Does Marital Rape Really Exist?

Marital rape?

Masa sih ada? Masa sih udah nikah masih disebut perkosaan juga? Kan udah halal? Kan udah sah secara negara dan agama?

Here, here, let me tell you…

Saya punya seorang teman. Dia pernah menuangkan isi hati dan permasalahan rumah tangganya kepada saya, demi mencari solusi. Jadi bukan cuma curhat buat bahan rumpian atau ghibah online aja yak.

Teman saya ini bercerita perihal penyimpangan seks yang dialami suaminya. Tidak perlu saya rinci di sini secara eksplisit karena selain sangat vulgar dan menjijikkan, saya juga malu harus menceritakannya.

Tiap kali berhubungan, ia dipaksa untuk memenuhi fantasi sang suami yang sangat tidak wajar. Meski sambil berurai air mata dan memohon-mohon supaya disudahi, suaminya cuek saja. Tak peduli istrinya tersiksa atau tidak. Yang penting ia menikmati.

Satu hal yang membuat teman saya makin merasa terhina, sang suami dengan sadar merekam semua proses pemaksaan itu dengan kamera. Ia merasa diperlakukan sebagai properti, harus patuh memenuhi instruksi, seperti bintang film porno.

Untuk apa direkam? Untuk diputar ulang dan ditonton kembali. Ia merasa puas hanya dengan melihat adegan tersebut, berkali-kali. Tanpa merasa bersalah. Maybe that’s his fetish.

Definisi rape atau perkosaan:

perkosa, memerkosa/per·ko·sa, me·mer·ko·sa/ v 1 menundukkan dengan kekerasan; memaksa dengan kekerasan; menggagahi; merogol: ~ negeri orang; laki-laki bejat itu telah ~ gadis di bawah umur; 2 melanggar (menyerang dan sebagainya) dengan kekerasan: tindakan itu dianggapnya ~ hukum yang berlaku; negara itu dicap sebagai negara yang ~ hak asasi manusia;

pemerkosa /pe·mer·ko·sa/ n orang yang memerkosa;

pemerkosaan/pe·mer·ko·sa·an/ n 1 proses, perbuatan, cara memerkosa; 2 ki pelanggaran dengan kekerasan

*Sumber: KBBI Online

See? Marital rape does exist. Domestic violence does exist. It’s real. It’s a fact. Just because you didn’t experience it (yet), doesn’t mean that it’s not happened.

Yang bilang dalam pernikahan nggak mungkin ada perkosaan, dalam hal ini seks dengan kekerasan atau pemaksaan..

Duh, mainnya kurang jauh. Kurang banyak baca, plus kurang berempati terhadap istri yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.

For me, sex should be a mutual consent between two lovers, in a good and halal way of course. Kalaupun salah satu sedang ‘not in the mood’ karena suatu alasan yang masuk akal dan bisa diterima oleh syari’at, komunikasikan dengan pasangan.

Dan pasangan yang sayang dengan pasangannya, insya Allah tidak akan memaksa dan bermudah-mudahan mengancam dengan dalil, karena ia paham kondisi pasangannya. Ia akan rela mengalah dan berkorban demi pasangannya.

Bukankah menikah salah satunya adalah tentang seni berkorban? Tapi jangan sampai juga jadi korban perasaan yak. Apalagi jadi bucin yang diapain aja mau, meski harga diri dan kehormatannya terinjak-injak.

Pasangan yang baik, tidak akan sanggup melihat belahan jiwanya menderita. Ia tidak akan tega memaksa dan mengancam. Apalagi jika memang penyebab penundaan—saya lebih suka istilah penundaan ketimbang penolakan—tersebut sangat beralasan.

Istri sedang sakit atau sedang haid..

Istri baru saja melahirkan dan mengalami trauma robekan jalan lahir..

Istri sedang lelah karena seharian mengurus anak dan rumah..

Suami sedang lelah karena seharian bekerja berat…

Suami menderita penyakit yang mengahalanginya menunaikan kewajibannya sebagai suami..

Atau kondisi dan tempat yang tidak memungkinkan…

Dan lain sebagainya.

Adapun alasan-alasan lain yang sengaja dibuat-buat untuk melalaikan kewajiban pada pasangan, yang tidak masuk akal apalagi sesuai syari’at, bukanlah perbuatan yang dibenarkan. Dan jelas itu berdosa.

Sedihnya, seringkali kita mendengar komentar nyinyir soal marital rape ini dari lingkungan sekitar, dan lebih mirisnya lagi, komentar-komentar
tersebut keluar dari lisan sesama perempuan. Bahkan dijadikan bahan candaan dan olok-olokan.

“Masa iya sama suami sendiri diperkosa? Aneh.. Udah halal kan, salahnya di mana?”

“Kalau udah nikah ya istri udah jadi milik suami, kok namanya diperkosa sih? Wong sama-sama menikmati..”

