Scammed!

Hello my dear readers..

How’ve you been lately? Lama nggak nyampah nulis di blog ini. Kangen :’)

Akhir-akhir ini saya lagi tertarik banget sama documentary series yang diangkat dari kejadian nyata. I always find stories based on true events are really really interesting. Habis nonton, terbitlah kepo alias langsung gugling detailnya gimana.

Salah satu tema yang sangat menarik bagi saya selain mystery-crime-thriller adalah tentang dunia tipu-tipu online. Famous series about online fraud like The Tinder Swindler, Inventing Anna, sampai yang baru banget ditonton yaitu Bad Vegan.

Series yang bikin gemes, kesel, sekaligus tepok jidat. Ya gimana nggak gemes, bisa-bisanya para wanita yang berpenampilan menarik, cerdas, sukses dalam karir, ditipu habis-habisan sampai kebelit pinjol alias pinjaman online. Bahkan ada yang sampai karirnya hancur dan harus berurusan dengan hukum.

Selain gemes sama korban, lebih gemes lagi sama the scammers, swindlers, con-artists, whatever you name it. Lihai dan licik banget memanipulasi dan menghancurkan mental korban-korbannya. Wajar sih kalau sampai ada yang trauma berat ketika sadar udah jadi korban penipuan.

Ada yang ketipu karena cinta aka bucin, ada yang ketipu persona ala-ala crazy rich yang very convincing alias sangat meyakinkan (actingnya), ada juga yang ketipu karena terpukau oleh gaya hidup yang serba wah. Yang aslinya mah pelsong alias palsu.

Sebagai orang yang mencoba berpikir logis dan cenderung skeptis, selama nonton dapat dipastikan saya selalu misuh-misuh dan nggerundel dalam hati.

“Lhooo kok isoooo…???”

Kok bisa gitu lho, gampang banget naruh rasa percaya sama orang yang baru dikenal. Hanya karena sering ditraktir atau diajak traveling sana sini. Sampai rela berhutang atas nama sendiri dengan alasan sayang dan kasian sama pacar. Duh.

First of all, pasangan yang nggenah dan jujur nggak bakalan minjem atau minta duit sama kita dalam jumlah besar lagi konsisten.

Apalagi baru aja kenal. Apalagi jika kita harus berhutang untuk bisa menolongnya keluar dari kesulitan. Apalagi ngutangnya atas nama kita pulak. That’s multiple red flags, Darling.

Tapi yang namanya lagi dimabuk asmara, biasanya hal-hal ganjil seperti itu nggak bakal bikin kita melek apalagi sadar. Bahkan ketika orang-orang terdekat kita udah mulai ngeh ada sesuatu yang nggak beres dan ngasih warning.

Alih-alih tercerahkan dan sadar, malah ujungnya kita menaruh curiga dan menuduh mereka nggak senang lihat kita bahagia. It’s like “you & me against the world” syndrome. Dunia serasa milik berdua, yang lain ngekost.

I keep wondering..

Why some people choose to ignore too many red flags when they start a relationship? Like, you can hear your inner guts tell you there’s something off about it and yet still live in denials? Why?

“Cintamu kepada sesuatu, membuatmu buta dan tuli..”

Oh ya, si penipu biasanya memainkan mind trick tertentu pada para korban. The victims, they were heavily gaslighted and manipulated. Mereka sengaja dibuat sangat bergantung pada si penipu dan sulit untuk lepas. ‘Til they reached the point where there is no escape, no way to get outta here.

Apapun yang si penipu katakan akan mudah dipercaya, walaupun perkataannya tidak masuk akal dan merugikan korban. Kayak orang dihipnotis aja, manut wae. Nah pas udah sadar, baru deh pengen jedotin pala sendiri ke tembok.

Ketika akhirnya tersadar, biasanya semua udah terlambat. Uang dan aset udah raib, nama baik udah tercoreng, hidup udah hancur, hati jangan ditanya.. Mau nyesel, nasi udah jadi bubur. Tukang buburnya juga udah naik haji.

Sebagian mereka juga menerima ancaman serius ketika ingin mengakhiri “permainan” dan melaporkannya ke pihak berwenang. Dilematis memang. Nggak dilaporin nyesek, tapi mau nekat lapor nanti khawatir terjadi hal yang lebih buruk.

Selain karena faktor cinta, ada juga yang tertipu dari persona yang ditampilkan di sosial media. Feeds dan stories yang enviable. Barang-barang serba bermerek, fancy clothes, fine dining di resto dan suite mahal, sampai kendaraan yang kaca spionnya aja bikin dompet merinding disko.

Just because they LOOK rich, doesn’t mean they ARE rich. Doesn’t mean they don’t have any financial problems or not struggling their ass to pay their debts. Atau jangan-jangan, semua kemewahan itu bayarnya pakai duit orang 🤭

Jadi teringat obrolan dengan seorang teman beberapa tahun lalu, yang pernah saya tulis di sini.

Jujur, pertama kali denger cerita tsb saya kaget banget. Bener-bener nggak nyangka, dibalik semua kegemerlapan itu ternyata ada hak-hak orang lain yang ditahan. Yang sebetulnya bisa ditunaikan, namun enggan.

Outsider seperti saya tahunya ya ia dari kalangan mampu, suaminya orang kaya. Makanya bisa beli barang-barang mahal, traveling kesana sini, lalu diposting di Instagram, Path, Facebook, dll.

