“Kapan Hamil?”

“Why on earth orang suka banget mikir belum punya anak = nunda. Kalau memang lagi nggak kepingin gimana?”

Satu petikan dari sebuah artikel online berjudul “16 Kalimat Jahat yang Diucapkan ke Pasangan Menikah yang Belum Punya Anak. Stop Ngurusin Orang!”, yang baru saja selesai saya baca pagi ini.

Trueeeeee 👏

Ini adalah basa-basi paling basi yang seringkali ditanyakan ke pasangan yang sudah menikah tapi belum memiliki anak. Boring cliché yet often hurtful enough for some people.

Coba berpikir positif, mungkin memang mereka belum kepingin, masih mau pacaran setelah nikah. Masih mau bebas jalan-jalan dan traveling tanpa kehadiran anak.

Atau bisa jadi sudah usaha maksimal, sampai ikut program ini itu, tapi karena satu dan lain hal qaddarullaah masih harus disuruh banyak bersabar dan bertawakkal.

Anak, jodoh, rezeki, ajal, adalah hak prerogatif Allah. Who are we to interfere?

Apalagi yang nanya-nanya cuma sekadar kepo, bukan care. Malah kadang ada yang sengaja nanya dengan tujuan ngenyek bin ngejek, biar yang ditanya sakit hati.

“Kamu kok sampai sekarang belum nikah juga? Temen-temen seusiamu udah pada nikah lho, malah ada yang anaknya udah dua”.

“Kamu nikahnya kan udah lama ya, tapi kenapa belum hamil juga? Kok bisa sih? Emang udah usaha apa aja?”

Salah satu contoh mulut-mulut usil yang seringkali bikin yang denger jadi down. Udahlah jarang atau nggak pernah ketemu, sekalinya ketemu nanyain sesuatu yang sifatnya sensitif dan sangat pribadi. Duh.

I’ve been there, too. Pembaca setia blog ini pasti syudah khatam betul gimana (waktu masih single dulu) saya merespon pertanyaan lejen seperti, “kapan nikah?” 🤭

Alhamdulillah saya tipe yang nggak ambil pusing sama omongan orang, jadi ya keep selow aja biar sering ditanyain juga. Tapi kan nggak semua orang seperti saya yang santuy dan agak badak terhadap komentar orang lain.

Ada mereka yang sangat perasa jika topik obrolan sudah menyentuh hal-hal yang sensitif seperti jodoh dan anak. Terlebih jika kata-kata tersebut terlontar dari mereka yang kenal dekat aja nggak, tapi langsung SKSD dan nge-judge macem-macem.

Padahal mereka nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mungkin memang nggak pernah mau tahu. Jika memang nggak tahu, maka cobalah berempati sedikit saja. Nggak usah sok tahu.

Plus, soal kapan mau nikah, kapan mau punya anak, sepertinya bukan ranah orang luar untuk berkomentar. Every person, every couple, has their own reason and decision of how they do about their life. And that’s none of our business.

Buat apa sih nanya-nanya terus? Bahkan seringkali dengan nada nyinyir, mempertanyakan faktor kesuburan dari pihak perempuan. Seolah kalau udah lama nikah trus nggak hamil-hamil itu salahnya si perempuan.

Contoh kasus, saya punya teman yang saat itu sudah lama menikah, tapi belum juga dikaruniai anak (alhamdulillah sekarang sudah). Teman saya tersebut dulu sempat curhat pada saya,

“Ya itu Mbak, Mas (suaminya) pernah bilang gini ke aku.. ‘Ya pokoknya kalau nanti nggak dapat anak dari kamu, nanti juga dapet dari (istri) yang lain’. Ngomong gitu masa, Mbak. Hatiku tuh berasa gimana gituu..”

“Ya Allah kok tega sih? Emang kalian belum punya anak itu salah kamu? Udah pasti kamu yang nggak bisa punya anak? Belum tentu kan? Bisa aja dia yang bermasalah..”