Bentar, bentar.. Kalau sama-sama menikmati namanya bukan diperkosa atuh, Jubaedahhh…

Forced consent is not consent, even in marriage. Pasangan adalah partner hidup yang layak untuk dihargai, bukan properti yang bebas diperlakukan sesuka hati. A loving spouse would never force him/herself against his/her partner wish.

Sesuatu yang terjadi atas dasar pemaksaan kehendak salah satu pihak, tanpa persetujuan pihak lainnya, itu namanya kekerasan. Meski dalam lingkup rumah tangga.

Kalau karena sudah menikah lalu apa-apa aja jadi boleh.. Nanti suami sendiri, istri sendiri, anak sendiri, boleh dan halal gitu dizhalimi? Nggak kena pasal pidana? Nggak kena sanksi syari’at? Hadeuuuhh…

“Ya kalau pasangannya sakit dan kasar gitu kan gampang tinggal cerai aja. Susah amat!”

Aduh, mbakyuuu.. Yang namanya abusive relationship itu rumit. Tidak mudah bagi korbannya untuk mengumpulkan keberanian untuk keluar dari hubungan tersebut.

Rata-rata mereka merasa tak berharga, inferior dan rendah diri karena terlalu lama berada di dalam hubungan yang tidak sehat tersebut.

Saya kenal beberapa perempuan yang mengalami abusive relationship dan domestic violence, paham benar bagaimana mereka hidup dalam tekanan, ketakutan, dan serba ketidakpastian.

Ingin keluar, banyak sekali pertimbangan. Masalah anak, masalah nafkah, belum lagi jika ternyata pasangannya mengancam ini dan itu. Bahkan ada yang sampai mengancam keselamatan jiwanya dan anak-anak.

Ada tipe-tipe perempuan yang meski tersakiti, mereka tidak tega untuk mengakhiri. Entah karena rasa sayang, atau rasa kasihan tiap kali pasangannya berjanji untuk berubah, namun tak pernah benar-benar berubah.

Perempuan tipe pengalah, yang kalau sudah mencintai, ia menambatkan rasa itu dalam sekali.

Yang kalau suaminya sudah mengiba, langsung luluh tak berdaya.

Yang ketika disakiti, justru bertanya pada diri sendiri, “Apakah diriku yang bersalah?”

Kita yang berada di luar, yang tak pernah mengalami apa yang mereka alami, memang lebih mudah menghakimi ketimbang berempati

Sebagai pendengar, saya hanya bisa menguatkan mereka dengan kata-kata, mendo’akan agar mereka diberi keberanian dan kemudahan untuk keluar dari toxic relationship tersebut.

Setidaknya, jika memang kita belum bisa banyak membantu, tahanlah lisan kita dari kata-kata yang melemahkan semangat mereka untuk bertahan, agar tetap tegar menjalani hidup dalam ujian.

Kita tidak berada di posisi mereka, tidak pernah tahu rasanya tersakiti oleh orang yang sangat kita cintai. Ingin bicara, mengadu, melapor, alih-alih dilindungi, justru malah disalahkan. That’s the reality of this society. Sad, but true.

Teruntuk kamu, kamu, dan kamu yang saat ini tengah bimbang menentukan arah, ingatlah bahwa kamu berhak untuk bahagia. Anak-anakmu, berhak untuk bahagia.

Jika ia benar-benar mencintaimu, ia tidak akan sanggup untuk menyakiti hatimu. Bahkan melihatmu menangis saja ia tidak akan kuat. Jadi jika kekasihmu lebih sering membuatmu menangis daripada tertawa, you know it’s a sign of unhealthy relationship.

Sedahsyat apapun ujian yang saat ini kalian hadapi, tetaplah tegar, tetaplah kuat. Dust yourself off, speak your mind up, give your future a chance to start over and begin again.

Cause love shouldn’t hurt. If it’s keep destroying you, physically and mentally, no matter how much it used to be that beautiful.. Then it is not love, dear…

~ Jakarta, end of September, 2019.. “Trauma doesn’t make you damaged goods, there’s no such thing. You are a person, not a commodity.”

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

4 thoughts on “Does Marital Rape Really Exist?

  1. MaasyaaAllah, makasih Mbak, (seriusan) saya baru tahu kalau marital rape does exist. Dari dulu saya mikir, darimana segi (maaf) pemerkosaannya kalau sudah menikah? Mungkin karena saya belum menjalani pernikahan dan belum pernah mendengar cerita seperti yang dialami teman Mbak pada postingan ini. Jadi pengetahuan baru buat saya ini 😀

    • Sama-sama 🙂

      Sekilas memang tampaknya nggak masuk akal, ya. Tapi setelah menikah, dan seringkali menemukan kenyataan bahwa nggak semua manusia itu normal dan lurus, jadi lebih bisa memahami adanya kasus-kasus seperti ini.

      Semoga kita semua dijauhkan dari pasangan yang buruk akhlaknya ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.