Yang Menjaga untuk yang Terjaga

Beberapa waktu lalu, sebuah DM masuk ke inbox saya.

“Assalamu’alaikum.. Mbak afwan, aku mau minta saran dan pertimbangan..

Saat ini aku sedang proses (ta’aruf) dengan seorang ikhwan. Alhamdulillaah kami merasa ada kecocokan, walau mungkin masih banyak hal yang perlu aku ketahui tentangnya. Kami baru sampai tahap nadzor, belum ada rencana kapan khitbah.

Jadi aku sengaja cari akun sosial medianya, dan ketemulah Instagramnya. Aku kepoin deh, kebetulan akunnya nggak dikunci. Sempat kaget karena ternyata ikhwan ini termasuk sering posting foto selfie.

Dan waktu aku cek list followingnya, aku lebih kaget lagi.. Karena dia follow banyak sekali akun artis dan selebgram wanita, meski rata-rata mereka berhijab.

Ketika aku buka akun mereka satu persatu, aku makin kaget karena ternyata si ikhwan ini sering sekali meninggalkan jempolnya di foto-foto selfie mereka. Bahkan foto close up penuh tabarruj yang full make-up pun sering banget di-like.

Jujur ya Mbak, aku ngerasa sangat nggak nyaman. Aku ngerasa dia kurang jaga pandangan terhadap lawan jenisnya. Apalagi ini sengaja follow dan like. Sedangkan aku berusaha jaga banget hijab dengan lawan jenis.

Please give me a thought about this, Mbak.

Aku nggak mau punya suami yang suka narsis, nggak bisa jaga hijab, dan sulit menundukkan pandangan seperti itu. Karena aku sendiri pun nggak begitu.

Dan aku nggak bisa bayangin kalau kelak kami jadi menikah, sedangkan dia masih seperti itu, pasti akan jadi masalah buat kami ke depannya.”

((( me giving a deep sigh )))

“Wa’alaikumussalam…

Firstly, kamu harus bersyukur banget Allah tuntun kamu untuk menemukan akun ikhwan itu. Yang menggerakkan hatimu untuk kepo siapa? Ya cuma Allah. Dan dalam proses ta’aruf, kepo terhadap calon pasangan itu bukan hanya boleh, tapi wajib.

Kita wajib tahu calon yang akan kita nikahi ini seperti apa. Agamanya, karakternya, akhlaknya. Karena zaman sekarang profil seseorang bisa kita intip dari akun sosmednya (walau nggak jaminan juga), tapi setidaknya, kita udah ada gambaran lah soal siapa si calon ini.

Saranku cuma satu, you have to be straightforward to him about this. Jangan sungkan, jangan ada yang ditutupi, jangan berusaha untuk denial juga. Mungkin untuk awalnya bisa coba tabayyun dulu,

“Maaf, ada nggak orang lain yang sering pegang hape atau akun sosial mediamu?”

Dah gitu aja. Tunggu jawaban dari dia. Kalau memang jawabannya nggak ada, the next step is kamu jujur aja, bahwa kamu memang sengaja cari akun sosmednya, lalu menemukan hal-hal yang bikin kamu nggak nyaman.

Kamu utarakan baik-baik bahwa karena kamu berusaha menjaga, maka kamu menginginkan pasangan yang terjaga pula. Dan aku yakin, sebenarnya saat ini kamu sudah menemukan jawabannya. Hanya butuh keyakinan kuat untuk melangkah.

That’s all I can say for now. Please tell me the progress, okay?”

“Oke Mbak, nanti aku update lagi ya hasilnya gimana. Terima kasih atas sarannya, jazakillah khoir…”

Feeling familiar with this kind of question? Or maybe, relatable? Honestly yes, I do.

Sejenak, saya kembali teringat pesan seseorang saat saya masih lajang dulu,

“Sebelum menikah, buka mata kita lebar-lebar. Setelah menikah, tutup mata kita rapat-rapat.”

Yang artinya, sebelum menikah kita membebaskan diri untuk memilah, memilih, dan mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang siapa yang kelak akan kita nikahi. Dan setelah menikah, tutup mata rapat-rapat terhadap godaan yang datang, karena kita telah menjatuhkan pilihan.

Jadi sebelum menikah kita wajib kepo, wajib mencari tahu, wajib membuka mata terhadap semua kemungkinan yang akan terjadi. Jangan naif, jangan denial, jangan mudah membohongi hati kecil hanya karena sudah merasa klik dan cocok dengan seseorang.

