Cinta, Janji-janji Manis, dan Rasionalitas Sempurna

“Badan lemas, tenggorokan sakit, mata berkunang kunang. Kata dokter sih, keracunan janji manis.” – Meme

Jadi ceritanya sore ini saya ngobrol santai di status Facebook dengan beberapa orang teman. Entah gimana awal mulanya, yang tadinya bahas soal berita hoax kok malah belok jadi bahas janji-janji manis 😆

Namanya juga perempuan, pertamanya bahas apa, beloknya kemana, ujungnya malah nyasar jauh banget dari garis start. Hahahaha. Siapa yang suka begini juga?

Nah, gegara ngomongin janji manis, jadi teringat insiden bersejarah kurang lebih 10 tahun yang lalu..

Jadi waktu itu salah satu sohib saya sedang menjalani masa ta’aruf dengan seorang ikhwan. Nampaknya sih mereka berdua udah cocok. Nah, si ikhwan ini tiap ditanya kapan pastinya mau nikah, jawabannya ngeles mulu. Suruh nunggu ini lah, belum siap itu lah. Ada aja pokoknya alasannya…

Ceritanya sohib saya kzl nih. Kan berasa digantung gitu tanpa kejelasan. Akhirnya suatu hari berbincanglah kami lewat telepon..

  • Her : “Nah itu, aku mau sampe kapan disuruh nunggu coba? Udah berapa bulan gini-gini aja nggak ada kepastian..”
  • Me : “Ya kamu kenapa mau aja digantungin segitu lama. Kalo aku, udah tak tinggal dari dulu-dulu deh ikhwan tanpa kejelasan gitu.”
  • Her : “Habis gimana dong, aku udah sreg sama dia. Keluarganya juga udah kenalan kan sama keluargaku.”
  • Me : “Maksudnya, kamu udah cinta gitu sama dia? Udah dalem nih sumurnya?”
  • Her : “Hmmm.. Gimana ya.. Hufftt..”
  • Me : “Makanya, ta’aruf tuh nggak usah pake hati. Apalagi sampai maen perasaan, dalem lagi. Gimana dong kalo udah pake hati, trus ternyata dia bukan jodoh kita? Nyesek ora, son?”
  • Her : “Nah, itu emang salahku. Trus sekarang aku harus gimana dong? Ada masukan, saran, ide? Help me plisss…”
  • Me : “Hmmm, kalo aku yaa.. Bakal tak kasih ‘deadline’ : “Saya tunggu kepastian kapan kamu bakal khitbah saya dalam jangka waktu sekian hari/bulan. Kalau nggak ada kepastian, lebih baik proses kita akhiri sampai di sini demi menjaga hati dan menghindari fitnah.” Dah gitu aja. Liat reaksinya.”
  • Her : “Oke ntar aku coba deh. Trus kalo dia milih mundur, gimana?”
  • Me : “Ya artinya dia bukan jodoh kamu. Bukan yang terbaik buat kamu. Dan kamu berhak dapet yang jauh lebih baik dari dia. Time will tell.”
  • Her : “Oke deh, syukron ye cyintt..”
  • Me : “Iyee, gudlak ye.. Jangan lupa kabarin kalo ada progress..”
  • Her : “Siyappp..”

A month later….

Saya dapat kabar bahagia bahwa di bulan yang sama sohib saya itu melangsungkan proses khitbah dengan ikhwan pilihannya. Alhamdulillah. Semoga memang berjodoh dunia akhirat. Bahagia sampai jannah. Aamiin.

Yaaa, meski harus “digertak” dulu akhirnya si ikhwan berani melangkah juga. Bisa aja kan ikhwan ini memilih mundur, tapi dia memilih sebaliknya. Artinya dia niat serius menjalin rumah tangga, bukan cuma main-main.

