Speak Good or Remain Silent

“Lidah seseorang dapat menggambarkan bagaimanakah hatinya.” ā€” Ibn Qayyim al Jawziyyah

Ketika tengah membuka sosial media atau portal berita di internet lalu menelusuri kolom komentar, seringkali saya menemukan kalimat-kalimat seperti ini..

“Ya ampuun, dia kok habis melahirkan badannya jadi lebaran yaa.. Aku dulu 2 bulan setelah melahirkan udah kembali ke BB normal lhoo..”

“Kok anaknya (maaf) hidungnya gak mancung ya? Padahal ibu bapaknya mancung banget kan. Nurun dari siapa ya?”

“Dek, kok bayinya kurus banget sih? Kalo ASI-nya seret mbok ya ditambah sufor. Kasian itu kurang gizinya.”

Tidak hanya di dunia maya, di dunia nyata ucapan senada seringkali saya temukan. Bahkan saya sendiri pernah mengalami berada di posisi yang dikomentari.

“Eh, lama gak ketemu. Tambah gemuk aja ya kamu. Padahal dulu kutilang kan yaa.. Ayo diet dong biar bisa langsing kayak dulu…”

“Kamu kapan nikahnya, nduk? Wes tho ojok kakehan milih, nanti malah seret lho jodohmu..”

“Kayaknya baju yang kamu pakai ini nggak pantes deh sama bentuk tubuh kamu. Kamu kan pendek ya, jadi jangan pakai baju yang bikin kamu agak tenggelam kayak gini. Jadinya kan kayak mbok-mbok.”

“Umm, itu anaknya udah SD? Kok badannya kecil ya? Susah makan apa gimana, umm?”

Ingin rasanya ku berkata kasar menjawab,

“Siapa ya?

Siapa yang nanya?”

Hahahahahaha.

Tapi masih ditahan, masih bisa senyum, sambil nyeletuk kata-kata yang nggak bisa dia lupakan seumur hidupnya. Huehehe sami mawon dong šŸ˜‚

Nggak di dunia maya atau dunia nyata, kadang saya suka heri alias heran sendiri sama orang yang lisannya guampang banget ngomentarin penampilan orang lain, tanpa diminta atau ditanya.

Tanpa ditanya ya, catet. Ditanya pun kalau bisa kita jawab dengan jawaban yang minim bikin yang denger sakit hati. Apalagi ini nggak ada yang nanya alias s-o-t-o-y.

Kenal deket juga enggak, pernah safar atau nginep bareng juga enggak, bahkan pernah ketemu aja juga enggak lho. Tapi dari caranya berkomentar seolah-olah mereka ini kenal kita luar dalam, depan belakang, atas bawah.

Lucunya, kadang yang suka begini ini justru baperan kalau kalimatnya dibalikin ke mereka..

“Wah, sekarang kamu gendutan ya. Liat aja tuh bempernya makin maju..”

“Ah, tenang aja tetep lebih gendutan Mbak, kok. Mbak tuh gendutnya seng ada lawan deh pokoknya, juwaraaa..”

((( brb manyun, pundung, mlipir, trus kalau ketemu di jalan nggak pernah nyapa lagi šŸ˜† )))

Lho, kalau lisannya suka asal njeplak jangan marah dong kalo dijeplakin balik. Ojok tersinggung, mbakyuu.. Kalau kamu sakit hati dengan ucapan orang lain, bayangkan apa mereka tidak sakit hati dengan ucapanmu?

Kalau kita suka ngomentarin fisik orang, ya jangan gampang ngambek kalau fisik kita dikomentarin balik..

Kalau kita hobi menghina orang, jangan marah kalau balik dihina orang lain..

Kalau kita suka kepo dan serba ingin tahu tentang hidup orang lain, jangan lebay kalo suatu saat kehidupan pribadi kita dikorek-korek dan dikepoin…

Sebelum melontarkan suatu ucapan, coba ditelaah dulu, kira-kira kalau ucapan ini dibalikin ke saya, saya sakit hati nggak ya?