Someone said, hal-hal indah dalam pernikahan adalah bonus, sedang riak-riak yang menyertainya adalah hal yang penting untuk dipersiapkan. A statement that one hundred percent correct, which I totally agree.

Seringkali ketika baru memasuki gerbang pernikahan, kita mengalami fase ‘kaget’. Keterkejutan atas realita yang tak sesuai harapan, jauh dari bayangan. And that phase is normal, totally normal.

Tapi apa jadinya jika realita yang tak sesuai harapan itu sifatnya prinsipil dan (bagi kita) tak bisa ditawar lagi?

Demikianlah mengapa kita perlu kepo alias banyak-banyak melakukan penyelidikan terhadap calon pasangan kita, supaya nggak terlalu kaget nantinya. Kaget sih, but that’s not a big deal.

Kita bisa cari tahu dari kawan dekatnya, keluarganya, circle pertemanannya, atau dari perantara ta’aruf itu sendiri. Mungkin zaman sekarang bisa kita intip dari akun sosial medianya.

Wong perusahaan aja kalau mau hire karyawan, idealnya cari tahu dulu latar belakang dan karakter si pelamar dari profil sosmednya, apalagi cari pasangan hidup yang insya Allah sehidup sesurga.

Karyawan kalau nggak cocok bisa langsung PHK atau nggak ada perpanjangan kontrak, lha kalau pasangan hidup? Apalagi sudah ada anak. Ribet urusannya.

Dan kepo-kepo syantik ke profil sosmed calon pasangan itu nggak salah, kok. Boleh bangetttts. Zaman ta’aruf dulu saya sengaja kepoin akun Friendster (ketahuan deh angkatannya) suami untuk tahu gimana sih orangnya.

Unlucky me, suami termasuk tipe netijen yang jarang update. Bahkan setelah menikah saya baru tahu bahwa akun tersebut bukan beliau yang bikin, tapi temannya. Sampai banyak sarang laba-labanya saking lama nggak pernah ditengok. Ahaha.

Back to topic, jujur nih sebagai laki-laki atau perempuan, kalian keberatan nggak kalau pasangan kalian suka follow dan nge-like foto-foto selfie lawan jenis yang kinclongnya (setelah difilter berlapis-lapis) ngalah-ngalahin ubin masjid?

Kalau saya pribadi sih keberatan, nggak tahu ya kalau yang lain. Karena saya sendiri nggak hobi selfie, maka saya keberatan dong kalau pasangan saya hobi narsis upload foto selfie, bahkan sering nge-like foto-foto para jama’ah selfiyyah.

It’s so unfair kalau saya udah menjaga diri, nggak follow apalagi like foto-foto selfie ikhwan ajnabi, eh pasangan saya jempol dan matanya bebas piknik kemana-mana. Hinggap dari foto ke foto, dari akhwat ini ke akhwat itu. Ewwww.

Nyesek lho punya pasangan yang nggak bisa menundukkan pandangannya. Kita pun jadi rentan akan perasaan insecure, karena merasa ia tak cukup hanya memandang kita saja sebagai penyejuk matanya.

Selain berdosa karena tidak menundukkan pandangan, mengumbar pandangan juga akan mengurangi kadar keelokan pasangan di mata kita. Kenapa? Karena terbiasa memandang yang haram akan mengurangi kelezatan dari memandang yang halal.

A man goes to a sheikh and says, “Oh Sheikh, I’ve been married for years and I have kids but in the past few years I’ve noticed I’m not attracted to my wife any longer.”

The Sheikh starts to ask him, “Why? Has she gained any weight?

Man: “No, she looks the same.”

Sheikh: “Did she get into an accident, did something deform her image?”

Man: “No, she looks the same.”

The Sheikh asks “Do you have a hard time lowering your gaze when women walk past you? Do you have issues with pornography?”

Man: “Yeah, how did you know about that?”

Sheikh: “When you indulge in Haraam, when you fall in love with the Haraam, when you eat, sleep, and breathe in the Haraam, then the Halal becomes disgusting to you.”

( via Youth Route )

Perintah untuk menundukkan pandangan tidak hanya berlaku untuk laki-laki saja, namun juga untuk perempuan. Cukupkan mata hanya untuk melihat yang halal, hingga yang haram tak lagi menyilaukan mata.