Ada loh oknum ikhwan yang hobinya nazhor. Sampai dijuluki ‘Abu Nazhor’ saking seringnya nazhor akhwat. Siapa dia? Ada deeeeh. Banyak malah. Yang cuma tebar pesona demi modus ngedeketin (baca: ngelabain) akhwat-akhwat juga banyak.

Nah, untuk para jomblo di luar sana, terkhusus para ciwi-ciwi yang rentan dan sering termakan rayuan dan janji-janji manis laki-laki…

Jangan mauu dijanjiin macem-macem sama laki-laki. Jangan mau di-PHP-in dengan alasan-alasan yang sekilas masuk akal. Sekalipun ngakunya ikhwan ngaji. Be careful, ladies.

Laki-laki sejati itu nggak kebanyakan janji. Dateng, lihat, kepoin, cocok, langsung kasih bukti, bawa satu rombongan keluarga. Emang dikata mau nyaleg apa pake kebanyakan janji 😂

Remember ladies, kalau seseorang itu benar-benar sayang sama kita, dia nggak akan bikin kita tersiksa dengan penantian tanpa kejelasan. Dia nggak akan membiarkan kita terus terombang ambing dalam ketidakpastian.

Seperti katanya Bang Darwis Tere Liye: cinta itu soal harga diri, cinta itu rasionalitas sempurna. Jatuh cinta silakan, but don’t forget to take your brain with you. Jatuh cinta boleh, bodoh jangan.

Jika memang sekiranya hubungan ini nggak jelas, nggak punya masa depan, bahkan jika diteruskan malah tambah bikin dosa dan rasa tersiksa.. Just let it go. The high isn’t worth the pain.

Prinsip saya ketika lajang dulu, “Jangan berputus asa, masih banyak ikan di lautan”. Jadi kalau nemu satu dua ikhwan yang nyeleneh bin ajaib, ya tinggal say goodbye aja. Have some dignity.

Insya Allah masih banyak ikhwan baik, berakhlak, bertanggungjawab lagi menjaga dirinya dari fitnah.. Yang lebih layak dijadikan calon imam masa depan, sekaligus ayah dari anak-anak saya kelak.

Ya, bagi saya, cinta itu wajib pakai logika. Hal itu pula yang akan saya tanamkan pada anak-anak saya kelak, terutama anak-anak perempuan saya. Jadi anak gadis itu harus “mahal” dan punya harga diri.

Banyak kasus dimana salah satu pihak udah setiaa banget nunggu. Nunggu kelar skripsi, nunggu dapet kerja, nunggu hidup agak mapan, nunggu dapet restu orang tua buat melangkah ke pelaminan..

Eh di tengah jalan diputusin gitu aja. Ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya. Susahnya sama kita, senengnya sama orang lain. Nyeseque to the max 😦

Siapa yang bisa menjamin hati manusia nggak berubah? Hari gini cuma megang janji dan omongan orang? Bah… Di atas materai aja ada yang masih bisa mangkir, apalagi cuma modal omongan doang. Nggak ada bukti screenshoot, boro-boro saksi.

Ta’aruf vs. Pacaran

Let’s think about it for a while…

Ngakunya sih ta’aruf, tapi lamanya sampai berbulan-bulan tanpa kejelasan kapan nikah, komunikasi tanpa perantara, udah tukeran foto pula. Apa bedanya sama pacaran? Cuma nggak pegangan tangan atau jalan berduaan.

Tapi, apa kabar hati?

Hati mulai menikmati hal-hal yang tidak boleh dirasakan oleh mereka yang belum halal. Mereka yang tidak terikat dalam ikatan pernikahan.

Jiwa dirundung penyakit al-‘isyq alias mabuk asmara yang makin lama makin menyiksa, makin tak tertahankan. Bagai candu.

Hari-hari dipenuhi rasa rindu, rindu terhadap sesuatu yang terlarang. Mulai mengangankan dan membayangkan, seandainya saja……

That’s where the devil works. Jerat-jerat syaithan mulai bekerja. Menumpulkan logika, memangkas habis akal sehat. Tidur tak nyenyak, makan tak sedap, ibadah tak khusyuk, kewajiban dunia pun terbengkalai. Semua porak poranda karena datangnya si virus merah jambu.

