A Private Life, A Peaceful Life

Hello, everyone! How have you been? It’s been sooooo long since my last update in this blog. Over a month ago, I guess?

Awal tahun ini adalah satu di antara sekian banyak momen paling ditunggu oleh saya dan orang-orang terdekat. Setelah penantian selama 9 bulan, alhamdulillah Januari kemarin seorang anggota baru hadir dalam keluarga kami.

Yes, I gave birth to my fourth child, a cute little baby girl, masha Allah tabarakallaah. Praise to Allah only, who makes our days more complete with her presence in our life. Alhamdulillaah…

Setelah bayi kecil itu hadir.. Banyak hal yang berubah.. Banyak yang bertanya-tanya.. Banyak yang merasa surprised ketika saya mengumumkan berita bahagia tersebut di dunia nyata dan sosial media.

“Mbak, kapan hamilnyaaa? Kok tiba-tiba udah lahiran ajaaa…”

“Masya Allah.. Gak pernah update apa-apa, tau-tau udah punya baby aja. Mbaakkk jelaskan padakuuuh..”

Heheheheu πŸ˜‚

Kehamilan kali ini, saya memilih untuk lebih tenang dan menikmati moment by moment tanpa mengumumkan pada banyak orang. Hanya sedikit saja yang tahu, karena kali ini, saya ingin lebih private dan tertutup. Jauh dari perhatian orang.

Saya juga mewanti-wanti keluarga dan orang-orang terdekat agar tidak memberitahu orang lain bahwa saya tengah hamil. Kalau ditanya ya dijawab, tapi sengaja memberi tahu tanpa ditanya, rasanya nggak perlu deh.

Di kehamilan-kehamilan sebelumnya (the last one is about 5 yrs ago), saya pasti cerita-cerita dan bikin pengumuman di sosmed. Curhat ini itu. Bahkan sampai posting foto hasil USG segala di IG. Ahahaha.

Kali ini, saya ingin mencoba lebih tenang dan fokus menjalani kehamilan. Tanpa woro-woro dan update status ala-ala bumil. Yhaaa paling kadang suka curcol pengen ngemil ini dan itu, curcol timbangan nganan terus, without giving a single hint that I was pregnant.

“Gimana sih rasanya.. Merasa bahagia, tapi nggak ada yang tahu kecuali orang-orang terdekat aja?”

Setelah dijalani, wah ternyata lebih nyaman begini. Lebih fokus, lebih tenang, lebih damai, lebih nyaman aja rasanya. Toh saya juga bukan selebriti yang updatenya selalu dinantikan oleh para pemirsa dan netijen yang budiman πŸ˜„

Dulu sering banget posting foto si kecil yang baru lahir. Saking happynya, mungkin ya. Sekarang, sesekali aja cukup. Kalaupun posting, bagian wajah sengaja di-crop karena alasan privacy/keamanan dan untuk menghindari ‘ain.

I’ve discovered a certain joy of laying low and keeping my private matters to myself. In this world where almost everything is overexposed, there is something about being ‘under the radar’ that makes me realize: a private life, is indeed, a peaceful life.

Not everything you’re going through needs to be shared publicly. Sometimes, you should just keep it for yourself. Live in the moment. Keep it private, but not a secret.

Pun ketika saya mengumumkan berita bahagia itu, tujuannya tak lain agar teman-teman di sosial media yang sekaligus adalah customer setia saya paham, kenapa toko terpaksa tutup untuk sementara waktu. Daripada jawab satu-satu mending sekalian bikin pengumuman, yekan?

Kini saya paham betul ketika ada orang terkenal atau public figure yang mati-matian menyembunyikan kehidupan pribadinya dari mata publik. Bahkan sampai bentrok dengan paparazzi. Paparazzi ya, bukan mamarazzi. Apalagi paraji. Itu mah dukun beranak.

Salah satu tujuannya ya supaya bisa hidup tenang dan damai. Far away from spotlight. Apalagi yang memang aslinya introvert. Ah, saya yang ambivert aja enjoy banget tuh being private.. Gimana yang introvert, coba?

