Dear Single Mothers…

took-the-leap

Selalu salut dengan para ibu single fighter, yang berjuang untuk menafkahi, mendidik dan membesarkan anak-anaknya seorang diri, dengan apa yang mereka punya.

Don’t know why, but brave and headstrong women always fascinate me. Especially those single Moms. They are no ordinary women. They are the special ones.

Continue reading

But to You, I Am a Monster

lil-boy

“Would you be quiet? I am talking to my friend!”,

I snap at my 8-year old son,
I have just arrived home – I feel exhaustedly spent,
He immediately stops his chatter whilst looking fairly stunned.

My friend on the other line receives my full attention,
I laugh at her jokes and sympathise at her problems,
I am her good friend – I am near perfection,
Always ready to lend a hand – I can’t be more awesome.

Continue reading

Saat Memberi Saat Tidak

Children holding heartsymbol

Pagi ini ketika berselancar di linimasa Facebook, saya menemukan sebuah tulisan yang sangat menggugah karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim berikut ini:

“Seorang ibu memasuki minimarket bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Saya tidak memperhatikan dengan baik. Yang satu, kira-kira kelas 4 SD. Satu lagi mungkin TK atau SD kelas 1. Begitu masuk, ibu tersebut segera mengucapkan dua kata, “Nggak… Nggak….” sebagai isyarat larangan beli bagi kedua anaknya yang langsung berbelok ke tempat es krim.

Anaknya yang kecil segera menunjukkan reaksi spontan, hanya sepersekian detik (barangkali tidak sampai satu detik) dari kata “nggak” yang terakhir diucapkan ibunya, dengan menangis keras; melengking, memaksa….

Tak perlu waktu lama bagi anak itu untuk menangis. Ibunya segera memberi reward untuk tindakan anak mempermalukan orangtua. Ia mempersilakan anaknya mengambil es krim. Hampir saja tangisan kedua pecah ketika memilihkan es krim yang lebih murah dibanding pilihan anak. Tetapi tangisan itu segera berubah menjadi perayaan kemenangan yang ditunjukkan kepada kakaknya, “Dibeliin toh, Mbak….”

Sebuah tragedi yang sempurna.

Saya keluar dari mini market dengan hati galau; gelisah membayangkan perilaku kedua anak tersebut di masa-masa yang akan datang. Berapa banyak ia belajar menerima hadiah dan penguat untuk setiap tindakannya mengamuk, memaksa, menangis keras untuk membuat orangtua tak berkutik, atau tindakan lainnya yang bersifat mempermalukan orangtua demi meraih apa yang diinginkan. Berapa banyak perilaku serupa yang ditunjukkan anak ketika ia tidak mau mengikuti aturan maupun anjuran orangtua.

Betapa kita perlu ilmu dalam mendidik anak. Betapa kita perlu kesabaran dan mendahulukan yang lebih penting daripada sekedar gengsi maupun ketenangan sesaat.”

Saya pernah bertemu dengan tipe orangtua seperti ini. Apapun permintaan anak, meski terkadang berlebihan dan tidak masuk akal, dikabulkan. Harus saat ini dan tidak ada kompromi. Pokoknya harus, harus, harus!

Continue reading