“Nah itu dia Mbak, Mas kalau diajak periksa ke dokter nggak mau terus. Ada aja alasannya. Tapi akhirnya jadi (seperti) aku yang disalahin..”

((( sigh )))

Ada lagi seorang teman yang qadarullaah baru dikaruniai anak setelah 3 tahun menikah. Di masa penantian itu, ada seorang tetangga yang jahat sekali lisannya..

“Kok udah lama nikah belum hamil juga? Mandul ya?”

Diam-diam ia masuk ke dalam rumah sambil menahan tangis, dengan hati yang remuk redam. Hanya Allah yang tahu betapa besar keinginannya untuk segera hamil, tapi Allah pula yang tengah mengujinya dengan takdirNya, ia harus lebih lama bersabar..

A deep message for us, mungkin kita merasa kata-kata yang kita lontarkan itu B ajah, tapi tidak selalu demikian bagi orang lain. Buat kita wajar belum tentu wajar bagi orang lain. Catet ya, Maemunah.

Every person has their own limit, their own breaking point. Di mana hatinya bisa hancur sekejap hanya karena satu kalimat yang seringkali dianggap “biasa saja”.

Iya, kita yang ngucap aja udah lupa, udah move on dengan kehidupan kita sendiri. But those words deep down embedded into their souls. Tiap kali teringat, ada pilu yang menyayat dada.

Terlebih, hal-hal semacam itu bukanlah urusan kita. Kita bertanya pada mereka, faedahnya apa coba? Dan nggak etis juga, nggak pantes. Apalagi sampai ditanyakan terus menerus tiap kali ketemu.

Sama seperti orang yang sudah sepuh, tapi kok ya biidznillaah masih dikasih rezeki panjang umur. Ya karena memang belum ajalnya datang. Trus apa pantes kita nanya gini,

“Monmaap Pak, rangorang seusia Bapak rata-rata udah pada meninggal, lho. Bapak kapan nyusul?”

Nggak ada kan yang pernah nanya gitu ke orang yang udah lanjut usia? Ya mungkin aja sih kalau yang nanya memang kurang ajar. Tapi sampai sekarang saya belum pernah nemu, tuh.

People’s personal lives, are definitely none of our business. Respect people’s privacy, don’t invade theirs with your ignorance and mannerless way. Speak the good, or remain silent.

Last but not least, nggak semua hal harus kita urusin. Wong ngurusin badan sendiri aja nggak kurus-kurus, kok malah repot ngurusin orang lain. Belum tentu juga dia mau kurus :”)

~ Jakarta, Januari 2020.. pengingat untuk diri sendiri, agar lebih berhati-hati sebelum berkata-kata.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Resplash ]

Advertisement

14 thoughts on ““Kapan Hamil?”

  1. Mewakili segalanya ini Mbaaak 😥
    Mungkin dia merasa hidupnya sempurna, jadi orang lain yang belum bisa menyamai pencapaiannya dianggap hina 😵

    Like

  2. Bismillah,, Capek banget kalo dengerin orang terus mbak. dan aku&suami masih dpt pertanyaan lejend itu “kok belum punya anak?” yang lanjutannya adalah menjudge yang perempuan…trus yang tanya itu perempuan dan punya anak perempuan. SubhannAllooh drpd menjudge gtu mending lgsg diubah jadi do’a buat saudara kita itu yaa.

    jadinya curhat deh. hehehe

    Like

    • Sepakat, kenapa tidak dido’akan saja daripada terus menerus ditanyakan 😊

      Dan sebaik2 do’a adalah do’a yang dipanjatkan diam-diam tanpa sepengetahuan saudaranya.

