Suka Duka Belajar dari Rumah

Di era pandemi ini, banyak sekali perubahan yang mau tak mau harus terjadi. Hampir semua kegiatan di luar rumah, diusahakan untuk dilangsungkan secara remote atau jarak jauh. Yang tadinya berlangsung secara langsung atau offline, berubah menjadi online demi menghindari kerumunan dan pusat cluster virus baru.

Tak terkecuali proses belajar mengajar di sekolah. Hampir satu tahun sudah anak-anak menjalani Pembelajaran Jarak Jauh alias PJJ. Istilah lainnya SFH atau School From Home, hingga BDR yaitu Belajar Dari Rumah.

Perubahan kegiatan belajar yang menuntut orang tua lebih berperan aktif ini memang melelahkan bagi kita semua. Bagi siswa, orang tua, juga guru. Semua pihak pasti merasakan titik jenuh dengan kondisi seperti ini.

But what can we do but accept it and wait patiently? Trus mau gimana? Mau protes atau mengeluh atas kebijakan ini? Atau mungkin ada solusi lain yang lebih efektif?

Mengutip kata-kata wali kelas saat virtual meeting pagi tadi, di masa sulit ini pilihannya cuma dua: PJJ atau terpapar covid. Sebuah pilihan yang sulit, namun bagi saya pribadi keselamatan anak adalah prioritas utama.

Terlebih bagi yang tahun ini menjalani ujian kelulusan secara virtual. Seperti anak sulung saya, Harits yang tahun ini duduk di kelas 6 SD.

Tadinya, akhir semester 1 kemarin sudah ada rencana untuk program assesment, yaitu ujicoba belajar selang seling di rumah dan sekolah, dengan memperhatikan protokol kesehatan tentunya.

Namun mengingat kurva dan positivity rate yang (sama sekali tidak bermakna positif) makin terus naik setiap harinya, rencana tersebut terpaksa ditunda.

Dalam virtual meeting tadi pagi sudah dirinci hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan, terutama mengenai ujian praktek yang dilakukan dari rumah, diawasi oleh orangtua atau wali, dan dikirimkan ke guru dalam bentuk video.

Baru di-breakdown apa aja jadwalnya udah keder duluan sayah. Duh, bisa nggak yaaa 😅

But I tried to convince myself… Bismillah ajalah, insya Allah dimudahkan kalau kita mau berusaha. Walau pastiiii akan lebih menantang karena berkejaran dengan waktu belajar yang hanya efektif sampai bulan Maret dan minimnya fasilitas di rumah.

Sebagai sesama orang tua yang jadi guru dadakan selama pandemi ini, I feel you, dear parents..

Nggak mudah ternyata jadi guru buat anak sendiri. Harus ngajarin anak sambil berjibaku dengan tugas rumah tangga, masak, bebenah, momong bayi, tanpa bantuan asisten pula. Belum kalau yang sekolah bukan cuma satu, tapi banyak. Kebayang mumetnya. Iya, seperti saya.

Kendala lainnya adalah soal gadget. Kebayang nggak gimana ketika anak yang sekolah lebih dari satu, sedang gadget hanya ada satu? Belum kalau ada virtual meeting via Zoom atau Google Meet dalam waktu yang bersamaan. Gimana coba?

Emak-emak seperti saya (yang sepertinya tidak berbakat jadi guru ini) memang sangat diuji kesabarannya dalam mendidik anak dalam proses PJJ ini. Banyak hal baru yang dipelajari, banyak ilmu-ilmu yang mau tak mau harus diingat kembali.

Tak heran banyak orang tua (baca: emak-emak) yang protes. Dahlah kita capek ngurus anak dan rumah, eh harus jadi guru pula. Mana kadang anaknya ngeselin dan ngetes kesabaran banget. Kalau nggak ditongkrongin nggak ngerjain tugas. Hahahaha. Auto ngomel deh.

Jiaaahh, jadi curcol sayah 🙈

Selama menjalani sekolah dari rumah, semoga saya termasuk golongan mamak-mamak santuy yang nggak terobsesi dengan nilai dan ranking. Even before the pandemic, saya nggak mau terlalu nge-push anak untuk jadi yang “paling” atau “ter-” di kelasnya.

Apalagi saat ini, yang kondisinya sangat membutuhkan kewarasan dari semua pihak. Nilai bagus tapi anak stress dan tertekan apa gunanya? Berusaha dengan sungguh-sungguh dan mengerjakan tugas dengan penuh tanggungjawab saja bagi saya sudah cukup.

Our kids don’t need to be ‘excel’ in every subject. Seperti halnya kita yang juga tidak mungkin menguasai semua hal. Maksimalkan potensi mereka, be their main support system, and help them to be their best self.

Dan percayalah buibu, bukan hanya kita aja para orang tua yang capek. Para guru pun saya yakin pasti juga lelaahhh…

Pernah ibu wali kelas kelepasan curhat dalam sebuah kesempatan meeting, beliau sampai begadang buat ngoreksi tugas dan ulangan anak-anak. Jam 11 malem masih tektokan chat sama guru lain soal urusan sekolah.

Apalagi di awal pandemi, belajar beradaptasi menyusun kegiatan belajar jarak jauh sampai HP dan laptop jebol dan harus di-lembiru karena banyaknya tugas yang harus dikerjakan.

