Cinta Sesungguhnya

Cinta setelah pernikahan, adalah cinta yang sesungguhnya. Cinta yang jujur, cinta yang nyata, cinta yang tanpa kepura-puraan. Kesejatian cinta teruji lewat pernikahan dan komitmen yang dibuat bersama.

Mungkin banyak yang menyatakan cinta, memuja dan ingin menjalin hubungan lebih dekat. Tapi pada akhirnya, hanya satu saja yang cintanya terbukti dan teruji.

Yang bersungguh-sungguh dalam cintanya. Yang dengan sepenuh hati tulus mengasihi. Yang ingin menjadi bagian dari hidup, dalam suka dan dukanya. Yang cintanya tidak hanya sebatas kata. Tanpa berusaha mewujudkannya dalam realita.

Di hari ia berkata, “Every word I say it’s true, this I promise you..”.

Tidak hanya padamu, tapi juga di hadapan saksi dan wali. Juga di hadapan Sang Maha Pencipta. Betapa agung dan sucinya janji itu. Begitu kuat dan mengikat. Teringat pesan ayah ketika suami meminta restu beliau dulu,

“Tolong jangan sia-siakan putri saya..”

Dan kalimat itu begitu lekat di benaknya, sebagai sebuah janji dan tanggung jawab yang ia sanggupi pada ayah saya. Mitsaqon gholizho. Sebuah perjanjian yang kuat.

Cinta sejati. Sekarang saya mengetahui apa itu kesejatian cinta, setelah menikah. Tidak sesederhana yang dikira, namun juga tidak serumit yang dipikirkan. Setelah menikah, akan terlihat siapa orang yang kita nikahi itu sesungguhnya.

You can’t keep pretending yourself to be someone you are not from the moment you wake up ’til you close your eyes at night. Not in this thing called marriage. Sooner or later, he or she will find the real you.

Dalam kesakralan sebuah pernikahan, ada tanggung jawab yang harus dipenuhi.

Ada jiwa yang terasa utuh dan lengkap. Ada ketulusan yang tidak dapat dipalsukan. Ada kedekatan emosional yang tidak dapat dijelaskan. Ada komitmen yang dibuat untuk menjaga kelanggengan pernikahan. Ada perasaan memiliki yang menentramkan. Ada kebahagian dan kenyamanan yang tidak dirasakan ketika cinta itu belum halal dan resmi.

Jangan berikan kesucian cinta itu pada yang tidak berhak. Cinta sejati meminta satu syarat, yaitu penghalalan berupa pernikahan. Tak peduli apapun yang telah ia berikan. Semanis apapun rayuan dan kata-kata indah yang telah ia ucapkan. Semuanya tak berarti tanpa kesungguhan.

Dan ketika ia memilih mundur ketika kesungguhannya dipertanyakan, maka itu adalah sebuah tanda. Bahwa ia bukan untukmu. He or she is just not that into you. Not the right one worth fighting for.

Prinsip yang saya pegang teguh ketika belum menikah dulu, 

“Jika ia benar-benar mencinta karena Allah, maka ia akan mencinta dalam keridhaan-Nya, yaitu mencinta yang telah halal baginya..”

~ Jakarta, just another thoughts of mine, June 2011, 28 minutes past midnite

© aisyafra.wordpress.com

[ image source: FlickR ]

One thought on “Cinta Sesungguhnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s