“Why Did She Stay?”

Talking about domestic violence, abusive marriage, or toxic relationship..

Kita mungkin terkadang heran, ada gitu ya orang yang rela bertahan di dalam sebuah hubungan yang nggak sehat dan abusive seperti postingan dari Quora yang saya baca malam ini. Udah dikasih solusi, malah keukeuh bertahan, mau aja disiksa lahir batin…

Nggak habis pikir, kan? Sama 😅

Sampai orang yang saya kenal dekat mengalaminya sendiri.

Perempuan yang boleh dibilang “high quality”. Cantik, berpendidikan, middle class, dari keluarga baik-baik. Qadarullah dapet suami yang.. Duh, maap-maap aja yaa udah nggak cakep, attitude nol, agama apalagi. Menang harta aja.

Sering sekali mengalami KDRT. Bertahun-tahun pula. Dikatain, dipukul, sampai dilecehkan secara seksual. Anehnya, ia nggak pernah sekalipun cerita ke keluarga. Meski akhirnya keluarga akhirnya tahu juga dari orang lain.

Kita-kita yang cuma merhatiin dari jauh aja gemaasshhh.. Tapi dia tetap bertahan, malah nambah anak terus. Dalem hati, yoweslah.. What can we do? That’s her life, anyway 😅

Banyak faktor yang membuat seseorang memilih untuk bertahan di dalam hubungan yang toxic. Jika ia sebagai istri, mungkin faktor ketergantungan finansial, tidak memiliki penghasilan jika suatu hari nanti berpisah. Bisa juga karena faktor anak.

Bertahan dalam pernikahan yang tidak sehat bertahun-tahun demi anak. Agar anak memiliki keluarga yang utuh, padahal rapuh. Agar anak-anak tetap tumbuh didampingi figur lengkap ayah dan ibunya.

Padahal tanpa kita sadari, bertahan dalam perkawinan yang tidak sehat akan menyisakan trauma mendalam bagi sang anak. Makin dewasa mereka pasti paham bahwa salah satu orang tuanya tidak bahagia.

Belum lagi resiko stigma negatif dari masyarakat terhadap istri yang menggugat cerai suaminya. Atau berani melaporkan suami dengan pasal KDRT. Bisa-bisa malah disalahkan, victim blaming.

Oleh karena itu banyak korban kekerasan yang ragu bahkan takut untuk bersuara. Karena alih-alih mendapat perlindungan, malah penghakiman dan tudingan yang diterima. Posisi perempuan dalam banyak hal memang sulit, dilematis.

Nah, I’m not a feminist, and never will be, insha Allah. Tapi memang demikianlah fenomena yang terjadi di tengah-tengah kita. Diakui atau tidak, inilah pil pahit yang harus kita telan. Sad, but true.

Plus, korban abuse (apalagi yang sudah bertahun-tahun) biasanya memiliki low self esteem dan sering merasa dirinya tidak berharga. Bahkan sampai ada yang merasa bahwa mereka berhak diperlakukan sedemikian rendah.

That’s why sulit bagi mereka keluar dari lingkaran setan yang tak pernah berakhir itu. Jahat banget kan KDRT ini?

For you, yang saat ini sedang mencari pasangan hidup..

Mumpung masih bisa memilih, pilihlah lelaki yang ketika marah mampu menahan dirinya dari berkata atau berbuat kasar. Jangan pilih lelaki temperamental yang mudah naik darah. Apalagi yang dikit-dikit suka mukul. Duh, bleklis langsung!

Mark my words, KDRT itu susah sembuhnya. Even yang udah ngaji dan paham ilmu agama aja banyak kok yang susah mengubah tabiat ini. Hanya hidayah serta kemudahan dari Allah disertai azzam yang kuat saja yang bisa menyembuhkannya.

Laki-laki sendiri bisa nggak sih mengalami KDRT? Bisa banget, terutama verbal abuse, ya. Walau mungkin persentasenya nggak sebanyak perempuan. Hal tersebut yang juga bisa memicu physical abuse sebagai balasan dari pihak suami.

Sedih memang membahas soal abusive marriage ini. Saya sendiri udah nulis banyak banget di blog ini soal toxic relationship dan sejenisnya. Sedih, miris, prihatin, karena yang mengalaminya adalah orang-orang yang saya kenal baik dan dekat.

Untuk kita yang telah dikaruniai pasangan yang baik akhlak dan agamanya, penyabar, pengertian, nrimo alias bersedia menerima dan menghargai kita dan keluarga besar apa adanya..

Bersyukurlah…

Banyak saudara-saudara kita yang rumah tangganya bagaikan neraka dunia. Alih-alih menemukan ketenangan dan ketentraman dalam diri pasangan, malah merasa ketakutan dan penderitaan tiap kali berdekatan.

Pernikahan, rumah tangga, nggak selalu seindah scenes di drakor atau film-film Hollywood. There are ups and downs. Marriage is not always about rainbows, butterflies, or cotton candy skies.

Tapi, selama kita dan pasangan berkomitmen untuk melewatinya bersama-sama, kembali pada pegangan hidup utama yaitu Qur’an dan Sunnah.. Maka tidak ada masalah yang terlalu berat untuk dihadapi, biidznillaah.

Remember, “Allah does not burden a soul beyond that it can bear” (2:286)

Benarlah bahwa memiliki pasangan yang shalih adalah satu dari sekian banyak perhiasan dunia. Heaven on earth. And family is a teamwork. Makin dahsyat badai, harusnya makin solid dan utuh ikatan itu.

Teruntuk teman-teman yang saat ini tengah menjalani kehidupan pernikahan yang tidak sehat, para korban KDRT yang masih bimbang untuk speak up dan step out dari hubungan beracun tersebut..

Semoga Allah menguatkan langkah kalian, menganugerahi kalian dengan kesabaran dan kelapangan hati. Karena saya tahu betul, tidak mudah untuk keluar dari lingkaran itu. Namun, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Anything is possible, with Allah’s permission.

Sometimes the hardest part isn’t letting go but rather learning to start over. But there’s always a first time for everything. If you never bleed, you’re never gonna grow, right?

Mintalah dibukakan jalan keluar atas segala permasalahan. Jika memang sudah mantap untuk mengubah masa depan dengan meninggalkan, semoga Allah mudahkan segala sesuatunya. You deserve better, Dear.

Semoga Allah senantiasa menghadirkan pasangan hidup yang selalu menyejukkan mata dan jiwa kita, sampai berkumpul kembali kelak di jannahNya. Aamiin.

Huffttt.. Sekian dulu “random thoughts” malam ini. Selamat rehat, kawan. Good-bye and good night ❤️

~ Jakarta, end of February 2021.. nobody said it was easy, they just said it’ll be worth it.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.