Talbis iblis itu amat halus, kawan. Pacaran? Enggak kok. Tapi sering chat nggak penting, ketemuan dengan udzur ngasih sesuatu (yang juga nggak penting), sampai tak lagi risih ber-video call ketika tengah berjauhan.

Sungguh, penyakit al-‘isyq itu amatlah menyiksa. Ia tidak hanya membuat penderitanya kehilangan harapan hidup (tatkala cintanya tak berbalas), tapi juga membuat nalar manusia tak lagi berjalan sebagaimana mestinya.

That’s why banyak para penderita penyakit ini yang melakukan hal-hal aneh, ekstrim, di luar akal sehat dan kewarasan. Love is blind, they said. But to me, it’s not love. Love is too sacred for that. It’s just lust, or maybe, an obsession.

Allah menetapkan aturan ketat dalam interaksi antara ikhwan dan akhwat, semata-mata demi melindungi mereka dari fitnah. Sungguh fitnah syahwat itu amat besar bahayanya. Zina besar, selalu dimulai dengan terbukanya pintu-pintu zina kecil. Never underestimate them.

Meski kadang hawa nafsu kita sebagai manusia mengajak sebaliknya, kita harus punya nilai-nilai dan pegangan kuat agar tidak terhanyut dalam hubungan yang penuh dosa dan tanpa arah.

Kita harus punya iman sebagai benteng agar tidak mudah terjatuh dalam fitnah syahwat, yang seringkali mengatasnamakan cinta demi pembenaran atas kemaksiatan yang dilakukan.

Jadi, ketika kita dikaruniai perasaan cinta atau ketertarikan terhadap sesuatu atau seseorang, tapi belum diberi kesempatan untuk menghalalkan apa yang kita rasakan..

Bersabarlah, berdo’alah minta diberikan yang terbaik, lalu berpalinglah agar hati tak terjangkit penyakit ‘isyq berkepanjangan.

One thing for sure.. If he or she has destined for you, not a million years it’ll become somebody else’s. And vice versa. Apa yang ditakdirkan untuk kita, tak akan pernah luput dari kita. Begitu pula sebaliknya.

Waktu dulu berdo’a meminta jodoh, saya tidak pernah spesifik menyebutkan sang jodoh harus yang begini dan begitu. Minta yang tingginya sekian cm, hidung mancung ke dalam atau ke luar, kulit putih atau sawo matang, kerja serabutan atau di perusahaan ternama, harus dari suku tertentu, dan sebagainya.

Saya hanya minta yang terbaik menurut Allah saja. Karena yang terbaik menurut saya, belum tentu terbaik menurutNya. Namun yang terbaik versiNya, sudah pasti yang terbaik untuk saya.

I never lose that faith. And after sooo many years, I always know that Allah only gives the best. And yes, He had saved the best for last. Alhamdulillaah.

~ Jakarta, January 2018.. ‘coz everything worth having, is worth fighting for.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

8 thoughts on “Cinta, Janji-janji Manis, dan Rasionalitas Sempurna

  1. Assalamu’alaikum, mbak.. Kalau saya ingin bertanya soal2 begini bolehkah mbak? Tapi via email gitu, soalnya malu kalau disini langsung hehe.
    Saya mau tahu aja gimana pendapat mbak, karena MaasyaaAllah saya suka banget baca tulisan2 mbak dan Alhamdulillah, atas izin Allah, banyak yang jadi bahan pelajaran buat saya.
    Jazakillah khayr mbak 🙂

    • وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَـاتُهُ

      Alhamdulillah, senang rasanya jika tulisan-tulisan saya membawa manfaat.. Silakan mbak, bisa email saya di chynatic@gmail.com ya.

      Fa anti jazakillah khayr ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.