Kriteria Sekolah Idaman: Ramah Anak, Terbuka & Profesional

image

Pagi ini saya bersama suami mengantar anak-anak ke sekolah. Selesai mengantar Abang Harits, kami menuju sekolah Kakak Afra.

Di sana, saya banyak bicara dengan gurunya. Tentang perkembangan Afra selama di sekolah, adab dan akhlaknya, apa saja yang perlu dimotivasi di rumah, interaksi dengan teman-temannya.

Obrolan kami sampai pada..Read More »

Advertisement

Orangtua Digital

far and away

Suatu malam di stasiun kereta api Tugu, Yogyakarta. Seorang ibu sedang menebar senyumnya, entah dengan siapa. Tapi bukan kepada orang di sekelilingnya, bukan pula kepada anaknya yang masih balita di sampingnya. Tampak sangat asyik. Diselai lorong sempit, suaminya duduk hamper berhadapan, tepatnya sejajar dengan anak lelaki mereka, juga tengah asyik dengan gadget ukuran cukup lebar di tangannya. Mungkinkah suami-istri sedang itu asyik bercanda melalui gadget? Sepertinya tidak. Ekspresi mereka menunjukkan keasyikan yang berbeda.

 

Anak lelakinya sesekali merajuk meminta perhatian, tetapi segera ditepis oleh ibunya, bahkan kadang agak ketus. Anak itu masih berusaha merebut perhatian ibunya, tapi tetap gagal. Lalu ia mencoba lagi meraih perhatian ayahnya. Tetap sama: gagal. Beberapa saat kemudian ibunya tiba-tiba dengan wajah penuh semangat berbicara kepada anaknya, meminta berdiri, lalu berpose sejenak untuk diambil gambarnya melalui gadget. Belum puas, sekali lagi anaknya diminta bergaya. Senyum lebar merekah dari keduanya. Tetapi sesudahnya, ibu itu kembali tenggelam dengan gadegtnya, membiarkan anak lapar perhatian.Read More »

Anak Kita: Antara Ujian dan Penyejuk Mata

lovely bouquet of flowerss

Ahad kemarin, saya berkesempatan untuk menghadiri bincang-bincang seputar dunia pendidikan anak dan homeschooling bersama Abu Luqman, salah satu penyiar acara rutin anak-anak di radio Rodja tiap Ahad pagi. Dalam kesempatan tersebut beliau menceritakan sebuah kisah, yang kurang lebih isinya seperti ini:

Ada sebuah kisah nyata, tentang seorang laki-laki yang hidup berkecukupan dan memiliki karir cemerlang. Suatu ketika saat karirnya sedang bagus-bagusnya, ia mendapat kabar bahwa ayahnya tengah sakit keras, sehingga ia memutuskan untuk pulang kampung. Perusahaan tempatnya bekerja hanya memberi izin selama 3 hari untuk pulang mengurus ayahnya yang sakit.

Namun setelah 3 hari ia tidak kunjung masuk kantor, bahkan sampai berminggu-minggu. Setelah berminggu-minggu tidak masuk kantor akhirnya ia dipecat, hilanglah karir yang telah dibangunnya dengan susah payah. Perlu diketahui, ia juga sudah memiliki keluarga berupa anak dan istri.
Read More »

Yang Tak Pernah Terulang

special..

Ada orang tua yang prioritas hidupnya mengejar materi terus-terusan. Katanya, supaya bisa menyekolahkan anak mereka di sekolah termahal, terbaik, ternama. Mampu memberikan segala fasilitas dan kenyamanan dengan kualitas nomor satu.

Terlalu sibuk, sampai-sampai mereka lupa, bahwa sejatinya pendidikan utama bagi seorang anak itu berasal dari keluarganya sendiri. Sekolah terbaik adalah rumahnya sendiri, dan guru terbaik adalah orangtuanya sendiri.

Read More »

Cinta Tanpa Syarat

“Setelah melahirkan dan mempunyai anak, saya baru menyadari, ada jiwa kecil rapuh yang membutuhkan saya, tak peduli seperti apapun bentuk tubuh saya. Ada manusia mungil yang selalu ingin saya sayang, tanpa pusing seperti apa penampilan saya.

Untuknya, saya adalah segalanya. Baginya, sayalah cinta. Saya kemudian terpekur. Cinta miliknya begitu murni dan tak bersyarat…

‎Dan senyumnya seakan menyadarkan saya bahwa ia akan selalu mencintai saya, apapun yang terjadi. Tak perlu diet keras dan berusaha kembali langsing seperti sedia kala, untuk dapat menyayangi dan disayanginya. Saat saya menghirup wangi tubuhnya, batin saya pun tergugah.Read More »