The Power of Brand

“Products are made in a factory but brands are created in the mind” — Walter Landor

So here it is, THE POWER OF BRAND.

Di sebuah seminar yang membahas tentang bagaimana membangun sebuah brand, saya benar-benar dibuat tercenung oleh kata-kata itu. Bagaimana sebuah brand begitu powerfulnya, sampai konsumen tak perlu ragu untuk terus membeli produknya.

Brand yang powerful, bukan brand yang bisa diterima oleh semua kalangan. Brand yang powerful justru yang segmented. Makin segmented, biasanya makin loyal konsumennya. Makin nggak mau berpaling ke merk lain.

Maka ketika brand kamu dicap “mahal” oleh sebagian orang, jangan berkecil hati dulu. Trust me, mereka bukan target marketmu. Keep doing your thing, keep giving your best. Asal jangan sampai overpriced dan tetap aware terhadap situasi pasar dan kompetitor.

Jangan pula karena ingin dilirik pembeli, kita jadi keseringan promosi dengan mengadakan sale atau giveaway. Nanti orang akan mengingat toko atau brand kita hanya karena harga miringnya, atau karena sering bagi-bagi hadiahnya.

Bukan karena loyalitas terhadap brand, terlanjur nyaman belanja di toko kita, atau trust terhadap kualitas produk yang kita jual. Lama-lama kita sendiri yang rugi.

Nggak mau kan toko kita jadi terkesan “murahan” karena cap “murah” yang kita branding sendiri?

To be honest, tiap customer pasti ingin harga murah. Ngaku aja, kita juga begitu khaaan? 😜

Di sini tantangannya, bisa nggak kita bikin pembeli puas dengan apa yang kita jual, tanpa harus banting-bantingan harga. Dari sisi brand, kualitas produk, maupun service yang excellent. Kita kasih mereka “sesuatu” yang bikin mereka akan balik lagi tanpa berpikir dua kali.

For example, misalkan kita bergerak di bidang kuliner (bakery) atau fashion (hijab). Ketika customer kita butuh sesuatu, misalkan butuh hijab atau roti, mereka langsung teringat akan produk kita, bukan yang lain.

Mereka rela sabar dan antri untuk PO atau mengeluarkan ongkir yang tidak sedikit hanya untuk membeli produk kita. Tipe konsumen setia, yang nggak mudah tergoda iming-iming toko sebelah.

Saya pernah excited and nyesek at the same time waktu tahu ada customer nun jauh di Papua sana, rela bayar ongkir di atas 100 ribu hanya untuk order produk yang saya jual. Beliau yang bayar, saya yang nyesek 😁

“Harga murah nggak jamin orang mau beli. Yang pertama kita harus pede dulu dengan produk kita, bahwa ini ‘pantas’ untuk dibayar sekian dan sekian.”

Satu hal lagi, murah belum tentu laku. Ada segmen market yang justru menyangsikan kualitas barang ketika menemukan produk dengan harga yang terlampau murah.

“Kok murah banget, bagus nggak nih?”

Segmen market seperti ini, biasanya sangat mementingkan kualitas, service, dan eksklusivitas sebuah produk. Soal harga tak jadi masalah, asal manfaat dan value yang didapatkan sepadan dengan harga yang ditawarkan. Quality over quantity.

Seperti dunia gadget atau handphone. Ada market yang mendewakan spek, ada yang mementingkan brand, ada juga “yang penting murah”.

Yang brand-minded, nggak peduli speknya kentang, asal brand terkenal, apalagi dijual eksklusif, pasti langsung beli.

Nah yang spec-minded, pasti lebih milih yang spesifikasinya oke dan komplit dibanding “cuma” brand. RAM berapa, chipsetnya apa, kameranya pakai sensor apa, layarnya Amoled atau IPS, hybrid atau triple slot, dsb. Soal brand, nomor belakangan.

Nah, segmen “yang penting murah” biasanya nggak terlalu concern sama brand atau spek, tapi lebih ke harga. Selama masuk budget, entah bakal awet atau enggak, yang penting fungsi dasar seperti telepon dan messaging terpenuhi, langsung sikatttt…

Tiap produk memiliki segmentasi market masing-masing. Tergantung kebutuhan, selera, dan kondisi keuangan tiap konsumen.

Ada yang beli cuma karena tergoda diskon atau sale. Ada yang beli karena memang butuh. Ada juga yang beli karena wes kadung cinta sama suatu brand. Butuh nggak butuh yang penting beli aja dulu, daripada kehabisan.

“If people believe they share values with a company, they will stay loyal to the brand.” — Howard Shultz, CEO of Starbucks

Kesimpulannya, jika produk kita memang worth to buy untuk dihargai lumayan tinggi, kita harus percaya diri. Harus yakin bahwa produk kita mampu menjadi solusi atas kebutuhan konsumen.

Toh tiap produk atau brand walaupun sekilas sama baik dari jenis bahan, model dan kualitas finishing, pasti ada keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Bahkan produk KW yang katanya “ori” dan “semi premium” aja pasti beda kok dengan produk aslinya.

Kalau kita nggak punya trust dengan apa yang kita jual, gimana bisa meyakinkan konsumen untuk menaruh trust terhadap toko dan membeli produk yang kita tawarkan?

Kalau kita selalu mem-branding jualan kita dengan stempel “murah”, maka jangan kaget saat ada yang menawarkan harga lebih gila untuk produk sejenis, konsumen akan mudah pindah ke lain hati.

Ubah mindset bahwa yang murah pasti lebih baik, yang murah pasti lebih laris, yang murah pasti lebih diminati. It’s all about taste, it’s all about value, it’s all about how powerful a brand is.

Kuylah! Tetap semangat di hari Jum’at 🌷

~ Jakarta, end of October 2019.. every brand has its own personality, that what makes them stand out.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.