Trust Issues: Somewhere Between Love and Lies

“Trust is like a mirror. Once it’s broken, you will never see it the same again. And no matter how hard you try to put it back together, the cracks will always show”.

Jagad dunia maya akhir-akhir ini tengah diramaikan oleh munculnya web series yang diadaptasi dari sebuah novel. Novel terkenal yang asalnya dari sebuah tulisan di salah satu grup menulis di Facebook, yang sempat viral dua tahun lalu.

Tiap buka sosmed seperti Twitter, Facebook, Instagram, series tersebut hampir selalu trending. Teman-teman juga banyak yang membicarakannya. Salah satu potongan scene epicnya bahkan jadi bahan meme di mana-mana.

Saya sendiri sampai saat ini belum nonton. Selain karena udah pernah baca tulisan authornya langsung di Facebook, juga karena memang belum tertarik aja. Mungkin karena tema perselingkuhan bukan genre favorit saya.

Begitu juga ketika drakor dengan tema serupa sempat booming di awal pandemi dua tahun lalu. Walau banyak teman-teman yang nonton dan ikut dibikin geregetan, saya belum nonton juga sampai sekarang 🤭

Kisah nyata atau drama fiksi tentang perselingkuhan seringkali bikin kita merasa was-was dan insecure. Habis nonton bawaannya jadi curigaaaa aja sama pasangan. Mendadak kepo berat, serba curiga, dan misuh-misuh tanpa alasan.

Hayo, ngakuuuuu 😜

Ya namanya manusia.. Masih cemburu artinya masih cinta, kan?

Jangankan nonton film tentang perselingkuhan, wong kita lagi tidur trus mimpi diselingkuhi atau suami punya WIL aja begitu melek mata langsung auto kesel ke pasangan. Bibir manyun, wajah ditekuk, hati mangkel berat.

Yang kasihan kan pasangan kita, dia nggak ngapa-ngapain, sama-sama tidur, sebelahan lagi.. Eh bangun-bangun dicemberutin. Pas ditanya kenapa, jawabnya, “Aku rapopo alias gpp..”

Masih dengan muka dilipet dua belas. Ahahaha.

Sejujurnya, dibandingkan nonton sinetron atau drama tentang perselingkuhan, saya lebih ngeri-ngeri (tak) sedap ketika buka aplikasi Quora. Kenawhy? Karena banyaaak sekali kisah nyata tentang pengkhianatan dan perselingkuhan bertebaran di sana.

Ada kisah seorang istri yang sedang hamil, sang suami ketahuan booking cewek-cewek yang suka open BO via aplikasi MiChat..

Ada yang terpaksa jadi anak broken home karena kedua orangtuanya sama-sama berselingkuh dan mengabaikan anak-anaknya..

Ada yang berkali-kali diselingkuhi dan ditinggalkan, tapi masih berusaha bertahan karena udah terlanjur sayang (baca: bucin)..

Ada yang bertahun-tahun menjalin affair dengan teman sekantor padahal sama-sama sudah memiliki pasangan..

Ada yang diam-diam menikah di bawah tangan tanpa sepengetahuan istri karena selingkuhannya sudah terlanjur hamil duluan..

Ada juga yang ngaku terang-terangan bangga selingkuh sama suami atau istri orang karena lebih memacu adrenalin, simply because they “just wanna have fun”.

It’s sickening how this world is full of sick people.

Seolah pernikahan cuma buat status aja, kesetiaan nggak lagi ada harganya. Buat apa nikah kalau masih doyan celup sana sini? People like them should’ve stayed single for the rest of their lives.

Itu belum termasuk kisah-kisah nyata yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri, saya dengar langsung dari narasumber yang terpercaya, atau berupa curhatan teman-teman via inbox.

Pernah lho, habis dicurhatin teman soal suaminya yang diduga ada main dengan rekan satu team di kantor.. Kepala saya auto puyeng dan nggak mood ngapa-ngapain karena ikutan mangkel. Terbawa suasana, saudara-saudara. Hahaha.

Jadi nggak usah nonton tayangan bertema perselingkuhan pun saya udah kenyang oleh kisah-kisah serupa. Dan ini real terjadi di dunia nyata. But, bukankah drama di layar lebar atau televisi seringkali diilhami dari kejadian nyata?