Bagi kalian yang belum menikah, atau sedang dalam proses pencarian, poin ini perlu di-highlight dalam kriteria calon pasangan. Bagaimana ia menjaga pandangan, kehormatan, dan hijab dengan lawan jenisnya, adalah hal yang sangat penting untuk dicari tahu.

Trust me, punya pasangan genit, narsis, dan suka tebar pesona itu menyiksa. Bukan karena saya sendiri yang mengalami, tapi semua cerita yang datang tentang pasangan yang demikian sifatnya, meyakinkan saya…

Bahwa suami atau istri yang mampu menjaga matanya dari yang haram, sekaligus menjaga hati pasangannya dari rasa cemburu yang cukup beralasan.. Adalah satu dari sekian banyak nikmat terbesar dalam biduk pernikahan.

Mengutip sebuah tulisan yang sempat saya share beberapa saat lalu di Facebook,

“Akan selalu ada perempuan yang lebih cantik daripada kamu. Kamu hanya perlu menemukan lelaki yang tak peduli akan hal itu.”

Jadi kalau terus mau cari yang paling centes atau paling ngguantheng ya nggak bakal ada habisnya. Nurutin nafsu syahwat nggak akan ada puasnya. Pasangan kita yang sekarang aja pasti beda dengan ia saat awal bertemu dulu, begitu juga dengan kita bukan?

Saya percaya bahwa kita dan pasangan itu sekualitas, sekufu, sepadan dalam banyak hal. Dan saya percaya bahwa yang menjaga hanya untuk yang terjaga, begitu juga sebaliknya.

Jadi wajar banget kalau teman saya tadi merasa kecewa saat berhadapan dengan kenyataan bahwa calon pasangannya kurang dalam menjaga hijab dengan lawan jenisnya, kurang ghadhul bashar, sekaligus kurang akan rasa malu.

Kalau saya mungkin akan memilih “thank you, next!” alias mundur teratur. Karena berdasarkan pengalaman, perilaku seperti itu sangat sulit untuk diubah dalam sekejap. Apalagi berubahnya karena calon istri yang meminta. Sangat dipertanyakan kesungguhannya.

Akhirul kalam, tulisan ini saya buat sebagai pengingat agar tetap istiqamah menjaga diri dari fitnah sosial media. It is true that hayaa’ (modesty) is a trait most people have lost because of social media.

May Allah guide us all to the right path.

~ Jakarta, March 2020.. always remember, never, ever settle less than what you deserve.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisement

12 thoughts on “Yang Menjaga untuk yang Terjaga

  1. “Jadi sebelum menikah kita wajib kepo, wajib mencari tahu, wajib membuka mata terhadap semua kemungkinan yang akan terjadi. Jangan naif, jangan denial, jangan mudah membohongi hati kecil hanya karena sudah merasa klik dan cocok dengan seseorang.”
    Ugh, mba thank you sudah menguatkan. Terima kasih tulisan yang mengingatkan 🙂

    Like

  2. Alhamdulillah..benar sekali..jodoh adalah cerminan..dimulai dr diri sendiri dl..insyaAlloh Allah yg tuntun pilihkan..
    Smg jodoh msg2 kita adalah jodoh yg Allah ridhoi di dunia dan akhirat..aamiin

    Liked by 1 person

  3. Bismillah. Hal yg sama lg menjadi pemikiran ana, ummu. Ana punya temen, udah ngaji. Tapi baru-baru ini ana sadari ternyata beliau kurang dlm menjaga pandangan di sosmed. Nge-followin akun artis artis dan juga selebgram wanita, dan bahkan kadang ga segan ngasih love di photo dan video video mereka yg aurat nya teramat sering enggak tertutup sempurna. Padahal temen ana ini udah mengkhitbah seorang akhwat, dan di terima. Hanya tinggal mempersiapkan segala sesuatu.

    Pernah ana sampaikan kekhawatiran ana ttg beliau. Takut beliau jadi terkena fitnah wanita, takut terjadi hal hal yg tidak di inginkan antara beliau dan calon isterinya. Tapi.. Sepertinya beliau tetap merasa bisa aman dari yg nama nya fitnah wanita. Sigh.

    Liked by 1 person

    • Innalillahi..

      Ternyata walau sudah ngaji tidak menjamin seseorang terjaga dari fitnah lawan jenis ya. Dan siapalah kita ini merasa aman dari fitnah, terlebih fitnah wanita yang Rasulullah sendiri telah memperingatkan umat ini akan bahayanya.

      Allahul musta’an.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.