      Sabar ya.. Semoga Allah mudahkan urusan kita dan Allah ijabah semua do’a-do’a kita 🌹

      Like

  3. Ana menikah 2 thn qadarullah belum Allah titipkan anak dan sudah sering bolak balik dokter. Untuk ngambil tindakan medis mesti nabung dulu, karena ngga sedikit bagi kami.
    setiap orang saudara keluarga tanya ke ana karena kan pasti ke perempuan ya, yg disudutkan. Suami anak tunggal, jadi mereka bilang kasihan suami kamu.
    Tapi Alhamdulillahnya ana enjoy aja umm, ngga terlalu dipikirin.
    Semisal suami mau punya anak, tafadholiy nikah lg dg gadis atau singleparent yg sudah punya anak.
    Insyaa Allah tidak perlu meratapi, karena sudah Qadarullah. Allah Maha Kuasa, kehendak Allah siapa saja yang Allah karuniakan anak baik anak perempuan/lk2 atau perempuan saja/lk2 saja dan siapa saja yg Allah takdirkan mandul.
    Yang menghina, ia hina ketentuan Allah
    Yg mengejek, ia mengejek takdir Allah..
    Na’udzubillah..
    Insyaa Allah wanita paling cerdas didunia ini, bunda Aisyah Rhadiallahu’anha juga tidak memiliki anak, tapi ia tetap wanita yg mulia karena keimanannya bukan karena keturunan dan hartanya.
    Jadi memang kerasa bgt umm pengaruh ketauhidan,
    Insyaa Allah jadi lebih tahu hakikat kehidupan.
    Dan jadi ngga terlalu baper.

    Like

    • Masya Allah, ahsanti ukhti.. Sebaik-baik contoh adalah Rasulullah dan istri-istri beliau.

      Semoga kita dapat menyikapi setiap takdir dengan hati lapang dan tawakkal. Namun, tidak semua saudari-saudari kita sesama perempuan memiliki kondisi dan pemikiran seperti anti.

      Ada yang santai, cuek, pasrah, ada juga yang memang sensitif. Dan sda baiknya bagi yang bertanya kenapa belum hamil juga, tak perlulah sampai menghakimi, apalagi menyudutkan pihak perempuan. Karena dalam hal ini belum tentu pihak perempuan yang bermasalah.

      Saya sendiri punya kenalan yang sudah menikah sangat lama, belasan tahun. Tapi sampai saat ini belum dikaruniai anak. Sang suami sudah menikah lagi, dan saat ini memiliki 3 istri.

      Qadarullah dari ketiga istrinya tsb, tak satupun ia mendapatkan anak. Di sini jelas terlihat bahwa belum tentu pihak perempuan yang bermasalah perihal kesuburan.

      Semoga Allah mudahkan urusan anti dan saudari-saudari kita lainnya yang sama-sama tengah menanti. Barakallaahu fiikum 🌹

      Like

  4. Huhu..
    Enggak tahu aja orang-orang tuh kalo hamil itu bukan cuma perkara hamil. Ya dikira punya anak kayak bikin mi instan. Ya dikira mau hamil enggak pake pertimbangan. Kalo misal si cewek belum siap, yang nyinyir dan nanya-nanya itu emangnya mau ngurusin anak si cewek?
    Aku pernah ditanya dgn offensive sama ibu-ibu. Eh dia sendiri enggak nyadar kalau anaknya (yang nikahnya udah lebih lama) buat sampai tahap hamil juga butuh waktu lama. Apa dia enggak paham perasaan orang yang ditanya kayak gitu?

    Like

    • Sad. Seharusnya karena mengalami, seseorang jadi lebih bisa berempati. Dan mau merencanakan punya anak dalam waktu dekat atau menunda dulu, adalah urusan pribadi orang lain yang kita tidak ada hak untuk mencampuri.

      Semoga Allah mudahkan urusan kita semua..

      Liked by 1 person

      • Aamiin..
        Tapi dgn ada pengalaman begini aku jadi belajar lagi buat ngomong dan membagi cerita pribadi lebih hati-hati, mbak. Alhamdulillah. Dulu ketika masih lajang santai menyinggung masalah kehamilan ke teman. Padahal bisa jadi mereka enggak suka topik itu apalagi ditanya-tanya.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.