Thank You, Next

“Level tertinggi dari kecewa itu cukup tau, ga mau tau, dan ga mau kenal lagi.”

Beberapa waktu lalu, saya bikin polling kecil-kecilan di story IG dengan merepost cuitan di atas. Pollnya antara “yes or no” alias “setuju atau tidak”. Amazingly, 100% responden menjawab “yesss”.

I wonder, mungkin inilah fitrah manusia. Ketika merasa kecewa maka lebih memilih untuk menarik diri dari hal-hal yang membuat mereka kecewa.

Ketika kita losing our respect terhadap seseorang, kita lebih memilih untuk cukup tahu, dan tidak mau tahu lagi. Meski tidak semua mau dan mampu melakukannya.

Disappointment is another level of pain. That’s even worse than anger. When someone says, “Saya tidak marah, hanya kecewa”, you knew you’ve screwed everything up.

Memaafkan mungkin bisa ya, namun melupakan apalagi menerima kembali.. For me, that’s just another different thing.

Memaafkan, sama sekali tidak sama dengan melupakan apalagi menerima kembali. Kita bisa memaafkan, namun untuk melupakan, sometimes we need time. And sometimes, we never forget it at all.

The truth is, we never truly forget anything, we just get used to live with it. We just reach a stage to finally sit peacefully with things or situations we couldn’t handle or change.

When we finally accept something, we became familiar with it. But became familiar doesn’t mean we have to tolerate it to a level which can destroy us.

We need to set boundaries so people know where they are standing. We need to draw a fine line between being a kind-hearted person and having some self-respect.

“Let me be clear, my love is unconditional, but your presence in my life is not. The moment that you prove that your value of me does not measure up to my sense of self-worth, I’ll have no problem unconditionally loving the memory of you and moving on.” — unknown

Saya sendiri, ketika sudah dibuat kecewa berat oleh sesuatu atau seseorang, biasanya akan malas sulit untuk menjalin hubungan kembali. Apalagi jika sudah menyangkut kepercayaan. When it comes to trust issue, second chance seems so far away (to me).

Terlebih jika sudah berupa konsistensi di atas pola yang sama berulang-ulang kali. Sejuta kata-kata dan janji manis jadi tak berarti. Saya selalu berpegang teguh pada kalimat ini:

“I don’t trust words, I even question actions, but I never doubt patterns.”

Inilah mengapa (menurut orang-orang) saya seringkali tepat dalam memprediksi langkah yang akan diambil oleh seseorang dalam situasi tertentu. Cukup fokus pada satu hal: perhatikan polanya.

When people do it once, they will do it again. Begitu juga dengan kepercayaan. Sekali dengan mudahnya seseorang merobek kepercayaan yang diberikan, maka ia tak akan ragu untuk mengulanginya kembali.

And sadly, some people say sorry just ’cause they got caught.

Apalagi jika permintaan maaf dan janji untuk berubahnya karena tertangkap basah alias ketahuan. Wah, sangat diragukan sekali ketulusannya. Butuh masa yang panjang untuk membuktikan kebenaran penyesalan dan janji-janjinya.

Little did we know, sekali kepercayaan dirusak, maka butuh waktu lama untuk mengembalikannya utuh seperti semula. Dan prinsip serta ambang batas tiap orang berbeda-beda.

That’s why mengapa ada orang yang bisa menekan kekecewaan dan memaafkan pengkhianatan, namun ada pula yang tidak. Ada yang bisa dengan mudah melupakan, namun ada pula yang tidak. Simply because they see those things differently.

“The moment you lose respect for someone is the moment you realize that sometimes respect is more important than love, that once the respect is gone, the love slowly fades away, the passion evaporates and the spark burns out.

The moment you lose respect for someone is the moment you know you can’t get it back because it’s the moment you change the way you see them.

And once you change the way you see them, everything else changes including you because once you’ve lost respect for someone, you don’t really want them in your life.

You’re not the person who’s going to tolerate disrespect just because you love someone. Not anymore.”

— via thoughtcatalog.com

I believe that the opposite of love is not hate, it is indifference. Benci sih udah enggak, tapi tiap ketemu ya seperti nggak ada rasa aja. Nggak ada kedekatan atau something special seperti sebelumnya. Yup, seperti plat Jakarta, B ajah.

Ketemu atau denger namanya udah biasa aja. Nggak ada getaran tertentu yang istimewa, nggak ada lagi ikatan emosional yang dulu terasa berbeda. We turned into strangers once again, like we were before.

Nggak pernah juga mau tahu dan coba mencari tahu gimana kabarnya. Back to normal dan menjalani hidup masing-masing seperti sedia kala. Without trying to reconnect something which already dead.

Tentu banyak sekali pelajaran hidup yang dapat kita ambil dalam sebuah hubungan, bahkan dari yang telah berakhir sekalipun. Things that we are extremely grateful for.

Kita belajar tentang kekuatan, kesabaran, cinta, rasa sakit, hingga rasa kehilangan. After everything, we just wanna say thank you for the experience they gave us. Those lessons are priceless.

Ketika kita memutuskan untuk pergi dan membangun dinding pembatas antara kita dan mereka yang membuat kita kecewa, yang demikian bukan hanya spontanitas karena kita merasa terluka.

Namun hal tersebut juga merupakan upaya untuk menyayangi dan menghormati diri sendiri. Agar tak mudah terjatuh dan terluka lagi. Setting boundaries, it’s a form of self-love.

Ketika kita memutuskan untuk menerima mereka kembali tanpa ada rekonsiliasi dan perubahan perilaku, maka tanpa sadar kita telah membuka pintu agar luka itu datang kembali. We should prepare ourselves for the future pain and misfortune.

Pun jika kita telah memutuskan untuk memaafkan, merelakan, dan mengikhlaskan, maka tak ada kewajiban bagi kita untuk melupakan dan menerima kembali. Remember, forgiven, not forgotten.

Mengutip perkataan seseorang, “Kita bisa memberi maaf, tapi kita tak pernah bisa dipaksa melupa.”

Seiring berjalannya waktu dan bertumbuhnya diri, mungkin luka itu telah mengering, rasa kecewa dan benci berangsur menghilang. Namun untuk kembali dekat, akrab, dan percaya lagi seperti dulu…

Hmm, nggak deh, makasih. Thank you, next 🙂

~ Jakarta, end of May 2021.. ’cause when I’m done, I’m done.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Tumblr ]

Advertisement

One thought on “Thank You, Next

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.