12 Tahun Pernikahan

“Love is not a place to come and go as you please. It’s a house we enter in and commit to never leave.” -Warren Barfield

Pagi ini saya, suami, dan anak-anak menghadiri pesta pernikahan seorang teman. Setelah acara usai dan kami sampai di rumah kembali, baru teringat bahwa tanggal ini bertepatan dengan usia 12 tahun pernikahan kami.

“Hari ini kan hari jadi kita, ya? Jam 12 siang, pas nih lagi banyak-banyaknya tamu..”

“Eh iya, ya. Hehe udah 12 tahun aja…”

12 tahun menikah, gimana rasanya?

Nano-nano pastinya, tapi alhamdulillah banyak sekali hal yang patut untuk disyukuri. Hal-hal yang mungkin tidak akan kami temui dan rasakan, selain di “rumah” yang bernama pernikahan ini.

Orang bilang, semakin lama menikah rasa itu lambat laun akan berubah. Rasa apa dulu nih? Rasa yang terpendam alias buried flavour, atau rasa yang dulu pernah ada alias once existed flavour? πŸ˜„

Kalau perubahan rasa, jelas ada. Dari yang tadinya kekasih hati, pacar halal, sekarang lebih ke teman hidup, sahabat sehati dan sejiwa dalam menapaki lika liku kehidupan.

Segala kebiasaan jelek kita, dia udah paham. Hal-hal yang bisa bikin kita bete, kesel, nyengir kuda, sampai senang luar biasa. Dia udah tahu banget luar dalemnya kita.

Muka bantal baru bangun tidur, masih ileran, mata bengkak hasil begadang semaleman karena anak sakit, dia udah hapal di luar kepala. Angle paling nggak bangetnya kita, unedited, tanpa polesan filter atau presets.

Begitu juga dia ke kita. Nggak ada yang (bisa) ditutup-tutupi. Sepandai-pandainya seseorang menyimpan rahasia, insting pasangan adalah sesuatu yang tidak bisa dianggap sebelah mata.

Bagi saya, terus berpura-pura dalam pernikahan adalah sebuah kemustahilan. Selain karena memang nggak jago akting, ya susah aja gitu mau palsu-palsu. Nggak bisa terus terang dan all out dalam suatu hubungan itu menyiksa, lho.

Salah satu tanda pernikahan yang sehat di antaranya adalah bebas menjadi diri sendiri, lepas dari bayang-bayang orang lain, termasuk bayangan mantan. Uhuks.

A special kind of relationship when we feel secure, loved, and appreciated the way we are.

Nggak terus dituntut harus jadi suami atau istri seperti fulan atau fulanah. Nggak ngerasa inferior dan kurang berharga dibandingkan pasangannya. Nggak ngerasa beda kasta karena status sosial atau ekonomi.

Dan salah satu tanda lain dari pernikahan yang sehat adalah kita makin mampu untuk berdamai dengan keadaan, dengan diri sendiri. Kita lebih legowo untuk menerima diri kita dan pasangan, apa adanya.

Kita nggak perlu pusing-pusing mikirin penilaian orang terhadap hubungan kita dan pasangan. Mesra atau tidak, harmonis atau tidak. Karena cinta ini milik kita, cukup kita yang rasa, bukan mereka.

Kita juga nggak perlu repot bikin konten pencitraan kesana sini bahwa love life dan rumah tangga kita sukses dan bahagia. Karena lagi-lagi, bahagia ini milik kita, kita yang rasa, bukan mereka.

Makin lama nikah, makin kenal satu sama lain, makin tambah ngerti apa aja yang pasangan suka dan nggak suka. Makin lebih bisa menghindari melakukan sesuatu yang bisa menyinggung atau menyakiti hati pasangan.

Saya percaya bahwa nggak ada pernikahan yang bebas konflik, yang ada hanya pernikahan yang terus menerus belajar dan memperbaiki diri demi keutuhan pernikahan itu sendiri. Atau justru sebaliknya.

Nggak ada jaminan juga bahwa setelah lewat 10 tahun, 20 tahun, bahkan setelah 30 tahun, tanda bahaya itu sudah lewat. Pernikahan merupakan proses adaptasi seumur hidup.