Belum kalau ada siswa yang abai, nggak pernah ngerjain tugas. Sampai tadi walas kelas sebelah menceritakan ada beberapa siswa yang tidak pernah mengumpulkan tugas di Classroom. Sampai harus didatangi ke rumahnya karena dihubungi via WA tidak direspon.

Jika ditanya, saya rasa tentu para guru lebih memilih untuk menjalani proses belajar mengajar yang normal. Datang ke sekolah, bertemu siswa, mengajar seperti biasa. Bertemu anak-anak didik dan rekan sejawat merupakan hiburan tersendiri bagi mereka.

Capek lho seharian menatap layar gadget, apalagi harus memeriksa tugas dan ulangan yang ukurannya jauh lebih kecil dari aslinya.

Belum kalau ada yang fotonya buram dan tulisannya tidak jelas. Entah karena kualitas kamera yang kurang bagus, atau faktor pencahayaan yang tidak pas. Yang berkacamata (seperti saya) bisa nambah itu minusnya. Hiks.

Dalam tiap kesempatan terutama saat meeting, pihak guru selalu menghimbau orang tua agar lebih proaktif mendampingi anak dalam mengerjakan tugas dan ulangan harian. Jangan dilepas begitu saja tanpa pengawasan.

Karena banyak sekali anak yang kurang memiliki rasa tanggungjawab, bahkan yang sudah duduk di bangku sekolah menengah sekalipun. Termasuk anak saya, yang kadang-kadang kalau nggak dipantengin atau mata emaknya meleng dikit, tiba-tiba tergoda buka WA atau nonton Youtube.

Duh, ada saja distraksinya.

Eh, bukannya kita sering begitu juga, ya? Mau kerja dari HP, eh jebule buka WA dan sosmed, scroll-scroll feeds, disambi window shopping di marketplace sampai lupa tujuan semula buka HP. Hayo, ngakuuu 🤭

Anak-anak sendiri juga pasti jenuh dan bosan harus belajar secara daring dan tetap tinggal di rumah. Mereka yang biasa hidup normal, ketemu teman-teman di sekolah, bermain, ngobrol, sampai jajan bareng…

Pastilah merasakan efek psikis yang berat karena harus “dikurung” di rumah saja tanpa bersosialisasi dengan kawan-kawan sebayanya. Pergi keluar dibatasi, apalagi jalan-jalan dan piknik.

Anak-anak saya malah sejak pandemi belum pernah sekalipun tamasya aka piknik ke tempat-tempat wisata atau jalan-jalan ke mall. Paling jajan es krim ke Alpa, lalu nginep ke rumah tante atau neneknya. Dah gitu-gitu aja rutenya.

Pernah mereka protes kenapa sih harus di rumah terus, kan bosan. Apalagi yang nomer dua, si Kakak yang super kritis. Bolak balik ngeluh.

“Mi, aku bosan di rumah terus.. Sampai kapan sih corona ini?”

After a deep sigh, I tried to calm her down.

“Hmm gini, Kakak lebih pilih bosan di rumah, apa bosan di rumah sakit? Coba pilih mau yang mana?

Sabar ya Kak, kita banyak-banyak berdo’a aja supaya corona segera musnah dari muka bumi dan semua jadi normal kembali..”

Sedih sih, tapi ya itulah pilihan yang ditawarkan pada kita saat ini. Keluar rumah lalu mengambil resiko besar terpapar, dan menularkan. Atau stay at home dengan resiko lebih kecil untuk terpapar. Udah kayak zaman perang dengan teknik bertahan.

This is not a normal situation, never it will be. Makanya disebut new normal. Walau menurut saya tetap saja hidup seperti ini tidak normal karena tidak sehat secara fisik dan mental.

Kita adalah makhluk sosial yang sangat butuh interaksi langsung dengan manusia lainnya. We need to see, meet, touch, and make eye contact with each other directly. Tanpa dibatasi oleh layar gadget.

It’s still a long and exhausting battle, mate. Jika dilihat dari penambahan angka positif harian, saat ini Indonesia belum mencapai puncak pandemi. That’s the (bitter) truth.

Vaksinasi sendiri bukanlah golden ticket untuk keluar dari pandemi ini. After get vaccinated, 3M dan 3T masih berperan penting untuk mengakhiri penyebaran virus dan melandaikan kurva.

These months are definitely hard to cope with, I know. Situasi ini sulit buat semua pihak. Semuanya kena imbas. Nggak ada yang mau juga keadaan seperti ini. But we must try our best to face it. Like it or not.

Qaddarullah wa masya’a fa’al… Inilah ketentuan Allah. Pasti ada banyak hikmah dan kebaikan di baliknya. We just can’t see it yet now.

Setidaknya, saat ini kita masih diberi nikmat sehat, bisa menghirup udara dengan bebas tanpa bantuan ventilator saja sudah merupakan nikmat besar yang patut disyukuri. Yuk fokus ke hal-hal yang positif, agar imunitas kita makin kuat.

Tetap semangat ya semua! Jangan kasih kendor! Ingat, Corona masih ada.

Allaahul musta’an 🍃

~ Jakarta, February 2021… alhamdulillaah ‘ala kulli haal…

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisement

2 thoughts on “Suka Duka Belajar dari Rumah

  1. Bismilah ,assalamualaikum kak. Dulu saya pernah repost tulisan kaka (fenomena muslimah bercadar) di blog saya, dan alhamdulillah sudah saya sertakan url website kakak. Mohon dihalalkan ya kak. Oh ya kak, saya Aisyah salam kenal ya. Saya suka dengan tulisan kakak ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.