But the true story behind all of those lavish lifestyles is not as shiny as her social media feeds. But thanks to that, saya jadi tersadar bahwa tak semua yang saya lihat, selalu seperti apa yang sebenarnya terjadi.

Long story short, trust issues saya terhadap life behind the curtain alias kehidupan di balik sosial media mulai meningkat. Saya nggak lagi mudah terpesona oleh citra dunia maya. Semenyilaukan apapun itu.

Ketika ada sesuatu yang kelihatannya uwow banget and (for me) feels too good to be true, saya malah cenderung skeptis dan meragukan keaslian ceritanya. Just dunno, my inner voice told me so..

Dan ketika fenomena kalangan “crazy rich” dengan segala kepalsuannya mulai terbongkar dan viral di sosial media, saya udah nggak kaget. Udah menduga aja, sih. Soalnya memang dari awal udah nggak wajar.

As far as I know, kalangan crazy rich beneran apalagi yang udah tajir dari lahir, nggak bakal norak flexing alias pamer harta dan pencapaian mereka di sosial media. Why? Simply because they were born with it, the silver spoon in their mouths.

Sesuatu yang familiar, sudah terbiasa dimiliki sejak dulu, rasanya nggak perlu untuk dipamerin. Buat apa? Pujian atau validasi dari warga dunia maya? They don’t need that.

Beda atuh sama OKB alias Orang Kaya Baru. Foto-foto di belakang setir mobil mewah, plus jam tangan yang nggak kalah mewah adalah template yang udah common banget buat nunjukin status sosial. Setidaknya menegaskan kedudukan di strata dunia maya.

Trus apa salah posting kemewahan atau pencapaian di sosmed? Ya nggak, lah. Asal bijak dan udah siap sama segala resikonya aja. Apaan tuh resikonya? Sok atuh cari aja di Gugel. Nanti saya ngomong dibilang iri atau nakut-nakutin 😁

Jadi inti dari coretan nggak penting ini adalah: jangan mudah percaya kata-kata manis dan tertipu oleh penampilan yang mentereng. Cek dan ricek sebelum melangkah lebih jauh. Cari tahu dari berbagai sumber yang benar-benar valid.

Jangan gampang termakan rayuan dan bualan. Yang katanya secret agent lah, korban persaingan bisnis berlian, diplomat yang lagi menyamar, pewaris tunggal seorang miliarder. Like, for real??

Logikanya aja, kalau iya kaya raya masa sampai minjem duit atau credit card? Ke kita lagi yang jelata dan baru dikenal. Nggak masuk akal banget.

Yang namanya orang kaya beneran, mereka pasti punya dana cadangan yang nominalnya tidak sedikit. Jadi nggak mungkin bener-bener tiris. Pasti ada back up plan untuk antisipasi kondisi emergency.

Nggak ada tuh ceritanya saldo rekening dikuras sampai limit, galau menghitung mundur tanggal gajian, atau belanja pas tanggal kembar buat dapet cashback dan gratis ongkir 😆

Apalagi di dunia maya, yang penggunanya bisa berpura-pura jadi siapa aja. Banyak yang pura-pura kaya padahal aslinya kang tipu yang banyak hutang. Banyak yang ngaku muda belia, single and free, padahal in real life udah berumur dan punya anak cucu.

Jadi inget satu lirik dari Savage Garden yang dulu membekas banget jaman saya SMA,

“But on the telephone line I am anyone
I am anything I want to be
I could be a super model or Norman Mailer
And you wouldn’t know the difference

On the telephone line, I am any height
I am any age I want to be
I could be a caped crusader, or space invader
And you wouldn’t know the difference
Or would you?”

Kenapa membekas? Karena buat saya kata-kata itu dalam artinya. Reminder supaya lebih berhati-hati kenalan sama orang, apalagi lewat telepon yang kita nggak tahu siapa sebenarnya lawan bicara di ujung sana.

Dulu masih jamannya kenalan pakai telepon, internet belum booming. Telepon rumah, telepon umum, telepon genggam. Telepon koin, telepon kartu. Siapa nih yang dulunya anak Wartel? Huehehe. Toss dulu kita.

In the end, hanya pada Allah saja kita memohon perlindungan dari segala makar dan kejahatan makhlukNya. Sepandai atau sewaspada apapun kita, jika tanpa pertolongan Allah, maka akan mudah bagi kita untuk percaya dan termakan rayuan para penipu tersebut. Memang harus banyak-banyak dzikir ketika berselancar di internet. Godaannya subhanallah..

Sikap skeptis dan nggak mudah percaya sama orang itu ada untungnya juga, terlebih ketika berinteraksi di dunia tipu-tipu alias internet. Berburuk sangka sih nggak, lebih ke hati-hati dan waspada aja. Jangan sampai salah percaya, apalagi dikhianati. Karena mereka yang paling dekat di hati, yang berpotensi untuk menyakiti dan menggores luka paling dalam.

Tetaplah menebar kebaikan pada sesama. Tapi jangan abai dalam membaca tanda bahaya. Baik sama orang itu bagus, tapi jangan lupa baik sama diri sendiri juga, ya.

Karena pada akhirnya, tempat kembali paling hangat dan nyaman adalah diri sendiri. You deserve all the kindness you give to others. So give it to yourself first.

Be kind and gentle with yourself, the only person you’ll spend the rest of your life with. The only place where you can find solace after everything you’ve been through.

Happy weekend all, let’s strive for the latest days of this blissful month!

~ Cirebon, selepas Subuh di pertengahan Ramadhan, April 2022..

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest & Pinterest ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.