Because.. I Love You

Sore ini, sebuah tulisan apik muncul di beranda Facebook saya. Tulisan yang menyoal tentang ketergantungan dan kemandirian antara suami istri dalam rumah tangga.⁣

“Ada suami yang begitu bangga saat istrinya mapan, mandiri, berdiri kuat, kokoh lagi berdaya. Ia senang melihat istri yang punya penghasilan sendiri, sehingga tak lagi meminta uang belanja bulanan padanya.

Ia gembira melihat istri bisa mengangkat gallon, lalu memasangnya. Sang istri juga piawai mengganti tabung gas sendiri, memasak sambil mengawasi mesin cuci yang sedang berputar, sementara sesekali istri menyuapi balitanya yang sudah belajar makan. Bahkan ia bisa memanjat memperbaiki genteng bocor saat musim penghujan tiba.

Jika dulu, kemana-mana istri minta diantar, maka sekarang tidak lagi. Ke pasar, jemput anak di sekolah, ke tempat kajian, istri bisa jalan, bawa kendaraan sendiri.

Bagaimana menurutmu wahai para suami? Enak kah kondisi demikian? Sehingga kau merasa tak direpotkan lagi oleh istrimu.

Maka waspadalah, ini bukan kondisi yang baik. Sejatinya rumah tangga dinamis karena adanya saling ketergantungan antara suami istri. Ada banyak keadaan di mana istri sangat tergantung pada suami, dan itu sangat wajar. Itu yang membuat hubungan semakin mesra dan hangat. Sebab kita yang tak bisa jauh satu sama lain.

Maka, bahagialah saat istrimu meminta cepat2 pulang di sore hari karena gasnya habis, sementara nasi belum lagi matang.

Bahagialah saat istrimu berteriak minta tolong agar gallon diangkat dan dipasangkan, ada anakmu yang kebelet minta minum.

Bahagialah saat istrimu merengek minta diantar ke kajian pekanan, karena ia ingin meraih surga bersamamu.

Bahagialah saat istrimu masih menadahkan tangannya minta uang belanja. Bukankah sejatinya laki-laki adalah qawwam, tugasnya memberi nafkah, agar nanti istrimu patuh karena ke-qawwamanmu.

Bahagialah saat istrimu minta dibantu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, memintamu menemani anak-anak bermain, atau mungkin memintamu mengganti popok anak, atau menceboki kakak yang berteriak di kamar mandi karena hajatnya telah selesai.

Bahagialah dengan segala permintaan istri, meski kau pikir remeh temeh semata. Itu artinya istrimu masih waras, ia masih bisa mengungkapkan maunya apa.

Muliakanlah istrimu, rapikanlah bila kau nampak ia berantakan, percantiklah bila kau lihat ia belepotan, santunkan bila kau anggap ia ceplas-ceplos tanpa etika, luaskan pengetahuannya bila kau anggap ia kampungan.

Sebelum kau jauh-jauh memberi manfaat dan kebaikan pada orang lain, pastikan dulu istrimulah yang paling merasakan manfaatmu dan kebaikanmu.

===

Peluk jauh untuk semua istri2 shalihah, ibu yang selalu kuat demi keluarga.
Salam hangat dari saya, ibu beranak tujuh yang tak bisa apa2 tanpa bantuan suami, selalu minta tolong meski hanya sekedar membantu menjepit rambut yang berantakan.”
___________

#Copas
Ummu Dzaky
Hasnur Azis

And I, just can’t agree more than this 👌⁣ ⁣

Jadi teringat dulu saat awal-awal belajar nyetir motor, suatu hari saya ngobrol bareng suami tentang banyak hal. Dan sampailah obrolan kami pada bahasan ini…

Walau nanti saya udah bisa kemana-mana bawa motor, kalau mau pergi dan pas ada beliau di rumah, ya saya minta diantar. Nggak mau disuruh jalan sendiri. Kan ada suami, kenapa harus jalan sendiri?

Begitu juga hal-hal lain yang merupakan tugas suami. Saya nggak mau capek-capek naik ke atap benerin genteng, ngecat rumah sendirian, nguras bak mandi, sampai jalan ke bengkel buat servis motor.⁣

Simply ya karena memang yang demikian bukan job desc saya. Kecuali suami sedang repot dan berhalangan, insya Allah bisa dipahami dan didiskusikan.

Juga ketika saya memiliki penghasilan sendiri, walau tak seberapa banyak. Buat sekadar jajan skinker, cemilan, jalan-jalan, atau traktir keluarga makan pas baru gajian, it’s okay lah.⁣

Tapi kalau harus jadi tulang punggung keluarga dan wajib menopang kebutuhan rumah tangga, ya jelas saya ogah.

