A Treasure Named Solitude

“She was so much better at being alone; being alone came more naturally to her. She led a life of deliberate solitude, and if occasional loneliness crept in, she knew how to work her way out of that particular divot. Or even better, how to sink in and absorb its particular comforts.”

― Cynthia D’Aprix Sweeney

A long long time ago, saya pernah sekilas mendengar curhatan seseorang pada temannya. Yang intinya, ia nggak suka banget harus melakukan sesuatu sendirian. Atau bersendirian dalam waktu yang lama.

“Kalau bisa rame-rame (ditemani) kenapa harus sendirian? Bingung juga kan kalau sendirian mau ngapain.. Iseng, tau.”

Dalam hati.. Hmmm, emang iya ya? Apa kesunyian dan kesendirian semembosankan itu? Jadi mati gaya gitu kalau sendirian?

As a both extrovert and introvert person, I agree on some points, but disagree on another. Ada kalanya bersama-sama itu menyenangkan, namun ada masanya pula kesendirian jauh lebih menenangkan dan mendamaikan.

Ada saatnya saya meluangkan waktu untuk bersosialisasi dan kumpul bareng teman, berkenalan dengan orang-orang baru, jalan-jalan bersama keluarga. Namun ada saatnya saya ingin ditinggalkan sendirian, sebentar saja, alone with my thoughts.

Sejak beranjak remaja, saya sering menghabiskan waktu sendirian. Berangkat sekolah, harus jalan kaki dulu ke jalan besar untuk naik angkot. Biasanya yang menemani saat itu hanya buku dan walkman (( ketauan dongss angkatan berapa 🤭 )).

Di angkot, meski ada banyak orang, saya sangat suka menyendiri di bangku paling pojok, menikmati pemandangan dari balik kaca jendela. Terkadang sambil membaca buku. Seringnya sih ngelamun.

Masya Allah, surga dunia banget lah rasanya. Sederhana, tapi nikmatnya nggak bisa dijelasin oleh kata-kata. Pokoknya itu angkot berasa milik sendiri, lainnya nyewa. Hyahaha.

Meski begitu, saya juga suka sesekali hang out bareng teman, ngobrol dan curhat sama adik, atau bertukar kabar via surat dan berkorespondensi dengan sahabat pena. Jadi sepertinya sih bukan ansos, ya.

Waktu sekolah, sangat jarang saya izin ke kamar kecil dengan ditemani teman. Though most girls do that kind of stuff, but I prefer to do it alone. Ngapain juga ke kamar kecil aja mesti rame-rame? Mau arisan? 😄

Ada masanya saya ke kantin atau ke ruang guru ingin ditemani teman, tapi nggak selalu juga. Kadang-kadang aja. Kalau lagi ingin sendiri, ya sendiri aja. Supaya nggak merepotkan juga.

“Masa apa-apa harus tergantung orang lain?”

Ini yang menurut saya penting. Jangan sampai tergantung sama orang. Iya kalau teman atau pasangan kita selalu available buat kita anytime anywhere. Kalau nggak, repot dong.

Jujur saja, kadang bersendirian menikmati kesunyian dengan melakukan apa yang kita (baca: saya) sukai adalah terapi jiwa yang amat ampuh untuk menjernihkan pikiran. Sejenak refleksi diri, bermuhasabah, merenungi langkah yang telah dan akan diambil..

Sungguh saat itu yang terasa hanya satu : kedamaian.

I find the pleasure in contemplation and solitude. Silence always calms my soul. Alone, in my own space, I feel so free.

Sebagai ibu rumah tangga yang disibukkan oleh berbagai urusan, saya sering mengatur jadwal “escape” di tengah rutinitas keseharian yang sangat padat.

Pagi selepas Subuh, siang hari saat anak tidur, sore hari saat rumah sepi karena mereka diajak jalan-jalan oleh Abinya, atau malam hari saat seisi rumah sudah terlelap.

Apapun aktivitasnya, yang penting judulnya sendirian. Mau masak di dapur, baca santai sambil ngeteh, atau duduk manis di depan mesin jahit. Bahkan mandi sendirian dengan tenang aja bagi saya sudah cukup untuk me-recharge baterai yang mulai nge-drop.

Bete? Bosan? Kesepian? Mati gaya? Alhamdulillaah nggak pernah. Justru setelah menikmati “alone time” saya merasa lebih bersemangat menjalani aktivitas selanjutnya.

Begitu juga dengan kehidupan pernikahan. Nggak melulu harus nempel kemanapun pasangan pergi. Nggak selalu harus “di mana ada dia, di situ ada aku”. Do your own thing, enjoy your own company.

Sometimes we need some space to move and more air to breathe. To be on our own in order to feel whole again. To be someone new, someone more like ourselves.

Just like some words that used to resonate in my mind a very looong time ago,

“Everybody needs a little time away, I heard her say.
From each other.
Even lovers need a holiday, far away…
From each other.
And after all that’s been said and done
You’re just the part of me I can’t let go…”

~ Jakarta, on the first week of Ramadhan 1440 H.. because my alone time is for everyone’s safety 😛 

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

2 thoughts on “A Treasure Named Solitude

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.