Dulu-dulu waktu baru melahirkan, pengen banget dikunjungin banyak orang. Semua orang yang saya kenal kalau bisa. Hahaha. Senang aja gitu ketemu banyak orang. Apalagi kalau bawa kado. #eh

Tapi sekarang, ah rasanya nggak perlu semua orang datang berkunjung. Cukup keluarga dan teman-teman dekat aja yang datang. Buat yang lain, mohon do’anya aja supaya saya dan si kecil sehat-sehat selalu. That will mean sooo much ❀

Kok jadi berubah? Apa karena saya semakin tu-wa yah? Lol. Mungkin juga. This reminds me of ones of my all-time favorite quotes: “You don’t need everyone to love you, just a few good people.”

Makin bertambah anak, makin bertambah rezeki (aamiin!), makin bertambah pula tanggungjawab. Saya yang tadinya bisa duduk santai menjahit atau nge-blog di saat senggang, kini jadi lebih sulit untuk melakukan semua itu sesuka hati.

Saat tengah menikmati waktu bersama si kecil, terkadang ide untuk nulis sesuatu itu datang. Qadarullah nggak bisa segera dituangkan saat itu juga karena kondisi nggak memungkinkan. Satu-satunya kesempatan ya pas si kecil tidur. Itu juga kalo mamaknya nggak ikutan tidur πŸ˜†

Seringkali draft atau tulisan mentah berakhir di notes smartphone. Mau ngelanjutin bingung dari mana.. Feelnya udah hilang entah kemana. Huhuhu.

Saya ini tipe yang kalau lagi pengen nulis nggak bisa disela soalnya. Kalau disela atau ditunda malah menguap kemana-mana idenya πŸ˜…

Makin bertambah usia, makin banyak kesibukan, makin berkurang pula jumlah teman. Kita (baca: saya) lebih selektif memilih untuk apa dan dengan siapa kita menghabiskan waktu. Quality over quantity.

Dua bulan terakhir ini, saya sengaja memilih untuk banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, dan diri sendiri. Update sosmed seperlunya aja, atau pas lagi mood. Apalagi nge-blog. Baru sore ini tiba-tiba pengen nulis (panjang) lagi.

Saya sengaja memilih ritme kerja yang santai dan sesuai dengan kesibukan baru saya: mengurus bayi. Nggak mau ngoyo kalau memang nggak sanggup. Semampunya saja.

Saya sadar, masih banyak waktu untuk meraih mimpi, melakukan hal ini dan itu, tapi waktu bersama keluarga tercinta (terlebih anak-anak) tak akan mungkin terulang kembali.

Just like a Polish proverb says,

“Dear working parents, you have a lifetime to work, but children are only young once.”

~ Jakarta, end of February 2019.. while sipping a cup of coffee in a peaceful afternoon..

Β© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

14 thoughts on “A Private Life, A Peaceful Life

  1. Barakallah Mba, semoga ibu dan si kecil sehat selalu, aamiin
    Salah ngga sih mba kalo kita memang ngga ingin share perihal yang pribadi? saya juga ngga terlalu suka dikunjungi banyak orang, langsung pusing hahah, tapi orang lain nganggepnya anti sosial, tapi saya emang capek banget kalo harus ketemu byk orang dalam waktu lama
    maap jadi curhat mba, hihihi
    Semoga dimudahkan segala urusannya Mba <3<3

    • Maafkan baru terbalas, ya Bella 😁

      Wa fiik barakallah, aamiin ya Rabbal Alamiin..

      Nggak salah dong, kan itu hak kita. Apalagi kalau kita memang orangnya nggak suka keramaian alias introvert. Terlalu lama berada di antara orang2 bisa capek hati. Pengen menyendiri πŸ˜‚

      Apalagi kalau kita baru aja melahirkan. Masih capek, pengen istirahat, pengen menikmati waktu bersama si bayi. Kalau mau berkunjung nanti aja pas ibunya udah cukup istirahatnya, atau bikin janji dulu πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.