Divorce is No Laughing Matter

Honestly..

Sering ngerasa risih sama mereka yang sengaja menjadikan perceraian sebagai bahan candaan dan ejekan. Like, someone’s life is ruined, someone’s future is wrecked, and still using it as a (lame) joke? Sorry, sama sekali nggak lucu.

Contohnya:

“Duren nih bro? DM aman?”
“Gak lama lagi sah jadi jomblo neh..”
“Jendes dong lo dikit lagi, asik pasti banyak yang antriii..”
“Kaakk.. Aku mau dong daftar, waiting list keberapa nih?”
“Kalo udah open CV kabarin ya, aku siap menanti..”

Bener-bener nggak habis pikir wong-wong model begini tuh empatinya ilang di mana ya? Apa emang udah nggak punya sejak lahir?

Man, perpisahan itu bukan hal yang gampang buat dihadapi. Pasti berat buat keduanya, apalagi udah ada anak. Pernah nggak bayangin ada di posisi anak yang ortunya bercerai? Dunia runtuh di mata mereka sejak hari itu. Life will never be the same again.

Apalagi jika kita sendiri yang ada di posisi sulit tsb. Mungkin buat kita proses cerai is so easy peasy, tapi buat pasangan belum tentu. Terlebih jika pasangan dan anak harus menghadapi trauma berat untuk melewati peristiwa ini.

Pantes nggak sih kita sedang dalam proses perpisahan tapi udah open recruitment tipis-tipis seolah-olah menjadi janda atau duda adalah sefruit achievement alias prestasi yang patut dibanggakan?

Belum lagi circle pertemanan yang seolah-olah turut menyambut gembira status lajang yang akan disandang dalam waktu dekat. Seakan sengaja normalize bahwa proses perpisahan adalah sesuatu yang lazim dan kembali berstatus lajang adalah hal yang keren.

“Here we are, the high quality jomblos. Jomblo yang (ngaku) keren, high qualified, dan layak diperebutkan.”

Meh.

Ketuk palu aja belum, udah celebrating freedom seolah-olah pernikahan itu cuma buat main-main. Punya anak main-main. Bercerai main-main. Membangun rumah tangga lagi main-main. Gagal lagi, ya udah, tinggal cari yang baru.

Remember, he is someone’s father, she is someone’s mother. Imagine being in their childrens’ shoes so you can imagine the pain and suffering they must go through.

Saya sendiri alhamdulillaah tidak pernah mengalami pahitnya perpisahan (baca: perceraian) dan semoga tidak akan pernah. Namun saya pernah menyaksikan orang-orang terdekat saya hancur karena perpisahan.

Perpisahan itu berat.. Berat sekali. Saya yang hanya mendampingi mereka dan tidak mengalami langsung saja dapat merasakan betapa pedih perpisahan itu. Meski kebersamaan itu diakhiri oleh kesepakatan berdua, tetap saja menyisakan luka.

Masih inget kan tulisan saya sebelumnya yang berjudul Another Side of Marriage Life? Itu saya nemenin sidang cerai di pengadilan agama aja sempat trauma ketika berada di ruang mediasi. Gimana yang menjalani sendiri?

Terlebih jika sudah hadir anak. My biggest concern in every divorce is them, the little ones. Mereka yang tak pernah bisa memilih untuk lahir di keluarga seperti apa. Yang tidak bisa menolak label “anak broken home”.

Hey darling, may I give you a little advice?

Jika memang saat ini pernikahan yang tengah dijalani qadarullah sangat toxic dan sulit untuk diperbaiki, please, tunda keinginan untuk punya anak lagi. Please, jangan menambah korban lagi. Enough. Cukup.

‘Cause in the end, yang paling hancur ketika sebuah pernikahan berakhir adalah anak. Berapapun usia anak ketika orangtuanya berpisah, pasti akan meninggalkan impact yang sangat besar. Dan akan berbekas pada inner child mereka kelak.

