Mesra di Dunia Maya, Mesra di Kehidupan Nyata?

“Hah, yang bener mereka pisah?? Bukannya di sosmed mesra abiss.. Ya ampun nggak nyangka bangett..”

“Si Fulanah bukannya baru nikah ya? Kok nggak pernah posting bareng sama suaminya, sih?”

“Dia masih sama istrinya yang itu kan? Kok sekarang nggak pernah lagi foto mesra berdua ya. Apa jangan-jangan…?”

Percakapan di atas rasanya sudah tak asing lagi, bahkan mungkin seringkali mampir di telinga kita. Betapa menariknya hidup kita di mata orang lain. Orang-orang yang sebetulnya tidak pernah mengenal kita dengan baik.

Namun, benarkah kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga seseorang dapat disimpulkan hanya dari feeds media sosialnya?

Kita seringkali dibuat kaget dengan berita pernikahan dan perpisahan yang tiba-tiba.

“Kapan deketnya ya? Nggak pernah posting gandengan baru, tau-tau udah nyebar undangan aja…”

“Di Instagram padahal romantis terus.. Ternyata yang so sweetnya kayak gitu bisa pisah juga..”

Well, itulah realita dunia maya. Namanya juga maya. Belum tentu nyata. Apa yang ditampilkan, belum tentu sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Ada yang asli, banyak yang fake. Heheu.

Somesay, mereka yang benar-benar bahagia, tak perlu sibuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka bahagia.

Mereka yang kisah percintaannya harmonis, tak perlu meyakinkan siapapun bahwa mereka bahagia, rukun, dan adem ayem hidup bersama pasangannya.

Mereka tidak butuh pengakuan atau pujian dari orang lain untuk menjalani dan menikmati apa yang mereka miliki dan rasakan saat ini.

Mereka tidak butuh label “life goals” atau “relationship goals” dari para netijen dan tetangga yang budiman. Mereka sibuk menikmati dan mensyukuri apa yang ada tanpa merasa perlu membuktikan apapun.

Mereka merasa enjoy hidup dalam kesunyian, jauh dari lampu sorot, komentar, dan keriuhan dunia maya. They realized that they don’t have to post it to prove it.

Tidak satu dua kali saya membuktikan sendiri, apa yang terpampang di dunia maya, tidaklah seperti apa yang sebetulnya terjadi di dunia nyata. Pencitraan, they said.

Tidak satu dua kali pula saya mengamati, sesuatu yang berlebihan and too good to be true, biasanya malah jauh dari kenyataan sebenarnya.

Potret suami yang penyayang, super care, romantis di dunia maya, ternyata aslinya jauh dari predikat pasangan impian seperti citra di atas. Mata hobi piknik sana-sini, nggak mikirin perasaan istri, boro-boro setia, hobinya flirting sama perempuan lain anytime anywhere.

Potret keluarga yang harmonis dan hangat, jauh dari masalah, aslinya saling abai, benci, dan berkhianat satu sama lain. Bonding dan kemesraan mereka hanya sebatas keperluan konten. Pengabdi konten, that’s what people say.

Therefore, don’t let those social media feeds fool you. Nggak semua yang kita lihat itu beneeer… We never really know what happened behind the curtains. So never quickly jump into conclusions.

Nggak posting bukan berarti nggak pernah ngalamin. Yang selalu posting kemesraan, belum tentu selalu live happily ever after, nggak pernah berantem. Begitu pula sebaliknya.

Habis nikah, feedsnya sepi-sepi aja. Nggak pernah posting foto atau ungkapan kebahagiaan. Apa mereka nggak bahagia? Belum tentu. Maybe they’re just too private about their personal life.

Yang kayak gini ada? Adaaaaa. Adik saya sendiri contohnya.

Habis nikah sosmednya sepi-sepi aja kayak kuburan. Menjelang nikah juga nggak ada satupun postingan yang mengisyaratkan ke arah sana. Makanya pas tau-tau bikin pengumuman nikah banyak yang kaget 😁

Tapi apa mereka nggak bahagia? Bahagia, alhamdulillah. Bahagia banget malah kalau saya lihat. Masya Allah, tabarakallah for you two. Tapi memang mereka berdua bukan tipe yang suka publikasi hal-hal yang sifatnya pribadi. Cukup mereka aja yang tahu, nobody needs to know.

Dari beberapa kasus yang saya amati, seringkali yang lebay overexposing biasanya yang justru love life-nya bermasalah. Mereka sengaja berbuat demikian untuk menutupi apa yang sebenarnya mereka rasakan. Meski kadang, terlalu nyata kadar halu dan nggak masuk akalnya.

Saya rasa, selain masalah privasi dan ketenangan, hal lain yang perlu dipertimbangkan ketika kita berlebihan mengekspos kehidupan pribadi adalah bahaya ‘ain dan kemungkinan timbulnya hasad di hati orang lain.

‘Ain itu ada dan nyata terjadi. Rasulullaah sendiri yang membenarkannya. Begitu juga dengan hasad. Accept the fact that, nggak semua orang berbahagia ketika kita berbahagia, dan berduka ketika kita berduka.

