the old one.

Bagi saya, deaktif sosmed hanya karena nggak suka sama satu atau beberapa orang itu rugi. Sosmed ibarat rumah, ketika ada yang bertamu ke rumah, maka merekalah yang harus mengikuti aturan yang ada di rumah tsb.

Jadi ketika ada tamu yang nyebelin, nggak sopan, kurang adab, nggak ngerti unggah ungguh, ya kita tegur baik-baik. Kalau masih juga ngeyel, terpaksa kita tunjukkan letak pintu keluar. Bukan kita yang malah minggat, ninggalin rumah kita sendiri.

Saya sendiri pernah punya satu dua orang teman yang (bagi saya) annoying banget perilakunya di sosmed. Pertama-tama masih saya unfollow/hide. Tapi kok masih suka komen aja gitu di status saya. Komennya nggak enak dibaca lagi.

Setelah beberapa lama, saya putuskan untuk unfriend. Terserah mau dicap tega ala Rossa, sadis ala Afgan, atau shombong amattt ala Mandra karena telah memutuskan ukhuwah.

Well, just wondering.. Sejak kapan socmed jadi parameter eratnya ukhuwah?

Maka, damailah hidup saya sejak saat itu. Yang tadinya kadang masih suka kepo stalking ke TL-nya, kini say goodbye untuk selamanya. Saya juga nggak waswas bakal dikomen nggak enak tiap bikin status. Atau dikepoin tiap posting sesuatu. Pokoknya I feel freeee~~

“To find peace, you have to be willing to lose your connection with the people, places, and things that create all the noise in your life.” — Unknown

Sosmed menyediakan fitur unfriend, unfollow atau block bukan hanya untuk keperluan hiasan atau dekorasi semata. Melainkan untuk memberi kenyamanan bagi tiap penggunanya. Saya lebih suka menjaga kewarasan dan ketenangan dalam hidup, daripada mempertahankan sesuatu yang tidak worth it untuk dipertahankan…

Daripada saya memelihara sakit hati online terus menerus.

Daripada hubungan dengan orang tersebut semakin memburuk.

Daripada waktu saya disibukkan untuk mengurusi hal-hal yang negatif dan bukan merupakan prioritas.

Dan daripada-daripada lainnya.

So I guess, deleting some people from my online society or real life, is very very necessary… My socmed, my life, my home, my rules.

Bagi saya, kenyamanan dan kewarasan dalam berkawan atau bersosmed adalah hal yang tak bisa ditawar lagi. Saya butuh circle pertemanan yang bisa bikin hari-hari saya lebih bernuansa positif, daripada yang cuma bisa bikin runyam dan sakit kepala. Atau sakit hati online.

Dulu, saya masih nggak enak tiap mau remove beberapa orang yang menurut saya penting untuk diremove. Justru kalo nggak diremove saya khawatir terbawa pengaruh negatifnya.

Sekarang? Nggak ada lagi rasa nggak enak. Dulu siapa aja yang add friend langsung diapprove asal ada mutual friendnya.. Sekarang mau approve pun, mikir-mikir dulu. Kalo nggak kenal betul, lebih baik tidak.

Dulu juga saya masih suka baperan kalau di-unfriend. Sekarang, biasa aja tuh. Not a big deal. Masih banyak hal-hal penting dan lebih layak jadi prioritas daripada memikirkan why oh why atau terus meratapi nasib,

“Hey, kamuhh.. Kenapa sih akuhhh di-unfriend?”

“Salah apa ya saya sampai dia tegaaaaa unfollow saya… Huaaaaa…”

Tenang, tenang.. Dunia belum berakhir hanya karena seseorang unfollow kamu di sosmednya. Life goes on. Masih melek, kan? Masih bisa menghirup oksigen, kan? Nah, berarti hidup kamu belum berakhir.

Ketika di-unfriend atau di-unfollow, I just don’t take it personally. Meski yang unfriend dan saya, saling kenal di dunia nyata. Ya bagi saya udah sampai sini aja kami berjodoh di sosmed.

Toh di dunia nyata kami masih bisa say hi atau menjalin interaksi. Itupun kalau suasananya masih enak, kalau nggak, ya bye-bye-bye. Berteman di dunia nyata, nggak mesti berteman juga di dunia maya, kan? And vice versa.

Demikian halnya dengan keluarga, kerabat, atau mereka yang saya kenal di dunia nyata. Hanya yang saya kenal baik dan betul-betul buat saya nyaman aja yang saya add atau follow di sosmed. Nggak semua friend or follow request saya approve hanya karena memang kenal atau ada pertalian darah. Nope.

Kadang ribet juga soalnya, ada salah paham dikit di dunia nyata, tersinggung gegara hal sepele, jadi terbawa-bawa ke dunia maya. Begitu juga sebaliknya. Kadang kita nggak bisa memisahkan batas antara kedua dunia tsb. Jadi ya, better safe than sorry alias main aman aja. Heheu.

“You don’t ever have to feel guilty about removing toxic people from your life. It doesn’t matter whether someone is a relative, romantic interest, employer, childhood friend, or a new acquaintance — you don’t have to make room for people who cause you pain or make you feel small. It’s one thing if a person owns up to their behavior and makes an effort to change. But if a person disregards your feelings, ignores your boundaries, and continues to treat you in a harmful way, they need to go.” — Danielle Koepke, Internal Acceptance Movement

Pengalaman hidup mengajarkan saya untuk berhati-hati dalam bertindak, mengambil keputusan, membuka diri kepada orang yang tidak dikenal, memulai dan mempertahankan suatu hubungan, meletakkan loyalitas, sampai melabuhkan kepercayaan pada mereka yang tidak saya kenal secara dekat.

You are the designer of your future, the architect of your own destiny. Somesay, letting go is essential because it creates space for growth and renewal. And sometimes, holding on does more damage than letting go.

When you only allow the positive vibes to enter your life and block the negative ones, you know you’re on your way in setting goals and priorities. You know you’re not picky, just more selective.

Life has taught me that I don’t need a ton of friends in order to be happy, loved, and complete. I just need a few number of precious people whom I can be someone else when I’m with them. Someone more like myself ❤

~ Jakarta, rainy December 2018… she distanced herself, to save herself.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pixabay ]

12 thoughts on “Unfriend or Deactivate Your Profile?

  1. hehe
    kalo saya di fb mah udah banyak yang saya unfollow
    lha posting politik mulu
    mau diunfriend gak enak, temen kantor

  2. Kalau nge-unfollow akun orang disebut sadis, berarti saya sadis banget 😁 Saya seenteng itu nge-unfollow akun orang. Daripada negative thinking, berpikiran buruk, lebih baik saya unfollow dan mengurangi lintasan pikiran buruk saya pada orang lain.
    Mari selamatkan pikiran positif kita!

Leave a Reply to Nurruri Muthmainah Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.