Saudariku, Andakah Wanita Shalihah Itu?

morning flowers

“Maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisaa: 34)

Keimanan, itulah landasan utama untuk menjadikan seseorang sebagai orang yang shalih. Sehingga, secantik apapun seorang wanita, sekaya apapun dia, sebaik apapun tingkah lakunya, jika dia bukan orang yang beriman, maka dia jelas bukan wanita shalihah.

Wanita shalihah adalah wanita yang beriman kepada Allah sebagai Rabb-Nya, beriman kepada Muhammad Shalallaahu ‘alaihi Wasalam sebagai nabi dan rasul, dan meridhai Islam sebagai agama. Keimanan ini akan nampak pengaruhnya secara lisan, amalan dan keyakinan.

Wanita shalihah adalah wanita yang bertauhid kepada Allah, beribadah hanya kepada Allah tidak kepada yang lain, menjauhi kesyirikan dan berbagai sarana yang menghantarkan pada kesyirikan.

Wanita muslimah yang shalihah akan selalu menjaga shalatnya. Karena shalat adalah hak Allah terbesar setelah tauhid. Dan shalat adalah batas pemisah antara keimanan dan kekufuran, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

“Maka wanita-wanita shalihah adalah wanita-wanita qanitaat, yaitu yang taat kepada Allah, melaksanakan kewajiban mereka yang berkenaan dengan hak-hak Allah dan hak-hak suami mereka.” (Fathul Qadir)

Seorang wanita shalihah akan selalu berusaha menaati suaminya, selama bukan dalam perkara maksiat. Namun jika suami memerintahkan perkara maksiat, maka tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk pun dalam bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

“Seandainya aku boleh memerintah seorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya akan kuperintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya.” (Riwayat at-Tirmidzi dll, dishahihkan al Albani dalam ash-Shahihah)

Wanita shalihah memiliki perangai yang indah, tutur kata yang baik, pembawaan yang tenang, tidak tergesa-gesa, lemah lembut, dan berbagai sikap dan perilaku lain yang menunjukkan akan keindahan akhlaknya. Sungguh akhlak yang baik akan menjadikan seseorang dicintai oleh Allah.

“Tidak ada sesuatu pun yang diletakkan di timbangan yang lebih berat daripada akhlak yang baik. Dan sungguh orang yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang banyak puasa dan shalat.” (Riwayat at-Tirmidzi dishahihkan oleh al-Albani)

Seorang wanita shalihah akan senantiasa berusaha menjaga diri dan kehormatannya dari perkara yang keji. Maka ia senantiasa menutup auratnya di hadapan laki-laki yang bukan mahram-nya dengan pakaian yang memenuhi syarat syar’i.

Seorang wanita shalihah akan selalu berusaha menjaga dan mengurusi rumah suaminya, terutama ketika ditinggal pergi oleh suami. Dia tidak akan mengizinkan seorangpun masuk ke dalam rumah kecuali atas izin suaminya.

Wanita shalihah juga akan menjaga dan memperhatikan anak-anak suami. Dia akan mengurusi dan mendidik mereka dengan sebaik-baiknya. Dia akan sadar dan yakin, jika anak-anak bisa menjadi shalih dengan didikannya, maka dialah yang pertama kali memetik kebaikannya.

Wanita shalihah juga harus menempatkan dirinya sebagaimana mestinya. Dia menghormati dan menghargai suaminya sebagai pemimpin rumah tangga. Wanita shalihah tidak menganggap dirinya lebih tinggi dari suami, meskipun secara materi, kedudukan nasab, pendidikan atau secara umur, si istri berada lebih tinggi di atas suaminya.

Wanita shalihah senantiasa berusaha menyenangkan suaminya dengan sikap dan perilakunya, dengan penampilannya, juga dengan perkataannya. Jika suaminya marah, maka ia berusaha menenangkan suaminya. Wanita shalihah selalu mencari keridhoan suaminya dengan sesuatu yang tidak bertentangan dengan syari’at.

Rasulullah pernah ditanya, siapakah wanita yang paling baik? Beliau bersabda,  “Yang menyenangkan suami jika dipandangnya, taat jika diperintah olehnya, dan tidak menyelisihi suami pada urusan diri dan hartanya dengan sesuatu yang dibenci oleh suami.” (Riwayat Ahmad, an-Nasai, dishahihkan oleh al-Albani)

Karena keshalihannya, hati seorang wanita shalihah tidak akan terpaut dengan dunia. Ia akan mengikatkan hatinya kepada akhirat. Ia sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, dan bukan tujuan utama. Karena tujuan utama adalah kehidupan akhirat yang kekal nan abadi.

Dengan kesadaran semacam ini, wanita shalihah tidak akan silau dengan dunia, tidak akan merasa iri dengan dunia yang dimiliki orang lain. Dia tidak akan banyak menuntut dunia kepada suami, namun dia akan berusaha membantu suami menggapai akhirat.

Wanita shalihah juga akan selalu memperhatikan ilmu, karena keshalihan seseorang tidak mungkin diwujudkan begitu saja tanpa adanya pengetahuan tentang agama Islam. Terlebih ia adalah sekolah atau madrasah pertama bagi anak-anaknya.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki ada kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan ia tentang ilmu agama.” (Muttafaq’alaih)

Maka, raihlah keshalihan itu dengan ilmu, dan berdo’alah kepada Allah untuk menganugerahkan keshalihan. Karena wanita shalihah adalah wanita yang diberi taufik oleh Allah kepada keshalihan…

~ Diketik ulang dari suplemen majalah Nikah Sakinah: Wanita Shalihah Dalam Timbangan As-Sunnah, volume 9, no. 3, Juni-Juli 2010.

© aisyafra.wordpress.com

 [ image source: Tumblr]

5 thoughts on “Saudariku, Andakah Wanita Shalihah Itu?

  1. Pingback: Lelaki Shalih Itu.. | So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s