Trust issues…

Sulit rasanya jika kita nggak merasa was-was atau minimal, terusik ketika melihat atau mendengar kisah tentang pengkhianatan. Sadar atau tidak, kita jadi kembali mempertanyakan kesetiaan pasangan.

As a normal human being, sangat wajar ketika kita menjadi lebih aware dan waspada akan hal-hal yang kita khawatirkan terjadi pada kita dan pasangan di masa depan. Naluri manusia memang begitu, bukan?

Kita jadi setidaknya bertanya-tanya, “What did he/she do behind my back?”

Saya sendiri pernah merasakan hal yang serupa. Tiba-tiba aja ketrigger cerita teman yang suaminya berselingkuh dan tega meninggalkannya demi perempuan lain. Mendadak muncul perasaan gloomy yang saya sendiri tak bisa menjelaskan secara persis apa penyebabnya.

Then I choose to talk to my partner. Semua perasaan cemas, curiga, insecurity, fear of being abandoned, manipulated, and taken advantage of, bahkan antisipasi jika hal yang dikhawatirkan itu akhirnya terjadi.

Semua saya utarakan tanpa ada satupun yang ditutupi. Dan saya tak merasa risih atau malu untuk membicarakan tentang apa yang saya rasakan saat itu.

So instead of blaming my partner or projecting my own fears and insecurities to him, I choose to openly speak about it. I’m not gonna hide or hold it back. Or pretending like everything’s fine while actually, it’s not.

Saya jadi teringat kata-kata seseorang soal trust issues dalam pernikahan, a few years back then..

“Tentu saya mempercayai pasangan saya. Tapi sangat bodoh dan naif jika saya mempercayainya 100%. Karena pasangan saya manusia biasa, bisa berbuat khilaf. Seperti halnya saya.”

Ketika pertama kali mendengar kata-kata itu, batin saya tergugah. Saat itu saya belum menikah.

Saya paham, ketika kelak saya memutuskan untuk mencintai, bahkan menikahi orang yang saya cintai.. Maka saya harus menyiapkan satu ruang khusus dalam hati ini untuk sebuah rasa kecewa.

Bukannya berharap untuk dikecewakan, namun bersikap waspada dan berjaga-jaga bagi saya sangatlah perlu. Agar ketika kekhawatiran itu menjadi nyata, kita tak terlalu dibuat kaget dengan realita yang ada.

Sebuah kesadaran bahwa yang kita nikahi ini hanya manusia biasa. Mereka bukan sosok sempurna tanpa cela. Mereka tidak maksum seperti halnya Rasulullaah. Mereka bisa berbuat salah dan berubah sewaktu-waktu. Maka persiapkanlah hati kita untuk saat yang tak diharapkan itu.

Tapi waspada dan berhati-hati, ya cukup sekadarnya aja. Nggak usah paranoid berlebihan. Nggak perlu bolak-balik cek HP atau tracking location karena curiga pasangan ada affair dengan orang lain.

Kalaupun pasangan kita berbuat dosa di belakang kita, berkhianat, dan membohongi kita.. Selama kita nggak tahu, ya itu urusan dia sama Allah.

Itu dosa dia sendiri dan dia akan mempertanggungjwabkannya kelak di hadapan Allah. Dan pasti Allah punya rencana sendiri untuk membongkarnya suatu saat, dengan caraNya sendiri.

Selama kita nggak tahu lho, ya. Beda urusan kalau ternyata kita pada akhirnya tahu. Tentu tiap kita berbeda jalan dalam menyikapinya, namun saya rasa semua memiliki satu kesamaan: runtuhnya sebuah kepercayaan.

Whether it’s friendship or relationship, all bonds are built on trust. Without it, you have nothing. Without it, it’s only a matter of time before relationships crumble.

Prinsip saya dalam mengelola rasa curiga dan kecemasan yang berlebihan pada pasangan adalah menyerahkannya pada Sang Pemilik hati, yaitu Allah Ta’ala. I stop worrying about the things which is out of my control. I let Allah handle them alone.

Pasangan kita bisa berlaku tak setia, diam-diam menjalin hubungan di belakang kita, dan dengan sadar melakukan itu semua. Bahkan tanpa rasa malu apalagi rasa bersalah.

Saya percaya..