Ia yang kamu komentari anaknya kurus itu, bisa jadi sudah berusaha mati-matian supaya BB anaknya naik, tapi qadarullah tak kunjung naik karena si anak mengidap penyakit yang menyulitkan beratnya untuk naik.

Ia yang kamu ejek “lebaran” setelah melahirkan itu bisa jadi tengah berjuang melawan baby blues dan depresi pasca melahirkan, ditambah suami yang tidak pengertian dan banyak menuntut, plus kurangnya dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Ia yang bajunya kamu komentari tidak pantas itu, bisa jadi hanya memiliki baju yang itu-itu saja karena memang tidak ada dana lebih untuk membeli baju baru.

Ia yang kamu komentari belum juga menikah bahkan dengan kejamnya kamu tuduh banyak pilah pilih itu, bisa jadi telah mengarungi perjalanan panjang dalam menemukan jodohnya. Bukan karena ia yang menolak, tapi justru ia yang seringkali ditolak.

So, be sure to taste your words before you spit them out. You don’t even know them, stop acting like you know them personally. Even if you do, you don’t have the rights to say those things to them.

“I’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel..”

ā€” Maya Angelou

Mungkin kita lupa pernah berucap begini dan begitu pada seseorang, tapi boleh jadi mereka tidak pernah lupa kata-kata yang kita lontarkan. Kata-kata itu terus membekas dan sulit untuk hilang meski sudah bertahun-tahun lamanya.

Dengan entengnya kita berucap sesuatu, tanpa mau tahu apa efek yang ditimbulkan dari ucapan kita tersebut. Kalau dikomplain, jawabannya gini,

“Halah gitu aja baper. Gak asik, lo!”

Oooo.. Jadi sejak ada kata “baper”, orang jadi bebas menghina, membully, berkomentar seenak hati dan melakukan kekerasan psikis yang akibatnya bisa menimbulkan depresi berkepanjangan, gitu?

Apalagi yang hobi komen dan bully fisik. Bahasa kekiniannya: body shaming.

Menghina fisik orang itu nggak bangetlah menurut saya. Fisik adalah ciptaan Allah yang tidak bisa diubah. Sedang attitude, kecerdasan dan manner adalah hal lain yang bisa diubah. Asal manusianya mau mengubahnya.

Suka heran sama orang yang dikit-dikit bully fisik, dikit-dikit mencela dan menghina. Mencela fisik sama saja mencela Allah, loh.

Nah, kalau situ ngerasa udah super, perfect, flawless sampai ngerasa berhak menghina fisik orang lain…

I dare you, coba deh bikin yang semisalnya, nggak usah yang lebih baik atau versi sempurnanya, deh. Minimal sama persis seperti yang dihina.

Bisa? šŸ™‚

Kita nggak harus ngasih ini itu buat bikin orang lain bahagia, cukup dengan nggak bikin mereka sedih dan terluka aja dengan sikap dan perkataan kita.

Kalaupun kita merasa ada sesuatu di diri orang lain, dan hati tergelitik untuk berkomentar, coba timbang dulu manfaat dan mudharatnya sebelum melontarkan suatu kalimat yang mungkin akan kita sesali setelahnya.

Speak the good, or remain silent. Kalau nggak bisa berkata baik ya sudah diam saja lebih selamat. Kalaupun mau melontarkan kritik, lihat sikon, dengan adab yang baik, dan syukur-syukur sepaket sama solusinya.

Jangan cuma hobi ngritik, segala apa aja dikomentari negatif, tapi nggak pernah ngasih solusi. Dan kalau udah ada perbaikan setelah dikritik, yang ada malah sunyi senyap alias diem-diem bae. Ini baru namanya “haters”.

“There will be constructive critics, and then there will be haters..”

Jadi inget satu meme super kocak yang bikin saya ngakak so hard sampai susah mingkem pas bacanya,

“Ga usah keseringan nanya kapan saya nikah. Nanti kalo saya beneran nikah, kayak situ yang bakal ngamplop banyak aja.”

Huahahahahahaha.

~ Jakarta, May 2019.. a deep reminder for myself.

Ā© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisements

2 thoughts on “Speak Good or Remain Silent

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.