Lagipula nih ya, heran bener sayah sama mereka yang udah ancang-ancang ngantri paling depan untuk jadi the next (victim?) setelah proses perpisahan selesai.

Like heeeyyy, mereka aja baru mengalami kegagalan dalam berumah tangga, kenapa kelen malah tertarik untuk daftar? Daftar untuk gagal juga? Asli bener-bener nggak habis thinking.

Let them heal first. Biarkan mereka menyembuhkan luka dan memperbaiki diri dulu. Saya yakin dalam sebuah perpisahan, pastilah ada andil kedua belah pihak meski berbeda porsi. Jadi keduanya butuh waktu untuk menenangkan diri dan introspeksi. Bukan lantas buru-buru cari pengganti.

Seseorang yang cerdas lagi bijak, pasti akan berhati-hati menjatuhkan pilihan pada mereka yang pernah gagal dalam berumahtangga. Begitu juga dengan mereka yang pernah gagal, harusnya tak akan asal pilih karena tak ingin gagal lagi.

Namun, pernah gagal tidak berarti pasti gagal pula di pernikahan selanjutnya. Justru mereka yang belajar keras dari kegagalan, biasanya akan lebih berkomitmen dan berhati-hati karena tidak mau mengulang kesalahan yang sama.

Senada dengan satu tweet yang saya repost tempo hari. Yang intinya adalah,

“Seburuk apapun seorang laki-laki, bisa tobat ketika bertemu dengan wanita yang tepat.”

Kemudian tweet tersebut direply oleh seorang user,

“Sorry. We’re not rehab center.”

Jleb. Jleb. Jleb.

Jadi inget dulu seseorang pernah bilang, “Jangan menikah dengan orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri”.

Karena seseorang yang belum selesai dengan dirinya sendiri, pasti akan menimbulkan masalah baru di tahapan hidup selanjutnya. Dan ini berlaku buat laki-laki dan perempuan loh, ya. Nggak cuma buat laki-laki aja.

Tapi kalau kelen tetep keukeuh mau jadi the next ‘chosen one’ ya silahkeun.. Life is full of choice, right? But at least, have some dignity. Jangan jadikan ujian hidup seseorang sebagai bahan candaan apalagi ajang promosi. Malu atuh sama harga diri.

“Aelaahh, ribet amat cuma becanda doang. Berat amat idup lo!”

Justru karena hidup ini berat, tak patut bagi kita meremehkan kesulitan hidup orang lain dengan menjadikannya bahan olok-olokan. Divorce, separation, and life after loss are things you should never make fun of.

Cukup dengan berempati, menjaga hati dan perasaan mereka yang harus dijaga dengan cermat memilih tutur kata, sudah cukup kok untuk membuat kita menjadi manusia yang manusiawi.

Do not belittle someone’s problem just because you haven’t experienced it yet. Boleh jadi saat ini kita menertawakan, menjadikannya bahan guyonan, who knows in the next years we might be in their shoes?

Be empathetic. Be human. Be kind.

~ Jakarta, Juni 2021..terinspirasi dari sebuah tweet yang saya temukan pagi ini.

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisement

4 thoughts on “Divorce is No Laughing Matter

  1. “Seburuk apapun seorang laki-laki, bisa tobat ketika bertemu dengan wanita yang tepat.”
    Alias udah muak banget sama kata-kata ini. Siapapun gak akan berubah, kecuali mereka sendiri yang ingin berubah. Baik laki-laki, maupun perempuan.
    Huuffft, agak emosyii sama orang yang menyepelekan perpisahan :’)

    Liked by 2 people

    • Can’t agree more!

      Kenapa mengubah seseorang menjadi kewajiban kita jika memang mereka sendiri tak punya niat kuat untuk berubah?

      Kita mengubah diri sendiri jadi lebih baik aja nggak mudah, kok malah nambah PR 😃

      Liked by 3 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.