Seorang suami atau istri bisa mengkhianati dan membohongi pasangannya, tapi.. ia nggak akan pernah bisa mengkhianati dan membohongi Allah.

They can deceive us, but they can never deceive Allah. They can hide everything from us, but from Allah, there is nothing they can hide. They can never runaway from the responsibilities.

Saya percaya..

Bahwa serapi-rapinya, secermat-cermatnya, sebaik-baiknya sebuah rahasia disembunyikan.. Suatu saat akan terungkap juga. In a (mysterious) way we never know how or when.

Ada aja gitu cara Allah membongkar sebuah rahasia. Manusia berencana, namun Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Maka jangan pernah merasa aman dari rencanaNya.

And never, ever, belittle your gut instincts.

Sebagai pasangan kita bisa ngerasain kok ada sesuatu yang nggak beres. Ada yang berubah, ada yang ditutupi, ada yang disembunyikan. Take a closer look and carefully read the signs.

Kadang hints itu udah ada di depan mata, tinggal kita aja nih mau tetap denial atau percaya pada kenyataan meskipun perih. Kalau saya sih sudah pasti pilih yang kedua. Sakit karena dikhianati tak sepedih hidup dalam kedustaan dan kepura-puraan.

I allow the truth to be the truth, no matter how much I might want it to be something else. Pretending or faking smiles are definitely not my expertise. And even if I can do that, I won’t.

Saya paling nggak bisa menyimpan rasa marah dan menyembunyikan kekecewaan. Apalagi pura-pura happy padahal hati gondok berat. My facial expressions are not gonna lie.

Saya percaya bahwa rasa sakit itu bisa sembuh, walau mungkin butuh banyak waktu. It will get healed, it will get better, biidznillaah. But living in a lie and staying with people who make us suffer, that’s even worse.

So, nggak perlu rasanya kita berlarut-larut dalam rasa curiga berlebihan pada pasangan. Waspada harus, tapi cemas dan merasa insecure terus-terusan? Ah, betapa ruginya hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran.

Biarlah Allah yang mengatur semua urusan hambaNya. Pasrahkanlah semua kekhawatiran itu kepada Dzat yang menggenggam hati-hati manusia. Karena hanya Dia saja yang bisa mengobati kegundahan dan kekecewaan, sekaligus memberi solusi atas semua permasalahan hidup.

Sekuat apapun kita menggenggam sesuatu, jika memang ia tidak ditakdirkan untuk kita.. Maka suatu saat pasti akan terlepas jua. Begitu pula sebaliknya. If something is destined for you, never in a million years will it be for somebody else.

You are precious. You are enough. And you deserve to love and be loved in return, without any lies or doubt. Jangan habiskan waktu untuk mencemaskan hal-hal yang belum terjadi, atau menangisi mereka yang telah pergi.

“If they were meant to be in your life, nothing could ever make them leave. If they weren’t, nothing in the world could make them stay.”

Even if you lose people who were once meant a lot to you, never consider it as a (huge) loss. They are valuable lessons which we need to learn in order to grow and move forward.

Stay focus on your mental health and set the standard for how you want other people to see and treat you. Start loving yourself more everyday and learning to know your worth.

You deserve a relationship with someone who never has you guessing where you stand with them, or where their minds were wondering when you sat right beside them.

Pada akhirnya, kita hanyalah manusia biasa dengan segala keterbatasan. Yang hanya dapat bergantung sepenuhnya pada Dzat yang Maha Mengatur Segalanya, termasuk membolak-balikkan hati. Maka ikatlah segala pengharapan itu dengan do’a dan ketaatan.

Hanya Allah tempat kita kembali, hanya di hadapanNya kita layak untuk tertunduk lemah dan berserah diri. Terus do’akan kita dan pasangan agar diberi ketetapan hati di atas kebenaran dan ketaatan.

Karena ketaatanlah yang mampu menyatukan dua manusia yang saling mencintai dalam ikatan yang langgeng lagi diridhaiNya, sedang dosa dan kemaksiatanlah yang akan mencerai-beraikannya..

~ Jakarta, one fine morning of January 2022.. after all, what does being in love mean if you can’t trust a person?

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest & Twitter ]

4 thoughts on “Trust Issues: Somewhere Between Love and Lies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.