Dan dalam proses itu, banyak sekali hal yang mungkin terjadi. People change, as well the commitment between them both. Jadi jangan pernah menafikan kemungkinan bahwa rasa dan manusia bisa berubah.

Ketidaksetiaan, perilaku kasar dan abai yang sulit berubah, tidak terpenuhinya hak dan kewajiban, minimnya rasa takut terhadap Allah, terus bergelimang dalam maksiat dan dosa, bisa jadi satu dari sekian banyak faktor mengapa perpisahan itu mungkin terjadi.

Sebagai manusia kita hanya wajib berusaha sesuai apa yang kita sanggup untuk tetap erat menggenggam apa yang kita miliki saat ini, melakukan yang terbaik. Then let Allah do the rest.

Namun jika akhirnya takdir Allah berkata lain, nyatalah bahwa memang ia bukan jodoh kita. Dan ketetapan Allah, pastilah yang terbaik. He may have save the best for last, for you.

Menua bersama, boleh dibilang adalah goals tiap pasangan suami istri. Sampai tua tetap mesra, tetap setia, tetap perhatian, tetap asyik ngobrolin apa aja, tetap jadi sahabat terbaik dalam segala hal.

Dan alangkah indahnya jika kebersamaan itu akan berlanjut hingga masa di mana kita menapakkan kaki pertama kali ke dalam surga.

Saya pernah iseng berandai-andai..

“Jika nanti suami masuk surga duluan, lalu saya masih ketinggalan di belakang, kira-kira seperti apa ya rasanya?”

Karena di dunia biasa sama-sama, kemana-mana berdua, trus kemudian harus berpisah. Pasti sedih nggak bisa bareng-bareng. Saya yang sedih sih lebih tepatnya. Namanya juga perempuan, suka kejauhan mikirnya πŸ˜‚

Seiring bertambahnya usia pernikahan, saya makin sadar bahwa pesona fisik bukanlah segala-galanya. Ketika kita sudah tua, sudah muncul keriput di sana sini, sudah banyak penyakit yang menghampiri…

Jika kita hanya dihargai dan dicintai sebatas apa yang terlihat dari raga, bukan tak mungkin rasa dalam pernikahan itu akan memudar bersamaan dengan memudarnya keelokan fisik kita.

Sebaliknya, jika seseorang mencintai kita tulus karena keimanan, kebaikan hati dan perilaku kita, maka perubahan ragawi tidak akan berarti apa-apa.

They used to look deep down into your soul and still look at you that way for countless times..

Pernah di suatu sore, saya dan suami duduk antri menunggu giliran di sebuah rumah sakit. Kalau nggak salah waktu itu pas mau USG hamil anak keempat.

Tiba-tiba ada sepasang kakek dan nenek yang baru datang dan ikut mengantri. Sang kakek dengan sabar membantu dan menuntun sang nenek yang terlihat kesulitan untuk berjalan..

“Kalau lihat pasangan sampai tua kemana-mana berdua gitu, rasanya gimana gitu ya.. Semoga sampai tua kita bisa tetap sama-sama ya..”

“Aamiin, semoga sampai surga juga ya…”

Tak terasa 12 tahun pertama sudah terlampaui. Banyak mimpi dan pencapaian yang berhasil kami lewati. Susah senang, air mata duka dan bahagia, kerikil-kerikil tajam dalam episode hidup, telah kami lalui bersama.

Sunggu perekat terkuat dalam sebuah pernikahan bukanlah semata karena cinta, tapi iman dan ketundukan kepada Allah. Saling bantu-membantu dalam ketaatan, saling memberi nasehat dan mengingatkan ketika pasangannya lalai dan terlupa.

Perjalanan masih panjang, sedang kami baru saja mulai. Masih banyak tantangan membentang di hadapan. Membesarkan anak-anak, mendidik mereka, mengantarkan mereka ke gerbang kehidupan selanjutnya, dan lain sebagainya.

Setelah 12 tahun, do’a kami tetap sama, agar mitsaqan ghalizha ini tetap utuh, kukuh, dan tak terlepas. Sehidup, sesurga, selamanya. For the rest of our life.

Insya Allahu Ta’ala ❀

~ Jakarta, August 18, 2019.. “I am someone else when I’m with you, someone more like myself..”

Β© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest & Pixabay ]

8 thoughts on “12 Tahun Pernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.