Oleh karena itulah saya membatasi diri untuk oversharing kehidupan pribadi. Even sometimes when I want to share, I don’t give too much away.

Sharing sesekali nggak masalah, asal jangan berlebihan, apa aja dishare, sampai aib dan hal-hal yang sifatnya rahasia pun ikut dishare.

“Jangan bikin orang lain jatuh cinta pada pasangan kita, karena mungkin tanpa sadar kita seringkali memuji dan menceritakan kelebihan pasangan di hadapan mereka…”

Jangan lupa bahaya orang ketiga selalu mengintai di mana-mana, jadi jangan pernah lengah. Jangan sengaja membuka pintu dan mempersilakan mereka masuk. Nggak diundang aja udah masuk dengan sukarela, apalagi diundang πŸ˜€

Merusak hubungan rumah tangga dan memisahkan suami dengan istrinya, adalah perbuatan keji yang diancam dosa atasnya. Namun jangan sampai kita sendiri yang menjadi penyebabnya.

Toh buat apa juga orang lain tahu semesra apa sih kita dan pasangan.. Buat apa semua orang tahu seberuntung apa kita punya pasangan seperti dia.. Kalaupun tahu, faedahnya apa?

There are certain things we should keep for ourselves only. Kehidupan percintaan yang bahagia, pasangan yang baik, setia, dan “partner goals” banget, adalah hal-hal yang lebih patut disyukuri daripada diposting di sosial media.

Kalaupun ingin sesekali posting, ya sewajarnya aja. Jangan berlebihan. Alih-alih bikin baper, malah mual. Dan, bukankah ada hati-hati di luar sana yang harus kita jaga?

Mereka yang masih sendiri setelah berkali-kali berikhtiar namun takdir Allah menentukan lain…

Mereka yang baru saja beralih status menjadi single fighter karena gagal dalam berumahtangga…

Mereka yang qadarullah dikaruniai pasangan yang justru menjadi ujian besar baginya…

Menyadari bahwa semua ini hanyalah titipan, dan tidak semua orang mendapatkan nikmat seperti yang kita rasakan, membuat kita lebih mampu untuk berempati terhadap sesama.

Jika Allah mau, Ia bisa mengambilnya kapan saja dari kita. Dengan cara yang tak pernah kita duga. Yang demikian sangatlah mudah bagiNya.

Live humbly and save your private life for you and few people who deserve it. Cukup kita dan orang-orang tertentu saja yang paham betul bagaimana kita menjalani hidup ini.

Hidup yang jujur dan apa adanya, tanpa filter dan polesan. Hidup yang tenang, jauh dari kepalsuan yang menipu. Hidup yang dirangkai bukan untuk membuat orang lain terkesan.

Your worth is not measured in likes, comments, or followers. Jangan jadikan jumlah like, pengikut, dan komentar sebagai standar kebahagiaan kita. Never give the remote control to others. They’ll drop it, they’ll drop it everytime.

True happiness is here, lies within ourselves. We don’t need any comments or compliments from others to stay relevant and feel blessed. We just need to focus on the things that really matter: our real life, and how to live it peacefully.

~ Jakarta, December 2018… the better you feel about yourself, the less you feel the need to show off.

Β© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

18 thoughts on “Mesra di Dunia Maya, Mesra di Kehidupan Nyata?

  1. “Di dunia maya apa yang ditampilkan, belum tentu sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Ada yang asli, banyak yang fake”. Setuju ini mbak πŸ˜€

  2. Deep banget.
    Selalu saja tulisan-tulisan di sini mengetuk kesadaran saya. Bahwa banyak hal memang tidak perlu kita bagikan ke publik.
    Thanks a lot ya mba! Sukaaaaaa β™₯

  3. Ω…Ψ§Ψ΄Ψ§Ψ‘Ψ§Ω„Ω„Ω‡
    So deep mba,,, saya selalu suka insight-insightnya mba Meutia semenjak saya baca konten yg mengambil dr blog mba dimajalah Nurul Hayat. Saya langsung searching blog mba.
    Saya melebur, dan menyatu bersama tulisan-tulisan mba..
    Merasa tertampar-tampar setiap baca tulisan mba..
    ‘Oh iyaa ya.. oh iya ya..’
    Semoga jadi ladang pahala ya mba..
    Terus menulis 😊
    Saya follow twitter dan Ig mba.. Supaya twitter dan ig saya bertebaran konten-konten baik dan jd reminder buat saya..
    tapi sampe sekrng belom di acc mba hihihi..

    • Maaf baru balas ya, Nana πŸ™

      Masya Allah.. Aamiin, semoga saya bisa mengamalkan apa-apa yang telah saya tulis.. Karena sebetulnya saya menulis untuk mengingatkan diri sendiri. Alhamdulillah jika ternyata membawa manfaat pula bagi orang lain 😊

      Mohon maaf, saya jarang cek follow request di IG dan Twitter. Boleh tahu nama akun IG dan Twitternya apa, Nana? Agar segera saya cek dan accept ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.