Nostalgic

Malam ini selepas menidurkan anak-anak, gegara browsing tentang sese-thread di Google, saya iseng install Twitter (lagi). Untuk yang kesekian kali. Apa kabar, Twitterland? Long time no see..

Iya, udah lama nggak ngetwit, jadi uninstall aja lah aplikasinya. Daripada ngeberatin hape, kan. Serupa kenangan dan luka lama yang membuat langkah ke depan terasa berat. Eaaaa.

And so it was. Scroll-scroll timeline, edit PP dan header, nyapuin feeds yang udah banyak sarang laba-labanya. Ketika buka tab mention, nemu satu mention dari seseorang yang share postingan lawas dari blog ini. Membaca judul postingannya, langsung mikir,

“Lah kapan ya pernah nulis ini? Tentang apaan nih?”

Penasaran, saya buka lah itu link. Eh iya, ternyata tulisan saya. Wkwkwk. Yaiyalah masa tulisan tetangga? Tapi, kapan ya nulisnya? Pas baca sampai selesai baru ngeh, alasan kenapa saya sampai nulis sepanjang dan se-personal ini. Heheu.

Seringkali saya menulis hal-hal yang menurut saya deep dan personal di blog ini. Nggak perlu yang detail dan gamblang banget, cukup untuk melepaskan beban emosional (baca: uneg-uneg) yang mengganjal jika tidak dituangkan.

Nulis itu suatu kebutuhan mendasar bagi saya. Sama halnya ketika saya butuh membaca buku, menjahit, memotret, memasak makanan kesukaan, dsb. Sebelum nulis dada ini terasa sesak, setelah terlepaskan, alhamdulilah lega luar biasa. Plong.

Seringkali saya blogwalking di blog sendiri, menyusuri timeline dari tahun ke tahun, dan kadang sering amazed sendiri, “Weleh, kok bisa dulu aku nulis kayak gini?”.

Sambil terus mencoba mengingat triggernya, the reason why I wrote them all.

Just like this blog’s tagline: I write to remind myself. To remind me of who I was, who I am, and who I will become. Kadang, tulisan sendiri sangat membantu saya untuk berkaca sejenak, bermuhasabah, dan melihat jauh ke dalam diri ini.

Everybody’s changing, and sometimes I wonder if I feel the same.

Tulisan dan kata-kata yang kita goreskan, adalah refleksi diri. Seperti kata pepatah, teko hanya mengeluarkan isi teko. Jadi apa yang kita tulis sangat mencerminkan isi dari hati dan kepala kita sendiri.

Apalagi di era sosial media seperti sekarang ini, jejak digital berupa cuitan atau story dapat dengan mudahnya berpindah tangan dalam hitungan detik. Apa aja bisa discreenshoot (SS). Resep masakan aja di-SS. Walau entah prakteknya kapan. Lol.

Mungkin kita lupa pernah nulis sesuatu, but internet never forgets. Rekam jejak kita zaman masih suka nyetatus dan komen alay juga masih bisa disearch sampai sekarang. Kecuali udah deactive akun, ya. Itu juga kayaknya masih bisa deh dilacak.

Siapa di sini yang nggak pernah ngalamin masa-masa norak dan alay baru punya sosmed? Yang segala hal diposting, tiap menclok di suatu tempat auto-check in, sampai tiap makan (menu yang agak keren) harus banget difoto? Wah, jangan-jangan cuma saya nih šŸ˜›

Oleh karena rekam jejak digital itu kejam (apalagi rekam jejak kita yang ditulis malaikat, huhu), maka tulislah yang baik-baik saja. Jangan bikin thread yang memancing war atau pertikaian antar netijen. Padahal nggak mancing keributan aja udah sering dipancing (dan terpancing), kok. Huahaha.

Back to old blog posts of mine, bulan depan, tepatnya tanggal 1 Mei, tepat delapan tahun saya mulai menulis di blog ini. Banyak sudah tulisan yang terbit, baik murni tulisan sendiri maupun repost tulisan orang lain yang saya anggap oke punya dan inspiratif.

Kadang, saya suka aja baca tulisan-tulisan lama di blog ini dan Tumblr hanya untuk sekadar bernostalgia. Ketika saya membuka postingan itu satu persatu, rasanya seperti kembali ke masa lalu.

Dan ajaibnya, saya hampir selalu ingat the story behind each of them. Nulis ini, terinspirasi dari kejadian ini. Nulis itu, terinspirasi dari si itu. Every little details of it. Masya Allah, it’s like all coming back to me in a second.

Sama halnya seperti kita melihat album foto-foto lama. Jadi flashback sejenak. Kadang sambil senyum-senyum sendiri, terharu, terkikik geli, bahkan tanpa sadar air mata sudah menganak sungai tanpa bisa dibendung.

Sesekali, kita butuh untuk berhenti dan menengok ke belakang, memandang kembali sosok kita yang dulu. Hari-hari yang kita jalani, kesulitan-kesulitan yang telah berhasil kita lewati, tawa dan air mata yang membuat hidup ini jadi lebih berarti.

Sebentar saja, terlepas dari kehidupan nyata, untuk singgah sejenak ke masa lampau. Bukan untuk hidup di bawah bayang-bayangnya, tapi untuk mengambil ibroh dan hikmah dari apa yang pernah kita alami.

Been there, done that. Alhamdulillaah šŸ™‚

~ Jakarta, April 2019.. while sipping a cup of chocolate in a beautiful solitude.

Ā© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.