Apalagi karena sudah memiliki penghasilan sendiri, lantas dianggap tak perlu lagi diberi uang belanja.

Saya nggak mau jadi pribadi yang kelewat mandiri, sampai-sampai hal-hal yang seharusnya bukan urusan saya, saya tangani sendiri.

Lain halnya jika berstatus single fighter. Mau tak mau ya harus turun tangan, merangkap ini itu. Karena keadaan memang menuntut demikian.⁣

Terkadang.. Suami sangat suka istrinya bermanja ria kepadanya. Saat istri merajuk, meminta bantuan, dan turut melibatkan suami dalam berbagai urusannya..⁣

Terkadang.. Suami membutuhkan sosok istri yang kuat dan berdaya tatkala memang diperlukan. Tangguh dan nggak over menye-menye, sampai-sampai segala sesuatunya sangattt tergantung pada suami.⁣

Ia suka memandang istrinya dengan pandangan kekaguman, namun kekaguman itu tidak lantas mendorong ia mengandalkan istrinya dalam hal-hal yang bukan merupakan kewajiban sang istri.⁣

Saya menyaksikan sendiri fenomena menyedihkan perihal suami yang sangat mengandalkan istri, karena sang istri (dianggapnya) kelewat mandiri.

Karena sang istri sangat kuat dan tangguh, suami jadi cuek bebek terhadap kesulitan yang dihadapi istri. Dianggapnya, sang istri sudah pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Karena sang istri bekerja sampingan, suami jadi menyepelekan masalah nafkah. Ketika dimintai uang belanja, jawabannya, “Kan kamu udah punya duit sendiri, kenapa masih minta sama aku?”

((( facepalm )))

Mentang-mentang istrinya kuat, tangguh, serba apa aja bisa, otot kawat balung wesi.. Udah aja dia santai ongkang-ongkang kaki, pamalesan, serba ngandelin istrinya.

Duh, jangan sampai suami dan anak laki-laki kita seperti ini nantinya ya, Gaesss…. Naudzubillaah.. Gemashhh akutuhhh.

Laki-laki yang baik, tidak akan membebankan kewajibannya di pundak istri dan anak-anaknya, selagi ia mampu dan sanggup untuk menjalankannya.

Laki-laki yang bertanggungjawab, tidak akan berdalih dan mencari pembenaran di balik istilah “istri yang kelewat tangguh” hingga ia menyepelekan tugasnya sebagai suami.

I always believe that family is a teamwork. Beres-beres rumah, mengurus anak, menemani anak belajar, dan mengerjakan PR, bukan hanya tugas istri saja. Saling bersinergi dan bahu membahu dalam suka dan duka akan mengeratkan ikatan antara suami istri.

Begitu juga ketika kelak anak-anak mulai beranjak besar. Mari membiasakan untuk berbagi tugas antara anggota keluarga, sesuai tahapan usianya. Untuk melatih kemandirian mereka saat dewasa juga nantinya.

Karena rumah yang nyaman, bersih, dan rapi dinikmati oleh semua anggota keluarga, maka kenyamanan, kerapian dan kebersihannya juga merupakan tanggung jawab bersama. Bukan salah satu pihak saja.

Coba bayangkan jika dalam sebuah rumah sudah nafsi-nafsi alias masing-masing. Predikat suami istri hanya sekadar simbol status. Officially a husband and wife, but in reality they never had each other’s back.

And that’s a sign of an unhealthy relationship, you know. When you both reach that point where you no longer care, nor ask for help from each other, beware. Your marriage might be on danger.

Jadi kalau pasangan kita masih sangat membutuhkan dan tergantung pada kita..

Suami kita masih sering minta disiapkan sarapan, diceplokin telor, dipijitin, dibikinin mie instan, atau dibuatkan kopi..

Istri kita masih suka minta diantar kemana-mana, dibantuin masang regulator gas, ngganti galon, atau masih suka curhat mengeluarkan semua uneg-uneg dan sampah emosionalnya yang terpendam sepanjang hari…

Hal-hal sepele yang nampaknya sangat mudah untuk dikerjakan sendiri. Yang mungkin sebetulnya tidak butuh bantuan orang lain…

Tandanya, masih ada cinta kasih di antara keduanya. Masih merasa saling membutuhkan keberadaan masing-masing. Masih merasa memiliki satu sama lain.

Bukankah dua orang dalam sebuah pernikahan layaknya sepasang sepatu? Tak pernah sama, pasti ada kiri dan kanan. Tak bisa melangkah dalam waktu bersamaan, namun selalu seiring sejalan.

Because I love you, that’s why I need you in my life ❤

~ Jakarta, on a rainy November 2019.. cause marriage is finding that special someone you want to annoy for the rest of your life 😛

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Getty Images ]